⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: Antara News & CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

BPS Catat Ekspor RI Januari-September 2026 Tembus US$221,23 Miliar, Didorong Lonjakan Komoditas Unggulan
BAGIKAN:

Ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika global, sebagaimana terlihat dari catatan ekspor yang terus bertumbuh sepanjang tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kumulatif yang menunjukkan nilai ekspor nasional dari Januari hingga September 2026 telah mencapai US$221,23 miliar, sebuah peningkatan sebesar 5,58% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Pencapaian ini menandakan adanya perbaikan fundamental dalam kinerja perdagangan luar negeri yang menjadi salah satu pilar penting pendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Penguatan Sektor Nonmigas dan Peran Komoditas Strategis

Secara bulanan, momentum pertumbuhan terlihat jelas pada September 2026, di mana nilai ekspor melonjak menjadi US$27,59 miliar atau naik 11,87% secara tahunan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa tren positif ini terutama didorong oleh kinerja ekspor nonmigas yang mencapai US$26,64 miliar, tumbuh 12,39% dibandingkan September 2025. Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati menjadi bintang utama dengan lonjakan 89,04% secara tahunan, sementara tembaga dan barang turunannya melonjak signifikan sebesar 165,97%, menunjukkan pergeseran kuat dalam struktur ekspor Indonesia.

Di balik angka-angka tersebut, sektor industri pengolahan tetap memegang peranan dominan sebagai tulang punggung ekspor nasional. Pada September 2026, sektor ini menyumbang US$23,27 miliar dari total ekspor nonmigas, atau setara dengan 87,36% dari total nilai tersebut. Kontribusi masif ini mengukuhkan posisi manufaktur Indonesia yang semakin kompetitif di pasar global. Meskipun demikian, sektor migas tercatat mengalami stagnasi ringan dengan penurunan 0,99%, namun dampaknya sedikit tertutupi oleh gairah dari sektor-sektor lain yang tumbuh dua digit.

Konsolidasi Pasar Tujuan Utama

Dari sisi pasar tujuan, Asia dan Amerika tetap menjadi destinasi utama bagi produk Indonesia. Tiongkok masih menjadi importir terbesar dengan nilai US$54,17 miliar selama periode Januari-September 2026, disusul oleh Amerika Serikat di posisi kedua dengan US$25,39 miliar, dan India di urutan ketiga dengan US$15,00 miliar. Ketiganya menyumbang 44,55% dari total ekspor nonmigas Indonesia, mengindikasikan ketergantungan pasar yang tetap terkonsentrasi namun stabil. Konsolidasi ini menjadi sinyal bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas produk agar mampu mempertahankan pangsa pasar di negara-negara maju dan menengah tersebut.

Kebijakan pemerintah untuk memacu diversifikasi produk olahan tinggi dinilai memberikan hasil nyata dalam data BPS ini. Kenaikan ekspor mesin dan perlengkapan elektrik yang mencapai 24,37% secara tahunan menjadi bukti transformasi struktur ekonomi dari bahan mentah ke barang bernilai tambah tinggi. Dengan fondasi pertumbuhan ekspor yang kokoh, Indonesia diproyeksikan mempertahankan tren positif sepanjang sisa tahun 2026, dengan harapan kontribusi sektor hilirisasi terus mendominasi neraca perdagangan. Stabilitas harga komoditas global dan kelancaran rantai pasok menjadi faktor kunci yang akan menentukan apakah pencapaian kumulatif US$221,23 miliar ini dapat ditingkatkan lebih lanjut di kuartal terakhir tahun ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸