Ekonom Permata: Pelebaran CAD Tekan Rupiah ke Rp19.000 di Tengah Kenaikan BI-Rate

Faisal Rachman, Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Permata Bank, mengingatkan bahwa pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) berpotensi menambah tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang mencakup ketegangan geopolitik, sikap hawkish The Fed, serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI. Berbagai risiko tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga semester I 2027, sehingga dapat memperkuat sentimen risk-off dan memicu arus modal keluar (capital outflows) lebih lanjut.
Kondisi ini diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin, yang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Secara kumulatif, surplus perdagangan mencapai 10,61 miliar dolar AS sepanjang Januari-September 2026, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan surplus 33,54 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Faisal menegaskan, perkembangan ini mempertegas adanya risiko pelebaran CAD pada tahun ini.
Proyeksi Tekanan Cadangan Devisa dan Arus Modal
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan CAD akan melebar menjadi 2,49 persen terhadap PDB pada 2026, melonjak dari 0,09 persen pada 2025. Tren ini diproyeksikan tetap tinggi di kisaran yang sama pada 2027. "Pelebaran CAD yang disertai potensi perubahan arus investasi portofolio menjadi arus keluar bersih (net outflows) dalam neraca pembayaran Indonesia dapat memberikan tekanan signifikan terhadap cadangan devisa," ujar Faisal. Ia memproyeksikan cadangan devisa akan turun menjadi 143-147 miliar dolar AS pada akhir 2026, turun dari 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025, dengan tekanan berlanjut pada 2027 di kisaran 141-145 miliar dolar AS.
Dari sisi kebijakan moneter, bank tersebut memprediksi Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan BI-Rate sebanyak satu kali menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026 dan dipertahankan pada level tersebut sepanjang 2027. Namun, Faisal menambahkan, "Apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan, kami melihat adanya ruang bagi kenaikan suku bunga tambahan setidaknya sebesar 50 basis poin (bps) pada 2027."
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah dan Strategi Mitigasi Risiko
Berdasarkan estimasi awal, nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp18.200-Rp18.400 per dolar AS. Faisal menyatakan bahwa risiko pelemahan rupiah lebih lanjut diperkirakan masih akan berlanjut sepanjang 2027. Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, tim ekonom mencatat bahwa kemungkinan rupiah menembus level Rp19.000 per dolar AS pada 2027 semakin meningkat.
Penurunan kinerja neraca perdagangan hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat serta kondisi ekspor yang penuh tantangan. Untuk menanggulangi hal ini, pelaku pasar perlu mewaspadai kombinasi faktor fundamental dan sentimen global. Poin-poin kunci tekanan ekonomi yang diidentifikasi Permata Bank meliputi:
- Pelebaran CAD menjadi 2,49 persen dari PDB pada 2026 dan 2027.
- Penurunan cadangan devisa hingga kisaran 141-145 miliar dolar AS pada 2027.
- Kenaikan BI-Rate menjadi 6,00 persen dengan opsi tambahan 50 bps jika ketidakpastian melonjak.
- Risiko volatilitas rupiah menembus level psikologis Rp19.000 per dolar AS pada 2027.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

AIA Syariah Resmi Beroperasi Penuh, Perkuat Ekosistem Asuransi Berbasis Islam di Indonesia

Inflasi Melandai ke 3,23 Persen, Bank Danamon Proyeksikan BI-Rate Stabil di 6,25 Persen hingga Akhir 2026

Cegah Gas Stranded: Pertamina EP Jambi dan PGN Teken Kontrak Rp1,6 Triliun Suplai 5 MMSCFD untuk Industri Sumatra
