BPS: Lonjakan Harga Cabai dan Beras Dorong Inflasi Oktober 2026 Capai 0,22 Persen
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mencatat tingkat inflasi nasional pada Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan. Angka ini didorong secara signifikan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok, dengan cabai merah dan cabai rawit menjadi pemicu utama. Tekanan inflasi kali ini tidak hanya berasal dari kelompok bumbu, melainkan juga diwarnai oleh kenaikan harga beras yang terjadi secara serentak di seluruh rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan hingga pasar eceran.
Kenaikan Beras Menjangkau Seluruh Rantai Distribusi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa harga beras kembali mengalami lonjakan pada periode tersebut. Secara bulanan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26 persen, sementara secara tahunan melonjak hingga 6,89 persen. Kenaikan ini merambat ke tingkat grosir yang mencatat inflasi bulanan 0,01 persen dan tingkat eceran sebesar 0,08 persen. Ateng menegaskan bahwa data yang dirilis merupakan rata-rata harga dari berbagai kualitas beras yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, sehingga menggambarkan tekanan biaya hidup yang luas.
Berdasarkan data rata-rata, harga beras eceran tercatat sebesar Rp15.765 per kilogram pada Oktober 2026. Di tingkat grosir, harga berada di angka Rp14.994 per kilogram, sedangkan di penggilingan tercatat Rp14.365 per kilogram. Jika dirinci berdasarkan kualitas, harga beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan bulanan yang sangat kecil yaitu 0,01 persen, namun secara tahunan melonjak signifikan sebesar 11,32 persen. Sebaliknya, harga beras medium naik 0,35 persen secara bulanan dan 5,57 persen secara tahunan. Pola ini menunjukkan bahwa beban inflasi beras lebih terasa pada segmen kualitas premium jika dilihat dalam jangka waktu satu tahun.
Perpaduan antara melonjaknya harga cabai yang menjadi pendorong utama inflasi bulanan dan tren kenaikan harga beras di berbagai tingkatan pasar menciptakan tantangan tersendiri bagi stabilitas harga pangan nasional. Bagi konsumen, kenaikan biaya untuk bahan makanan pokok ini langsung memengaruhi daya beli dan pengeluaran rumah tangga di akhir tahun 2026. Pemerintah dan otoritas terkait perlu terus memantau pasokan dan distribusi untuk memastikan dampak inflasi ini tidak berlanjut ke bulan-bulan berikutnya.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Neraca Dagang RI Cetak Surplus 10,61 Miliar Dolar AS Jan-Sep 2026, Ekspor Kuat Jaga Stabilitas

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan

Danantara Hadirkan Indonesia di Panggung Global, Praktisi Nilai Investasi RI Terasah
