Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bahlil Lahadalia: Dari Pengusaha ke Menteri ESDM Tanpa Latar Belakang Migas

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Bahlil Lahadalia: Dari Pengusaha ke Menteri ESDM Tanpa Latar Belakang Migas
BAGIKAN:

Bahlil Lahadalia mengakui tidak memiliki pendidikan atau pengalaman bisnis di sektor minyak dan gas bumi, namun justru hal itu menjadi modalnya untuk mengatasi krisis energi Indonesia. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ia mengungkap strategi inovatif yang dijalankan untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan menstabilkan harga subsidi.

Tidak Sekolah Pertambangan, Tetapi Mengelola Krisis Energi

Bahlil menegaskan bahwa ia tidak pernah belajar di jurusan pertambangan, tidak memiliki bisnis di sektor migas, dan kampusnya pun tidak dikenal di dunia akademik. Namun, pengalaman sebagai pengusaha dan mantan Menteri Investasi mempersiapkannya untuk menghadapi tantangan di Kementerian ESDM.

Di era pandemi Covid-19, ketika hampir seluruh negara terpengaruh ketidakpastian investasi, Bahlil berhasil meningkatkan total investasi di Indonesia dari Rp 790 triliun (2019) menjadi Rp 1.700 triliun (2024), melebihi target 100%. Strateginya? Tidak mengandalkan teori akademik, melainkan tiba saat, tiba akal.

Impor Minyak: Tantangan dan Solusi

Indonesia masih mengimpor 1 juta barel minyak per hari, padahal produksi dalam negeri hanya 600.000 barel per hari. Ketidakpastian pasokan melalui Selat Hormuz (yang menyuplai 20-25% kebutuhan dalam negeri) menjadi risiko besar. Bahlil mengkritik para pakar yang hanya memberikan solusi teoretis tanpa tindakan konkret.

Solusinya? Mengalihkan sumber minyak dari Middle East ke negara lain seperti Angola dan Rusia, dengan prinsip utama: barang ada dan murah. Negosiasi dengan Rusia dilakukan dengan tegas, menolak intervensi negara lain dalam kebijakan Indonesia.

Harga Subsidi Tetap Stabil, Meskipun Harga Global Naik

Harga minyak global saat ini mencapai 106 dolar per barel, jauh di atas target APBN (70 dolar per barel). Namun, Bahlil menjamin subsidi minyak tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, meskipun harga global berfluktuasi.

Strategi ini didasarkan pada prinsip pengusahaannya: di mana orang susah, itu tempat peluang. Dengan diversifikasi sumber minyak dan negosiasi harga, ia berusaha menjaga stabilitas ekonomi tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat.

Kepastian Harga: Prioritas Utama

Bahlil menekankan bahwa urusan energi adalah hajat hidup masyarakat. Meskipun tantangan global seperti krisis pasokan atau fluktuasi harga, kepastian harga subsidi menjadi komitmen pemerintah. Strategi yang dijalankan tidak hanya berfokus pada pasokan, tetapi juga pengendalian harga agar tidak merugikan rakyat.

Dengan pendekatan ini, ia berharap Indonesia dapat lebih mandiri dalam menyediakan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸