Danantara Resmikan PSEL Bogor Raya 1, Investasi Rp2,8 T Olah 500 Ribu Ton Sampah Tahunan

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara meresmikan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Kamis (17/9), menandai proyek pengolahan sampah terbesar di wilayah tersebut dengan nilai investasi Rp2,8 triliun.
Proyek ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, setara sekitar 45 persen timbulan sampah terolah dari Kota dan Kabupaten Bogor. Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan proyek telah memasuki tahap krusial dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) pada hari yang sama.
Dirancang mengacu standar European Industrial Emission Directive (EU IED), PSEL Bogor Raya 1 diproyeksikan menurunkan emisi sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 80 persen serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun. Kebutuhan lahan TPA pun ditargetkan berkurang 80 persen, sementara energi hijau yang dihasilkan mampu menyuplai lebih dari 100.000 rumah tangga di Bogor Raya.
Proses seleksi proyek melibatkan lebih dari 60 tenaga ahli dan profesional dari berbagai latar belakang, termasuk pengalaman proyek PSEL internasional di Asia Pasifik, Eropa, hingga Timur Tengah. Pandu menilai keterlibatan tim independen membuktikan pemilihan berjalan dengan tata kelola baik, didukung keahlian teknis operasional, hukum, finansial, dan lingkungan.
Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menargetkan pembangunan rampung dalam waktu maksimal dua tahun. Ia mengakui persoalan sampah terus berlanjut selama konstruksi berlangsung, khususnya sampah organik yang menimbulkan bau. "Dari sekarang sampai dua tahun, sampah jalan terus," ujar Jumhur, sambil menegaskan target Indonesia zero waste pada 2029.
Jumhur menyoroti PSEL baru mencakup 60-an kabupaten/kota, sehingga 470-an wilayah lain masih memerlukan solusi. Proyek ini mengikuti implementasi serupa di Kota Bekasi dan Denpasar Raya dua bulan terakhir, menjadi bagian strategi jangka panjang pemerintah dalam mengatasi tumpukan sampah nasional.
Analisis Redaksi
Investasi Rp2,8 triliun untuk PSEL Bogor Raya 1 mengisyaratkan seriusnya pemerintah mengubah paradigma sampah dari beban menjadi aset energi. Namun, target dua tahun penyelesaian konstruksi ambisius mengingat kompleksitas teknologi termal standar EU IED dan proses perizinan lahan yang kerap jadi hambatan proyek infrastruktur serupa. Pengalaman proyek PSEL Bekasi dan Denpasar seharusnya jadi referensi, bukan sekadar narasi keberhasilan.
Klaim penurunan emisi 80 persen dan 640 ribu ton CO2 setara per tahun perlu diverifikasi independen saat operasional nanti. Lebih kritis lagi: 470-an kabupaten/kota yang belum tercakup PSEL membutuhkan skema pembiayaan dan teknologi yang bisa direplikasi, tidak hanya bergantung pada dana negara via Danantara. Tanpa partisipasi swasta yang masif dan tata kelola sampah dari sumber (reduce, reuse, recycle), target zero waste 2029 berisiko jadi jargon kosong.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Robert Budi Hartono Kembali Jadi Orang Terkaya RI, Kekayaan Capai US$12,2 Miliar

Emiten TAPG Bagi Dividen Interim Rp1,39 T, Rekaman pada 12 November 2026

IHSG Raih Penguatan 0,95% di Sesi I, Asing Borong 10 Saham Ini Meski Catat Net Sell
