Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Golkar: Nusron Wahid Mundur dari Pengurus DPP Sejak Enam Bulan Lalu

PolitikSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Golkar: Nusron Wahid Mundur dari Pengurus DPP Sejak Enam Bulan Lalu
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menegaskan bahwa Nusron Wahid telah mengundurkan diri dari jabatan struktural di Dewan Pimpinan Pusat partai berlambang pohon beringin tersebut.
  • Langkah administratif ini terjadi lebih dari enam bulan yang lalu, jauh sebelum nama mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang itu terseret dalam pusaran kasus dugaan suap.
  • Pengunduran diri tersebut disampaikan secara langsung oleh Nusron kepada Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menegaskan bahwa Nusron Wahid telah mengundurkan diri dari jabatan struktural di Dewan Pimpinan Pusat partai berlambang pohon beringin tersebut. Langkah administratif ini terjadi lebih dari enam bulan yang lalu, jauh sebelum nama mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang itu terseret dalam pusaran kasus dugaan suap.

Pengunduran diri tersebut disampaikan secara langsung oleh Nusron kepada Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia. Sarmuji memastikan bahwa keputusan itu merupakan inisiatif pribadi Nusron untuk melepaskan tanggung jawab kepengurusan, bukan akibat tekanan eksternal sesaat. "Ya mundur. Pak Nusron menyampaikan langsung ke Ketua Umum. Seingat saya lebih enam bulan lalu," kata Sarmuji saat dihubungi, Minggu (20/9).

Meski telah melepas jabatan sebagai pengurus, status keanggotaan Nusron dalam partai tetap terjaga. Sarmuji menjelaskan dengan tegas perbedaan antara posisi struktural dan status kader. "Mundur sebagai pengurus DPP Golkar," ujarnya, sembari tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan spesifik di balik keputusan politikus senior tersebut untuk stepping down dari kursi kepemimpinan harian partai.

Dalam struktur kepengurusan Golkar periode 2024-2029, Nusron sebelumnya memegang peran strategis sebagai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian. Posisinya ini menempatkan ia sebagai salah satu wajah penting partai dalam menjembatani isu-isu spiritualitas dengan kebijakan publik, sebuah portofolio yang kini kosong dan menunggu penunjukan pengganti dari ketum.

Klarifikasi status kepengurusan ini muncul di tengah sorotan tajam publik terhadap keterlibatan lingkaran terdekat Nusron dalam kasus dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) di lingkungan Kementerian ATR/BPN. Penyidik telah menetapkan empat tersangka yang diidentifikasi sebagai orang kepercayaan Nusron, menciptakan narasi publik yang menghubungkan politikus tersebut dengan praktik korupsi di kementerian yang pernah dipimpinnya.

Merespons gelombang penyelidikan tersebut, Nusron telah menyatakan sikap kooperatif. Dalam keterangan di Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Jumat (18/9), ia menekankan penghormatan terhadap proses hukum. "Pertama kami menghormati apa yang diproses oleh aparat penegak hukum, dalam hal ini KPK. Kami juga akan ikuti, dan kami akan membantu proses yang ada di sini," tegasnya. Ia berharap kasus ini menjadi momentum percepatan perbaikan layanan internal kantor.

Analisis Redaksi

Pemisahan waktu antara pengunduran diri Nusron dari struktur DPP Golkar dengan momen panasnya kasus HGB menunjukkan kalkulasi politik yang matang. Dengan mundur enam bulan lalu, Golkar berupaya membangun tembok pemisah antara institusi partai dengan masalah hukum individu mantan menterinya. Ini adalah langkah defensif standar untuk melindungi brand partai dari asosiasi negatif yang mungkin timbul jika tersangka masih tercatat sebagai pejabat tinggi partai saat pemeriksaan intensif berlangsung.

Namun, pernyataan Sarmuji bahwa Nusron tetap berstatus kader membuka celah interpretasi ganda. Di satu sisi, Golkar menjaga solidaritas internal dengan tidak memecat anggota; di sisi lain, mereka membersihkan diri dari tanggung jawab manajerial atas tindakan oknum. Kooperasi Nusron terhadap KPK menjadi ujian kredibilitas berikutnya, apakah bantuan yang ditawarkan benar-benar substantif atau sekadar formalitas untuk meredam opini publik yang kian skeptis terhadap integritas birokrasi pertanahan.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ