Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Uang Panas Dubai Eksodus ke Singapura, Orang Kaya China Banting Setir ke Malaysia

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Uang Panas Dubai Eksodus ke Singapura, Orang Kaya China Banting Setir ke Malaysia
BAGIKAN:

CEO Malayan Bank Bhd (Maybank) Singapura Alvin Lee mengungkapkan pada Selasa (8/9) bahwa konglomerat Asia, terutama dari China dan Timur Tengah, kian agresif memindahkan portofolio kekayaan ke Singapura dan Malaysia. Singapura menjadi tujuan utama dana offshore dan emas fisik, sementara Malaysia dilirik sebagai basis bisnis dan hunian karena harga properti lebih efisien. Pergeseran ini dipicu konflik Timur Tengah, stabilitas politik, perlindungan hukum, dan rezim pajak yang ramah investor.

Singapura Kembali Menjadi Magnet Modal

Lee menyebut ada eksodus modal dan aset emas dalam jumlah besar dari Dubai menuju Singapura. Menurutnya, kekayaan offshore akan terus memilih Singapura karena negara itu konsisten meraup keuntungan saat krisis regional maupun global. Status safe haven, stabilitas politik, perlindungan hukum yang kuat, serta pajak yang ramah investor menjadi alasan utamanya.

Dalam pandangan saya sebagai ekonom makro, ini bukan sekadar arus modal jangka pendek. Singapura sedang mengukuhkan posisinya sebagai pusat kekayaan Asia yang sulit digantikan, terutama ketika geopolitik Timur Tengah memburuk. Uang yang dulu keluar ke Dubai kini pulang, dan itu sinyal kuat bahwa persepsi risiko global telah berubah.

Malaysia Jadi Basis Baru Investor China

Di sisi lain, investor kawakan China mulai melirik Malaysia sebagai basis ekspansi bisnis dan tempat tinggal keluarga. Faktor efisiensi harga dan valuasi properti Malaysia yang relatif lebih murah dibanding Singapura menjadi daya tarik utama. Kuala Lumpur, Melaka, dan Penang disebut sebagai kawasan yang paling diminati.

Data Hurun Global Rich List mencatat China memiliki 1.110 miliarder, mengungguli Amerika Serikat yang sekitar 1.000 miliarder. Kelompok superkaya ini terus mendiversifikasi portofolio ke aset fisik, terutama properti dan logam mulia, di tengah ketidakpastian pasar finansial. Analisis saya, Malaysia berada di titik manis: harga belum semahal Singapura, tetapi infrastruktur dan konektivitas kian matang.

Emas Masih Jadi Aset Perlindungan

Meski melandai dari rekor tertinggi awal tahun, harga emas masih tertahan di level tinggi US$4.400 per troy ounce. Analisis Goldman Sachs bahkan memproyeksikan harga emas berpeluang melesat menembus US$4.900 per troy ounce pada akhir tahun, didorong masifnya aksi beli bank sentral global.

Bagi investor, kombinasi Singapura, Malaysia, dan emas mencerminkan strategi lindung nilai yang rasional. Namun, saya mengingatkan bahwa arus uang panas tetap bisa berbalik arah bila risiko global mereda. Karena itu, pemerintah Malaysia dan Singapura perlu menjaga iklim investasi, bukan hanya menarik dana, tetapi juga mengikatnya dalam aktivitas ekonomi riil.

FAQ Terkait Berita Ini

Mengapa Singapura kembali dilirik orang kaya Asia? Karena status safe haven, stabilitas politik, perlindungan hukum kuat, dan pajak ramah investor, terutama saat konflik Timur Tengah memanas.

Mengapa Malaysia menjadi alternatif? Harga dan valuasi properti relatif lebih murah dibanding Singapura, menarik untuk tempat tinggal maupun ekspansi bisnis di Kuala Lumpur, Melaka, dan Penang.

Bagaimana prospek harga emas? Harga masih tinggi di US$4.400 per troy ounce, dan Goldman Sachs memproyeksikan berpotensi menembus US$4.900 per troy ounce akhir tahun.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ