Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan Kecerdasan Buatan demi Kejar Ketertinggalan dari China

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan Kecerdasan Buatan demi Kejar Ketertinggalan dari China
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Melalui platform Truth Social, Trump menuliskan komitmennya dengan nada tinggi.
  • "Sebagai Presiden Amerika Serikat, saya tidak akan tinggal diam dan membiarkan hal ini terjadi," tulisnya.
  • Ia menuduh kaum liberal secara aktif menginginkan pemusnahan atau kehancuran AI.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengumumkan pembentukan satuan tugas khusus bernama AI Force di dalam struktur pemerintahannya pada Sabtu (19/9), sekaligus mengecam keras para pengkritik kecerdasan buatan yang ia sebut sebagai akal imitasi. Langkah ini diambil untuk memastikan industri teknologi tersebut tidak terhambat oleh regulasi, di tengah gelombang penolakan warga terhadap pembangunan pusat data serta peringatan serius dari para peneliti mengenai risiko fatal pengembangan teknologi ini.

Melalui platform Truth Social, Trump menuliskan komitmennya dengan nada tinggi. "Sebagai Presiden Amerika Serikat, saya tidak akan tinggal diam dan membiarkan hal ini terjadi," tulisnya. Ia menuduh kaum liberal secara aktif menginginkan pemusnahan atau kehancuran AI. Bagi Trump, sikap itu tidak bisa ditoleransi. "Kami sama sekali tidak akan menghambat atau mengekang pertumbuhan industri luar biasa ini. Sebaliknya, kami akan menghargainya, membantunya, dan mengawasinya saat industri ini berkembang!" imbuhnya.

Satuan tugas AI Force yang baru dibentuk ini memiliki mandat spesifik. Trump menjelaskan bahwa unit tersebut akan bertugas mencari aktor-aktor buruk yang mencoba merusak ekosistem kecerdasan buatan di Amerika Serikat. Untuk memimpin arah kebijakan ini, ia berjanji akan segera mengumumkan seorang koordinator AI atau yang lazim disebut Czar. Penunjukan satu figur sentral ini menandakan upaya Gedung Putih untuk memusatkan kendali atas sektor yang kini menjadi tulang punggung persaingan geopolitik global.

Sikap agresif Trump ini berdiri di atas lanskap domestik yang penuh gesekan. Mayoritas warga Amerika saat ini menolak pembangunan pusat data di lingkungan mereka karena fasilitas tersebut membutuhkan pasokan energi raksasa untuk menopang pengembangan AI. Di lingkaran elite teknologi sendiri, alarm bahaya sudah berbunyi nyaring. Mantan peneliti AI Anthropic, Jacob Coxon, memberikan kesaksian yang mengerikan. Ia mengatakan orang-orang yang mengembangkan teknologi tersebut sungguh-sungguh percaya bahwa teknologi ini dapat membunuh semua pada akhir dekade ini.

Namun, seluruh peringatan itu mental dari dinding pertahanan Trump. Ia berulang kali menepis risiko tersebut dan melabelinya sebagai hoaks belaka. Argumen utamanya bukan soal keamanan teknis, melainkan rivalitas negara. Trump menegaskan AS tidak boleh kalah dalam persaingan teknologi dengan China. Sebagai ganti regulasi ketat, ia sesumbar bahwa satu-satunya pengaman yang diperlukan adalah presiden yang kuat dan cerdas dengan IQ tinggi. Bahkan, pada unggahan terpisah di hari yang sama, ia mempertanyakan istilah artificial intelligence dan melempar polling publik untuk memilih tiga nama alternatif: superior intelligence, extreme intelligence, atau supreme intelligence. "Ini adalah Polling, dan saya akan sangat menghargai semua orang untuk ikut memilih! Mana nama terbaik untuk 'Revolusi' yang terus berkembang ini?" tulisnya.

Langkah mengganti nomenklatur ilmiah dengan frasa bombastis lewat jajak pendapat media sosial memperlihatkan cara kerja politik populis yang kini merambah ranah sains tingkat tinggi. Ketika istilah teknis dilebur menjadi slogan kampanye, batas antara kebijakan strategis dan teater politik menjadi kabur.

Analisis Redaksi

Pembentukan AI Force dan penunjukan Czar menunjukkan bahwa Gedung Putih memandang kecerdasan buatan murni sebagai instrumen dominasi nasional, bukan sekadar produk komersial yang perlu diawasi. Pendekatan ini logis jika kita melihat kerangka berpikir Trump yang selalu menyandarkan segala kebijakan pada narasi persaingan dengan China. Mengabaikan peringatan dari sosok seperti Jacob Coxon—yang mewakili suara langsung dari dalam dapur riset industri—adalah taruhan besar. Menolak pembatasan dengan dalih menolak agenda kaum liberal mengubah perdebatan teknis tentang keselamatan umat manusia menjadi arena pertarungan partisan domestik yang dangkal.

Yang patut diwaspadai dari manuver ini adalah absennya mekanisme pengawasan independen. Ketika Trump mengklaim dirinya sendiri sebagai satu-satunya pengaman yang dibutuhkan, ia sedang membongkar arsitektur tata kelola teknologi yang selama ini dibangun berlapis-lapis oleh komunitas ilmiah. Pusat data yang ditolak warga karena rakus energi tetap akan dipaksakan hadir atas nama patriotisme teknologi. Konflik antara kebutuhan infrastruktur digital dan daya dukung lingkungan lokal dipastikan akan memanas di berbagai negara bagian dalam waktu dekat.

Secara logis, langkah selanjutnya yang akan kita saksikan adalah percepatan deregulasi besar-besaran di sektor teknologi AS. Figur Czar yang akan segera ditunjuk kemungkinan besar berasal dari kalangan loyalis yang sepaham dengan visi ekspansi tanpa rem ini, bukan dari komunitas akademisi yang vokal menyuarakan risiko. Polling pemilihan nama baru untuk AI hanyalah pemanis permukaan; esensinya adalah konsolidasi kekuasaan eksekutif atas masa depan teknologi paling krusial abad ini, dengan mengorbankan prinsip kehati-hatian yang justru diserukan oleh para penciptanya sendiri.

Meow! Tanya Nesi!
😸