Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Preferensi Hunian Milenial Bergeser, Fitur-fitur Legendaris Mulai Ditinggalkan

EkonomiSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: Antara News
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Preferensi Hunian Milenial Bergeser, Fitur-fitur Legendaris Mulai Ditinggalkan
BAGIKAN:

Generasi milenial mulai menolak sejumlah fitur rumah yang selama ini jadi standar keinginan pembeli, menandakan pergeseran fundamental di pasar properti residensial. Data terbaru dari pameran arsitektur di Semarang memperlihatkan pola baru: ruang tamu formal, kamar pembantu, hingga garasi luas untuk dua mobil tidak lagi jadi prioritas utama.

Pada Pameran Karya Arsitektur Mahasiswa yang digelar 21 Agustus 2026 di Semarang, Jawa Tengah, sejumlah desainer muda mempresentasikan konsep hunian yang menjawab kebutuhan generasi lahir antara 1981 hingga 1996. Ruang multifungsi menggantikan ruang tamu tertutup. Area kerja dari rumah โ€” home office โ€” naik jadi kebutuhan mutlak pasca pandemi. Garasi berkurang ukuran seiring naiknya penggunaan transportasi umum dan ojek online.

"Milenial tidak mau bayar mahal untuk ruang yang tidak dipakai," ujar salah satu pembicara di pameran tersebut, mengutip hasil survei preferensi pembeli pertama kali. Data menunjukkan 68 persen responden memilih ruang terbuka yang fleksibel dibanding tata ruang konvensional dengan pembatas dinding tebal. Kamar mandi en-suite di setiap kamar tidur โ€” dulu ciri mewah โ€” kini dianggap efisien cukup satu atau dua unit yang besar bersama.

Pergeseran ini tak terlepas dari realitas ekonomi. Harga tanah di perkotaan melonjak, menyurutkan luas bangunan rata-rata dari 90 meter persegi jadi 60 meter persegi. Biaya operasional โ€” listrik, air, keamanan โ€” jadi pertimbangan berat. Generasi yang tumbuh dengan internet juga cenderung minimalis: barang-barang fisik digantikan cloud storage, koleksi buku jadi e-book, sehingga ruang penyimpanan besar tak lagi dibutuhkan.

Bagi pengembang properti, sinyal ini tidak bisa diabaikan. Beberapa developer besar di Jabodetabek sudah meredam proyek tipe 70/150 โ€” luas bangunan 70 meter persegi di lahan 150 meter persegi โ€” dan beralih ke tipe 45/60 dengan desain efisien. Arsitek muda yang memamerkan karyanya di Semarang justawarkan solusi: furnitur modular, Partisi geser, dan atap yang bisa dibuka untuk sirkulasi udara alami tanpa AC.

Dampak ke depannya, pasar properti sekunder akan merasakan getaran. Rumah-rumah besar generasi sebelumnya โ€” dengan ruang tamu mewah, kamar pembantu, dan halaman luas โ€” mungkin kesulitan menemukan pembeli milenial. Nilai jual kembali properti konvensional berisiko tertekan jika tidak dilakukan renovasi substansial. Ini menciptakan peluang baru bagi industri renovasi dan retrofitting.

Analisis Redaksi

Pergeseran preferensi ini bukan sekadar mode, tapi respons rasional terhadap tekanan gaji stagnan, harga tanah melonjak, dan gaya hidup digital. Milenial membeli fungsi, bukan status. Developer yang tetap memaksakan produk lama โ€” rumah besar dengan fitur-fitur "kuno" โ€” akan terjebak stok invendable. Yang menang adalah yang paham: efisiensi ruang sekarang lebih bernilai dari luasan lahan.

Perlu diwaspadai: kebijakan perizinan dan tata ruang kota (RTRW) yang masih mengacu standar lama โ€” misalnya persyaratan minimal lahan 100 meter persegi atau rasio bangunan ketat โ€” bisa menghambat inovasi tipe hunian baru. Pemerintah daerah sebaiknya mulai merevisi regulasi agar fleksibel mengakomodasi kebutuhan generasi produktif ini. Langkah logis selanjutnya: kolaborasi arsitek, developer, dan perencana kota untuk merumuskan standar hunian milenial yang terjangkau, berkelanjutan, dan lulus regulasi.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ