Selasa, 3 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

MIND ID Sebut Lima Tantangan Tambang: Cadangan, DMO, hingga Hilirisasi Mineral Strategis

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

MIND ID Sebut Lima Tantangan Tambang: Cadangan, DMO, hingga Hilirisasi Mineral Strategis
BAGIKAN:

MIND ID mengaku menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara yang semakin kompleks, namun tetap melihat peluang besar untuk memaksimalkan nilai tambah bagi negara. Hal itu disampaikan Direktur Utama Maroef Sjamsoeddin saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026).

Maroef memaparkan lima isu utama yang jadi perhatian holding ini. Pertama, keberlanjutan cadangan dan tantangan operasional yang mencakup volatilitas harga, penerapan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) yang belum konsisten, hingga peningkatan biaya operasi. Masalah pembebasan serta tumpang tindih lahan, penambangan ilegal, dan kebutuhan energi andal pun jadi rumah sakit tersendiri.

Kedua, pengelolaan sisa hasil pertambangan (SHP) dipandang bukan sekadar beban lingkungan. MIND ID mendorong pemanfaatan SHP sebagai potensi sumber daya sekunder melalui teknologi dan pendekatan ekonomi sirkular. Ketiga, untuk komoditas batu bara, tantangannya bagaimana sumber daya besar termasuk batubara kalori rendah dan sisa pengolahan bisa diubah jadi produk bernilai lebih tinggi.

Keempat, hilirisasi mineral strategis tidak boleh berhenti di produk antara atau midstream. Arahnya harus menuju material dan produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan industri nasional dan global. Kelima, seluruh agenda pengembangan itu wajib sejalan dengan perlindungan lingkungan, kepentingan masyarakat, tata kelola baik, dan keberlanjutan.

Untuk mewujudkan rantai nilai terintegrasi dari hulu ke hilir, Maroef menegaskan butuh sinergi nyata. Ia menunjuk lima pilar: sinergi antar BUMN, pemerintah, legislatif DPR, dunia usaha, dan lembaga penelitian. "Agar kekayaan alam mineral dan batubara Indonesia benar-benar menjadi fondasi industrialisasi, ketahanan ekonomi, dan penciptaan nilai tambah nasional," ujarnya.

Pernyataan ini datang di meja Komisi XII yang mengawasi urusan energi dan mineral. Tekanan DMO yang "belum konsisten" menujuk pada ketegangan lama antara kebutuhan energi domestik bernilai terjangkau dan komersialitas kontraktor. Sementara isu tumpang tindih lahan dan penambangan ilegal mencerminkan kelemahan pengawasan lapangan yang sudah bertahun-tahun tak terselesaikan.

Analisis Redaksi

Pengakuan Maroef soal DMO yang belum konsisten dan biaya operasi melonjak membuka tabir realita: kebijakan hulu sering bertabrakan dengan kebutuhan hilir. MIND ID sebagai holding BUMN tambang sebenarnya punya kunci integrasi antar anak usaha seperti Antam, Bukit Asam, dan Timah, tapi eksekusi sinergi itu sering terjebak ego perusahaan dan perbedaan target KPI. Jika holding ini benar-benar bisa memaksa alur logistik dan pemasaran terpadu, efisiensi biaya operasional yang dikomplain Maroef baru bisa terealisasi.

Fokus pada batubara kalori rendah dan SHP sebagai sumber daya sekunder menandakan geseran naratif: dari "menguras cadangan" jadi "mengoptimalkan sisa". Ini langkah logis mengingat cadangan premium semakin tipis. Namun, keberhasilan bergantung pada kesiapan teknologi pengolahan batubara yang ekonomis dan regulasi insentif yang jelas. Tanpa harga patokan yang menunjang, proyek down streaming kalori rendah hanya jadi beban buku besar.

Ke depan, perhatian perlu diarahkan ke dua hal: pertama, apakah DPR via Komisi XII akan mengirim sinyal kuat lewat revisi regulasi (termasuk UU Minerba) yang mengunci konsistensi DMO dan kepastian lahan. Kedua, realisasi sinergi BUMN itu sendiri โ€” apakah hanya sebatas MOU ceremonial atau lahir joint operation konkret di lapangan. Tanpa keduanya, daftar lima tantangan Maroef akan tetap sama di RDP tahun depan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ