Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BI Cetak Ulang Rp100 Ribu TE 2022 Bertanda Tangan Perry-Purbaya, Kolektor Ramai-ramai Incar

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

BI Cetak Ulang Rp100 Ribu TE 2022 Bertanda Tangan Perry-Purbaya, Kolektor Ramai-ramai Incar
BAGIKAN:

Bank Indonesia resmi memastikan peredaran kembalinya rupiah kertas seri tahun emisi 2022 yang memuat tanda tangan Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan penerbitan uang ini bukan hal baru, melainkan bagian dari siklus rutin bank sentral. Hal itu diungkapkan dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/9), menjawab spekulasi di media sosial soal uang langka tersebut.

"Hari ini, kalau enggak salah, hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya," ujar Destry. Ia menambahkan, meski tanda tangannya sudah berganti, uang dengan inisial pejabat lama tetap legal beredar. Sebagian uang tersebut bahkan sudah ada dalam peredaran, membuat para kolektor langsung bergerak cepat memburu lembar uang Rp100 ribu tahun cetak 2026 itu.

Destry menegaskan bahwa pencetakan uang kartal merupakan kegiatan rutin bank sentral untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat. "Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang," kata Destry. Menurutnya, proses ini tidak dilakukan secara tiba-tiba di awal atau akhir tahun. Ada tahapan perhitungan kebutuhan uang kartal dalam satu periode agar distribusi tetap stabil dan tidak mengganggu [likuiditas moneter] pasar.

BI membahas rencana pencetakan ini bersama pemerintah dengan mempertimbangkan target uang beredar. "BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan," pungkas Destry. Pembahasan strategis ini biasanya dilakukan menjelang akhir tahun untuk menentukan berapa banyak uang kertas dan uang logam yang perlu dicetak pada periode berikutnya. Kebutuhan penerbitan tetap tinggi, khususnya untuk masyarakat di daerah yang sinyalnya belum stabil atau belum terjangkau layanan digital.

Uang yang menjadi perbincangan ini memiliki karakteristik unik karena tahun emisinya 2022, namun tahun cetaknya 2026. Kombinasi tanda tangan Perry Warjiyo (periode 2018-2026) dan Purbaya Yudhi Sadewa (periode 2025-2026) memicu antusiasme kolektor. Bagi masyarakat umum, uang ini berfungsi sama saja dengan rupiah lainnya. Namun bagi para pengoleksi, keberadaannya menjadi item langka yang nilai transaksinya di pasar sekunder cenderung naik.

Analisis Redaksi

Kesibukan pencetakan uang di tengah transisi kepemimpinan eksekutif dan moneter ini menguji ketahanan sistem logistik bank sentral. Fakta bahwa rupiah bertanda tangan pejabat yang sedang menjabat atau baru berakhir masa tugasnya masih dicetak dan diedarkan menunjukkan bahwa bank sentral mengutamakan keberlanjutan operasional di atas perubahan struktural pejabat. Hal ini penting untuk menjaga [kepercayaan publik] terhadap stabilitas alat pembayaran yang sah.

Secara makroekonomi, pola pencetakan bertahap ini mengindikasi bahwa BI masih mengandalkan peran fisik uang kartal untuk menjangkau ekosistem ekonomi non-digital. Bagi sektor kolektor, fenomena ini menjadi celah valuasi aset. Yang perlu diwaspadai, adalah potensi pemalsuan yang memanfaatkan keramaian terkait uang seri "peralihan" ini. Masyarakat perlu memahami bahwa keunikan tanda tangan tidak mengubah legalitas atau nilai nominal uang tersebut.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸