Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Mendagri Tutup Kriyanusa 2026: Pasar Kriya Dunia Gencar, Indonesia Harus Maksimalkan Aset Budaya

EkonomiHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Nasional
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mendagri Tutup Kriyanusa 2026: Pasar Kriya Dunia Gencar, Indonesia Harus Maksimalkan Aset Budaya
BAGIKAN:

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menutup Kriyanusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Rabu, 30 September 2026, dengan sorotan tajam pada potensi ekonomi global sektor kerajinan yang mencapai 3.000 miliar dolar AS. Acara yang berlangsung selama lima hari, 26-30 September, tersebut digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) sebagai panggung promosi produk kriya dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari seluruh penjuru Nusantara. Bagi para pelaku industri kreatif, penutupan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sinyal peringatan keras bahwa pasar internasional sedang dikuasai kompetitor kuat. Data yang dipaparkan menunjukkan dominasi negara-negara Asia lainnya dalam rantai nilai global.

Tito mengungkapkan fakta mengejutkan di podium penutupan: pada tahun 2026, uang yang beredar dari sektor kerajinan dunia sekitar 3.000 miliar dolar AS. Angka fantastis ini, lanjutnya, masih banyak digarap oleh Cina, India, Vietnam, dan Filipina. Keempat negara tersebut dinilai berhasil memaksimalkan kapasitas produksi kerajinan tangan dalam skala masif. Sementara itu, Indonesia memiliki modal intrinsik yang belum sepenuhnya termonetisasi optimal. Kekayaan budaya, keberagaman motif, dan keunikan produk lokal menjadi kekuatan diferensiasi yang masih terbuka lebar untuk dieksploitasi secara komersial.

"Potensi Indonesia sangat luar biasa untuk kerajinan. Pada tahun 2026 itu lebih kurang uang yang beredar dari sektor kerajinan dunia itu sekitar 3.000 miliar dolar," ujar Tito dalam kesempatan itu. Ia menekankan bahwa ragam produk Indonesia sangat kaya, mulai dari tenun, kain bermotif songket, kerajinan kayu, hingga perhiasan yang dikenal karena nilai kreatifitasnya yang tinggi. "Kita melihat sendiri bagaimana ragam kerajinan kita. Dari yang tenun, kain, motif songket, dari kayu, kerajinan perhiasan, kerajinan tadi banyak sekali yang sangat kreatif," sambungnya. Varietas ini harus menjadi senjata utama untuk bersaing di kancah global, bukan sekadar dipamerkan di dalam negeri.

Sebagai penutup rangkaian acara, Tito memainkan angklung secara serentak bersama para tamu undangan untuk mengiringi lagu daerah, sebuah simbolisasi harmoni budaya yang ia tekankan sebagai identitas bangsa. "Nasib bangsa ini untuk kerajinan bisa dipercaya di tingkat dunia di tangan kita semua, di tangan Ibu-Ibu [pengurus Dekranas dan Dekranasda] sekalian," tegasnya. Anjuran ini ditujukan kepada jajaran pengurus Dekranas dan Dekranasda agar terus mengoptimalkan potensi tersebut. Bagi Tito, pengembangan industri ini tidak hanya soal laris di pasar, tetapi juga menjadi instrumen pelestarian identitas budaya di tengah derasnya arus homogenisasi produk impor.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Menteri UMKM Maman Abdurahman beserta jajarannya, Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian, serta para ibu anggota Seruni Kabinet Merah Putih. Rangkaian acara juga menampilkan fashion show yang diikuti Ketua Dekranasda dari 32 provinsi, menunjukkan standar estetik produk daerah yang terus naik kelas. Tito akhirnya menutup acara dengan doa dan sapaan hingga Kriyanusa 2027. "Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, secara resmi atas nama pemerintah, saya menutup Kriyanusa Tahun 2026 dengan baik dan lancar. Dan sampai jumpa di Kriyanusa 2027," tandasnya. Bagi UMKM nasional, agenda ini menjadi pengingat bahwa validasi dari tingkat kementerian adalah modal penting untuk penetrasi pasar ekspor yang lebih luas.

Analisis Redaksi

Angka 3.000 miliar dolar AS untuk sektor kerajinan global bukan sekadar statistik, melainkan peta jalan bisnis yang belum ditambang Indonesia secara maksimal. Dominasi Cina, India, dan Vietnam mengindikasikan bahwa mereka telah berhasil menerjemahkan aset budayanya menjadi produk manufaktur siap jual yang efisien. Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam keunikan motif dan material, namun sering kalah dalam hal skala produksi dan standardisasi kualitas. Tantangan terbesarnya bukan pada kreativitas perajin, melainkan pada bagaimana sistem rantai pasok dan promosi Dekranasda mampu menerjemahkan 'kerajinan tangan' menjadi 'barang dagang' yang kompetitif secara harga dan volume.

Peran Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian dan 32 Ketua Dekranasda yang tampil dalam fashion show menunjukkan strategi 'soft power' yang sedang diorbitkan. Namun, untuk menggeser dominasi negara tetangga, diperlukan intervensi kebijakan industri kriya yang lebih agresif, seperti sertifikasi halal, kemudahan akses perizinan ekspor, dan integrasi digital ke e-commerce global. Jika potensi 3.000 miliar dolar itu adalah kue dunia, saat ini Indonesia masih memegang porsi yang kecil. Tanpa akselerasi transformasi dari 'pelaku hobi' menjadi 'industri profesional', ancaman disrupsi pasar domestik oleh produk impor bergaya lokal akan terus menggerus ruang hidup perajin nusantara.

Ke depan, langkah logis dari pemerintah adalah membentuk klaster produk unggulan berbasis daerah dengan standar ekspor ketat. Sinergi antara Kementerian UMKM dan Kemen Dalam Negeri harus difokuskan pada pendampingan teknologi produksi yang tetap mempertahankan sentuhan manual untuk menjaga nilai premium. Kriyanusa tahun depan bukan tempat untuk pamer saja, tapi harus menjadi arena kontrak dan transaksi bisnis B2B. Tanpa itu, peringatan Tito tentang nasib bangsa di tangan pengurus hanyalah wacana tanpa implementasi ekonomi yang terukur.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ