Pertamina Bangun Dua Sumur Bor Layani 153 KK Pasca Gempa Manggarai

PT Pertamina (Persero) menyelesaikan pembangunan dua sumur bor di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sebagai lanjutan program pemulihan pasca gempa yang kini mengantisipasi kebutuhan air bersih 153 kepala keluarga serta sejumlah fasilitas umum vital.
Kedua sumur itu terdistribusi di titik yang strategis: sumur pertama di Mata Air, Kecamatan Reok, bermeter 32 meter dengan debit satu liter per detik melayani 85 KK dan Polsek Reok; sumur kedua di Kelurahan Wangkung, kedalaman 28 meter dengan debit 1,3 liter per detik menopang 68 KK, Gereja Stasi Wangkung, SDK Kedindi, dan PAUD St. Arnoldus Wangkung. Masing-masing dilengkapi menara air, tandon 1.100 liter, pompa, dan jaringan pipa hingga ke pintu rumah warga.
Sebelum infrastruktur ini beroperasi, Kristian Wawo, warga Watubaur, Kelurahan Wangkung, harus berjalan hampir dua kilometer sekadar mengantongi air untuk minum dan masak. "Banyak suka dukanya untuk mendapatkan air bersih. Sekarang sumber air sudah dekat berkat bantuan dari Pertamina," ujarnya, Kamis (17/9/2026). Amelia, tetangganya, menambah, akses air justru jadi paling kritis saat gempa melanda Manggarai dan membuat sumber alami sulit dijangkau.
Fase tanggap darurat sendiri telah melihat Pertamina menyalurkan 108.500 liter air bersih via mobil tangki serta 2.805 dus air mineral. VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan pola dukungan disesuaikan tahap bencana: cepat saat darurat, berkelanjutan saat pulih. "Harapannya, manfaat sumber air ini tidak hanya dirasakan pada masa pemulihan, tetapi dapat terus digunakan masyarakat dalam jangka panjang," tegasnya.
Kini, bagi warga Watubaur seperti Kristian dan Amelia, air bersih tak lagi berarti perjalanan memakan waktu dan tenaga. Kehadiran sumur bor ini sekaligus menopang fungsi sosial โ sekolah, tempat ibadah, pos keamanan โ yang jadi tulang punggung kehidupan komunitas pasca bencana di Kabupaten Manggarai.
Analisis Redaksi
Peralihan dari distribusi air darurat ke pembangunan sumur bor menandakan pergantian paradigma bantuan: dari kebutuhan mendadak ke ketahanan infrastruktur. Strategi bertahap yang diambil Pertamina โ tanggap darurat lalu investasi aset tetap โ mencerminkan pemahaman bahwa pemulihan bencana tak selesai di evakuasi, tapi pada pemulihan fungsi ekonomi dan sosial warga. Namun, keberlanjutan dua sumur ini kini bergantung pada manajemen berbasis komunitas dan alokasi anggaran desa untuk pemeliharaan pompa serta kualitas air.
Yang perlu diwaspadai adalah kapasitas debit yang relatif kecil โ satu hingga 1,3 liter per detik โ terhadap pertumbuhan populasi dan potensi musim kemarau panjang yang kerap mengeringkan akuifer di NTT. Tanpa sistem monitoring kualitas air berkala dan dana pemeliharaan rutinas yang jelas dari APBDes atau CSR berkelanjutan, infrastruktur ini berisiko jadi monumen sementara. Langkah logis selanjutnya adalah memastikan pengelolaan air diserahkan ke BUMDes atau Kelompok Pengelola Air Minum (KPAM) yang profesional, didampingi pemeriksaan laboratorium berkala agar manfaat jangka panjang yang diharapkan Baron benar-benar terealisasi.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Balik Arah Menguat 1,13% ke 5.114 Pagi Ini, Didorong Antisipasi Agenda Ekonomi Global

BPS Catat Inflasi RI Tembus 0,22% di Oktober 2026, Lebih Rendah dari Ekspektasi Pasar

IHSG Tercatat Buruk Sepuluh Tahun, 10 Saham Ini Ambruk hingga 97%
