Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BI: Kredit Tumbuh 13,65% per Agustus 2026, Investasi Jadi Motor Utama

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

BI: Kredit Tumbuh 13,65% per Agustus 2026, Investasi Jadi Motor Utama
BAGIKAN:

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026. Angka ini menegaskan kembali peran intermediasi keuangan sebagai mesin penggerak ekonomi nasional di tengah dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa lonjakan tersebut didorong oleh sektor investasi yang tumbuh signifikan hingga 25,11 persen yoy. Sementara itu, kredit modal kerja naik 11,45 persen dan kredit konsumsi meningkat 5,07 persen. "(Intermediasi perbankan) kembali meningkat, disertai dengan ketahanan perbankan yang tetap terjaga," ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).

Ruang penyaluran kredit dinilai masih terbuka lebar karena minat perbankan atau lending appetite masih longgar. Kondisi ini diperkuat oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 10,94 persen yoy, menyediakan likuiditas memadai bagi bank untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor riil.

Untuk mendorong laju intermediasi, otoritas moneter mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga minggu pertama September 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan tercatat sebesar Rp461,2 triliun, meningkat dari posisi Agustus 2026 senilai Rp446,5 triliun. Rinciannya, Rp338,2 triliun disalurkan melalui KLM Financing Channel, sedangkan Rp123 triliun lewat KLM Pendalaman Pasar Uang.

Mulai 1 September 2026, BI menerapkan skema baru KLM yang lebih selektif berdasarkan kondisi likuiditas dan komposisi portofolio masing-masing bank. Langkah ini bertujuan memastikan insentif likuiditas benar-benar mendorong penyaluran kredit produktif, bukan sekadar meningkatkan kepemilikan surat-surat berharga. Dengan momentum saat ini, BI memperkirakan penyaluran kredit sepanjang 2026 akan berada dalam kisaran 8-12 persen.

Analisis Redaksi

Dari sisi ketahanan industri, bantalan modal perbankan terlihat sangat kokoh. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 23,84 persen pada Juli 2026, jauh di atas ambang batas minimum regulasi. Kualitas aset juga terjaga baik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) bruto sebesar 2,10 persen dan neto 0,81 persen. Ditambah lagi, rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level aman 23,04 persen pada Agustus 2026, memberikan ruang gerak luas bagi bank dalam mengelola risiko likuiditas jangka pendek maupun panjang.

Sinyal positif juga datang dari ekosistem digital. Volume transaksi ekonomi dan keuangan digital mencapai 6,11 miliar pada Agustus 2026, tumbuh 40,36 persen yoy. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh mobile banking termasuk QRIS yang melonjak 47,08 persen, dengan khusus transaksi QRIS tumbuh fantastis 67,22 persen yoy. Sementara itu, infrastruktur BI-FAST telah memproses 549 juta transaksi senilai Rp1.346 triliun. Data ini membuktikan bahwa transformasi digital bukan lagi opsi, melainkan tulang punggung efisiensi sistem pembayaran nasional yang mendukung akselerasi kredit perbankan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸