Danantara Resmikan PSEL Bogor Raya 1, Target Kelola 500 Ribu Ton Sampah per Tahun

Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management dan PT Daya Energi Bersih Nusantara meresmikan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Kamis (17/9/2026). Proyek ini menjadi fasilitas PSEL ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah Denpasar Raya dan Kota Bekasi, menutup kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.
Fasilitas ini ditargetkan mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau 1.500 ton per hari, menurunkan emisi dari Tempat Pembuangan Akhir hingga 80 persen, serta memotong emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara COโ per tahun. Operasional komersial dijadwalkan pertengahan 2028, dijalankan oleh Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Nusantara Bogor New Energy.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan urgensi penanganan sampah yang sudah memasuki tahap darurat. "Dulu ada sekitar 160 aturan yang membuat prosesnya rumit, sekarang sudah kita pangkas menjadi tiga saja. Dengan begitu, proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik bisa berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujarnya. Penyederhanaan regulasi itu merujuk pada amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menjadi landasan hukum proyek ini.
Sisi komersial sudah terikat: Danantara menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dengan PT PLN (Persero) dengan tarif pembelian US$ 0,20 per kWh untuk seluruh kapasitas yang dihasilkan. Lahan milik TNI Angkatan Darat sudah dikunci melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor, menunggu proses penyerahan hak agar status kepemilikan berada pada pemerintah daerah yang tergabung dalam kawasan aglomerasi.
Teknologi tungku pembakaran moving grate dilengkapi Sistem Pengendalian Pencemaran Udara (APCS) dirancang mengacu standar EU Industrial Emissions Directive (EU IED), acuan pengendalian emisi industri paling ketat di dunia. Pemilihan teknologi disesuaikan dengan karakteristik sampah Indonesia yang berair tinggi. Di luar fasilitas utama, lokasi ini juga ditetapkan sebagai pusat riset teknologi dan inovasi pengelolaan sampah terintegrasi, membuka kolaborasi dengan perguruan tinggi. Rencana lanjutan, PSEL Bogor Raya 2 akan dikembangkan di Kayumanis melayani Kota Bogor dan Depok, bagian dari 17 titik PSEL nasional mencakup 33 kabupaten/kota.
Analisis Redaksi
Kecepatan proyek PSEL Bogor Raya 1 dari konsep ke groundbreaking dalam waktu singkat membuktikan Perpres 109/2025 bukan sekadar jargon deregulasi. Penyingkiran 157 aturan tumpang tindih menciptakan certainty hukum yang lama jadi hambatan investor. Tarif PLN US$ 0,20/kWh โ jauh di atas rata-rata biaya produksi PLTU โ adalah subsidi terselubung yang membuat proyek layak finansial, tapi beban akhirnya turun ke tarif listrik pengguna atau APBN via kompensasi PLN.
Tantangan nyata ada di pasca-pembangunan: konsistensi supply sampah 1.500 ton/hari butuh sistem koleksi terintegrasi dari 33 kabupaten/kota yang belum tentu siap. Pengalaman PSEL lain menunjukkan kemacetan logistik dan kualitas sampah tidak seragam jadi penyebab underperformance. Pusat riset di Galuga harus jawab soal adaptasi teknologi EU IED ke karakteristik sampah tropis, bukan cuma sertifikat di kertas. Keberhasilan proyek ini jadi benchmark bagi 16 titik PSEL lain โ gagal di Bogor, rantai nasional goyah.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Robert Budi Hartono Kembali Jadi Orang Terkaya RI, Kekayaan Capai US$12,2 Miliar

Emiten TAPG Bagi Dividen Interim Rp1,39 T, Rekaman pada 12 November 2026

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell
