Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Milisi Iran Seret Peti Mati Trump dan Netanyahu dalam Pawai Akbar di Teheran

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Milisi Iran Seret Peti Mati Trump dan Netanyahu dalam Pawai Akbar di Teheran
BAGIKAN:

Puluhan ribu massa dan anggota milisi Basij menggelar demonstrasi terbesar sejak perang melawan Amerika Serikat dan Israel pecah pada Februari lalu, memadati jalanan Teheran pada Jumat (18/9/2026) dengan menyeret peti mati bergambar Presiden AS Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Aksi unjuk rasa yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah Iran ini menjadi panggung perlawanan terbuka setelah konflik berdarah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa tanda-tanda mereda.

Presiden Masoud Pezeshkian berdiri di barisan depan pejabat negara yang hadir. Ia didampingi Kepala Pasukan Basij Iran Hossein Taeb. Basij sendiri merupakan sayap paramiliter dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang selama ini menjadi tulang punggung mobilisasi massa pro-pemerintah. Kehadiran mereka menegaskan bahwa pawai ini bukan sekadar luapan emosi jalanan, melainkan kalkulasi politik tingkat tinggi yang dikomando langsung dari istana.

Suara lantang perlawanan menggema lewat spanduk-spanduk provokatif. Sejumlah massa membawa kain rentang bertuliskan "We Will Kill" atau "Kita akan Membunuh" yang disandingkan dengan gambar wajah Donald Trump. Tidak berhenti pada retorika visual, sejumlah personel militer memperagakan aksi menginjak dan menyeret peti mati bergambar Trump dan Netanyahu di hadapan kerumunan. Foto-foto provokasi ini diambil oleh Majid Asgaripour dari WANA (West Asia News Agency) dan segera menyebar melalui jaringan REUTERS ke seluruh dunia.

Pawai akbar tersebut digelar saat Teheran menghadapi tekanan ganda yang mencekik di bidang militer dan ekonomi. Enam bulan perang telah mengunci Amerika Serikat dan Iran dalam konflik berkepanjangan yang menguras kekuatan kedua belah pihak. Perang atrisi ini ditandai oleh sejumlah periode eskalasi yang terus-menerus memantik ketegangan baru, membuat ruang diplomasi semakin menyempit.

Dampak paling nyata dari eskalasi ini langsung menghantam urat nadi perdagangan global. Pemerintah Iran secara terang-terangan menunjukkan sikap menantang dengan menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Posisi tawar Teheran kian menebal setelah sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, memperketat kendali atas jalur strategis di Laut Merah. Meluasnya konflik hingga menyentuh Yaman dan Arab Saudi memicu kekhawatiran serius terhadap distribusi minyak dunia. Ancaman terhadap jalur alternatif Laut Merah bagi ekspor negara-negara Teluk terjadi tepat ketika lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan berat, sebuah kombinasi yang langsung mendorong kenaikan harga minyak di pasar internasional.

Analisis Redaksi

Penyelenggaraan demonstrasi raksasa yang melibatkan presiden dan komandan paramiliter secara bersamaan bukanlah manuver spontan. Ini adalah pesan terstruktur dari Teheran kepada Washington dan Yerusalem bahwa tekanan militer maupun sanksi ekonomi belum berhasil mematahkan soliditas internal rezim. Penggunaan simbolisme ekstrem seperti penyeretan peti mati berfungsi sebagai alat propaganda domestik untuk menjaga moral publik yang kelelahan akibat perang atrisi selama enam bulan terakhir.

Dari kacamata ekonomi makro, blokade ganda di Selat Hormuz dan Laut Merah oleh Iran serta Houthi menciptakan skenario mimpi buruk bagi stabilitas pasokan energi global. Ketika dua arteri utama perdagangan minyak dunia tersumbat bersamaan, eksportir Teluk kehilangan opsi rute alternatif. Kenaikan harga minyak yang sudah terjadi hanyalah gejala awal dari potensi krisis energi berskala luas apabila jalur-jalur ini tidak segera dibuka kembali.

Langkah selanjutnya yang patut diwaspadai adalah respons militer AS dan Israel terhadap provokasi visual sekaligus blokade maritim ini. Jika Washington memilih merespons dengan eskalasi militer baru alih-alih tekanan diplomatik, perang atrisi yang sudah berjalan enam bulan berpotensi berubah menjadi konfrontasi terbuka yang jauh lebih destruktif. Pasar energi global harus bersiap menghadapi volatilitas ekstrem dalam beberapa pekan ke depan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸