Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: Antara News & CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas
BAGIKAN:

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data ekonomi penting yang menunjukkan ketahanan sektor eksternal Indonesia, di mana neraca perdagangan barang nasional berhasil mencatatkan surplus signifikan sebesar 10,61 miliar dolar AS untuk periode Januari hingga September 2026. Capaian ini menegaskan posisi Indonesia yang tetap solid di tengah dinamika pasar global, dengan nilai ekspor yang secara konsisten melampaui nilai impor dalam jangka waktu sembilan bulan tersebut. Data ini menjadi indikator kuat bahwa permintaan atas komoditas unggulan Indonesia masih terjaga, memberikan fondasi yang stabil bagi pertumbuhan ekonomi domestik.

Detail Kinerja Ekspor dan Impor Triwulan III

Mencermati rincian bulanan, BPS mengumumkan bahwa pada bulan September 2026, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS. Angka ini didorong oleh capaian nilai ekspor yang menembus 27,59 miliar dolar AS, sementara nilai impor tercatat sebesar 24,23 miliar dolar AS. Meskipun surplus ini menunjukkan tren positif, nilainya mengalami penyempitan dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Penurunan tersebut utamanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, khususnya kenaikan harga minyak yang memaksa Indonesia meningkatkan volume impor energi, sehingga mengerek tagihan impor lebih tinggi dibandingkan eskalasi nilai ekspor.

Proyeksi Ekonom dan Dampak Kebijakan Impor

Kondisi di atas sebelumnya telah diprediksi oleh berbagai institusi keuangan, meskipun dengan angka yang bervariasi. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pernah memproyeksikan surplus sekitar 1,79 miliar dolar AS, sementara Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan angka tersebut berada di kisaran 1,52 miliar dolar AS. Pihak Bank Danamon melalui Kepala Ekonomnya, Irman Faiz, bahkan memperkirakan surplus lebih rendah, yakni sekitar 1 miliar dolar AS. Faiz mengidentifikasi tiga faktor krusial yang membentuk dinamika ini, yaitu: pertama, kenaikan harga minyak yang melebarkan defisit pada sektor migas; kedua, pemulihan aktivitas manufaktur yang memicu peningkatan impor bahan baku dan barang penolong setelah penurunan tajam pada Agustus; dan ketiga, tren historis di mana ekspor bulan September cenderung normalisasi atau lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Perbaikan permintaan manufaktur global memberikan penopang, namun dampaknya terhadap pengiriman barang fisik seringkali tertunda, menciptakan lag antara permintaan dan realisasi ekspor pada periode yang sama.

Meow! Tanya Nesi!
😸