IHSG Melemah 1,53 Persen Sepekan, Asing Jual Bersih Rp74 Triliun Sepanjang 2026
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu dengan pelemahan 1,53 persen setelah tergerus selama empat dari lima hari perdagangan, mengakhiri sesi Jumat (18/9) di level 6.441 atau turun 21,27 poin setara minus 0,33 persen. Investor mencatatkan total transaksi senilai Rp19,25 triliun dengan volume perdagangan mencapai 32,60 miliar saham pada hari terakhir pekan tersebut.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita membeberkan fakta bahwa perdagangan saham bergerak dinamis sepanjang 14 hingga 18 September 2026. Kapitalisasi pasar bursa menyusut 1,58 persen dari Rp11.446 triliun menjadi Rp11.266 triliun. Penurunan terjadi merata di seluruh indikator aktivitas pasar.
Rata-rata volume transaksi harian anjlok 20,71 persen dari 36,09 miliar menjadi 28,61 miliar lembar saham. Nilai transaksi harian ikut terkoreksi 6,95 persen menjadi Rp15,22 triliun dari posisi sebelumnya Rp16,36 triliun. Frekuensi transaksi pun merosot 14,73 persen dari 2,22 juta kali menjadi 1,89 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
Tekanan jual investor asing masih menjadi bayang-bayang utama bagi pasar modal domestik. "Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp1,79 triliun dan sepanjang tahun 2026 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp74,36 triliun," kata Elsierra dalam keterangan resmi, Jumat (18/9). Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan, arus dana asing sepanjang pekan mencatat net sell sekitar Rp2,9 triliun.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan pergerakan indeks relatif terbatas sepekan ke depan dengan support 6.362 dan resistance 6.570. Perhatian pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 yang secara konsensus diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. "Pasar tetap menunggu guidance dan outlook BI ke depannya," ujar Herditya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (20/9).
Hendra menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil, bergerak di rentang 6.350-6.600. "Ruang rebound tetap terbuka, tetapi belum cukup kuat untuk langsung membawa IHSG masuk ke tren bullish yang solid," tegasnya. Ia merekomendasikan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang ditutup menguat 3,85 persen ke level 4.860 dengan proyeksi menyentuh 5.200, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang naik 3,09 persen ke 1.500 dengan target 1.650, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang melonjak 4,81 persen ke 545 dengan proyeksi 580.
Dari sisi teknikal, Herditya merekomendasikan tiga saham lain. Pertama, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang ditutup di posisi 6.300 dengan proyeksi menyentuh 6.575. Kedua, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) di posisi 390 dengan target 440. Ketiga, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) di posisi 760 dengan proyeksi menuju 810 pada pekan ini.
Analisis Redaksi
Angka jual bersih asing sebesar Rp74,36 triliun sepanjang 2026 bukan sekadar statistik biasa. Ini adalah sinyal eksodus modal yang sistematis. Ketika investor global terus menarik dananya dari pasar ekuitas kita, tekanan terhadap nilai tukar rupiah—yang saat ini berada di sekitar Rp17.758 per dolar AS—akan semakin sulit diredam. Kebijakan The Fed yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer membuat rezim pengetatan moneter global terus menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pergerakan harga minyak mentah menambah lapisan kerumitan baru. Penurunan harga Brent ke sekitar US$102,68 per barel dan WTI sekitar US$100,08 per barel memang memberi sedikit ruang napas. Namun, risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah memastikan harga komoditas energi ini tetap berada di level tinggi yang rentan memicu inflasi impor. Di tengah kondisi tersebut, keputusan RDG BI pada 22-23 September menjadi jangkar krusial. Mempertahankan BI Rate di 5,75 persen adalah langkah logis, tetapi narasi prospek kebijakan ke depanlah yang akan menentukan arah aliran dana jangka pendek.
Bagi pelaku pasar, fase konsolidasi volatil ini menuntut disiplin ketat. Rekomendasi saham seperti BBCA, INCO, atau MBMA memiliki landasan teknikal masing-masing, tetapi penguatan indeks masih sangat rawan dimanfaatkan untuk profit taking maupun pelepasan posisi oleh investor yang sudah lelah menahan tekanan. Isu MSCI yang turut dicermati pasar juga bisa menjadi katalis tak terduga. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca, dan berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital

Ancaman Capital Outflow: Rupiah Berpotensi Rontok ke Rp18.350 di Akhir 2026

Ihsg Anjlok 2,62% di Sesi I, Bursa Asia Terdiversifikasi dengan Koreksi Kospi Terdalam
