Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

LPS Peringatkan Bank: Jangan Biarkan DPK Membengkak Tanpa Kredit Turun ke Real Sektor

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

LPS Peringatkan Bank: Jangan Biarkan DPK Membengkak Tanpa Kredit Turun ke Real Sektor
BAGIKAN:

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengeluarkan sinyal peringatan bagi industri perbankan nasional: pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menggelinding tidak berarti apa-apa jika tidak diimbangi percepatan penyaluran kredit ke sektor riil.

Pernyataan ini disampaikan Kepala Divisi Komunikasi dan Pemasaran LPS, Arif Susanto, dalam acara Power Lunch CNBC Indonesia, Rabu (9/9/2026). Ia mengakui likuiditas perbankan saat ini masih sangat nyaman—tercermin dari LDR yang terkendali dan DPK yang tumbuh solid. Namun, Arif menegaskan, "efisiensi intermediasi" harus jadi prioritas utama.

Paradoks Likuiditas: Dana Melimpah, Kredit Melambat

Data per Agustus 2026 menunjukkan DPK tumbuh dua digit year-on-year (yoy), didorong tabungan dan deposito. Sisi lain, pertumbuhan kredit masih mengendap di angka satu tinggi. Bagi mata terlatih, ini bukan cerminan kesehatan, melainkan ketidakefisienan alokasi modal.

"Bank jangan jadi 'gudang dana' yang aman tapi tidak produktif," ujar Arif. "Jika DPK tumbuh 12% tapi kredit hanya 8%, NIM (Net Interest Margin) akan tertekan dan profitabilitas jangka panjang terancam. Lebih parah, roda perekonomian tidak berputar optimal."

Analisis Siti Amalia: Waktu untuk 'Risk Appetite' Terukur

Sebagai pengamat, saya membaca peringatan LPS ini bukan sekadar retorik rutin, melainkan tekanan struktural. Bank Indonesia (BI) telah lama menurunkan BI Rate dan mengencerkan GWM (Giro Wajib Minimum) untuk mendorong kredit. Namun, transmission mechanism masih macet di tingkat risk appetite bank.

Bank masih trauma NPL (Non Performing Loan) era pandemi dan memilih 'main aman' di SBI/SUN. Ini rasional secara mikro, tapi berbahaya makro. LPS—sebagai penjamin simpanan yang *exposure*-nya ke DPK—punya *skin in the game*: terlalu banyak dana *idle* berarti biaya penjaminan naik tanpa *counterparty* risiko kredit yang sehat.

Kunci selanjutnya ada di KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan segmentasi UMKM. Jika bank besar enggan turun *downstream*, LPS dan OJK mungkin perlu mempertimbangkan insentif *capital charge* yang lebih agresif untuk kredit produktif, atau disinsentifkan penempatan dana di instrumen risiko nol berlebihan.

Antisipasi Tekanan Eksternal

Peringatan ini juga *timely* mengingat ketidakpastian global: Fed *rate cut* yang lambat, geopolitik panas, dan potensi *capital outflow* kuartal IV-2026. Jika *funding cost* naik tapi *yield* aset tetap rendah karena kredit tidak turun, CAR (Capital Adequacy Ratio) bank bisa erosi diam-diam.

FAQ Terkait Berita Ini

Mengapa LPS khawatir soal DPK tumbuh cepat tapi kredit lambat?
Karena menciptakan *negative carry*: bank bayar bunga deposito/tabanan tinggi tapi dana cuma diinvestasikan di SBI/SUN *yield* rendah. Margin tergerus, ketahanan bank menurun jangka panjang.

Apa dampaknya ke nasabah biasa?
Jangka pendek aman (dana dijamin LPS). Jangka panjang, jika bank tidak profitabel, layanan menurun, bunga tabungan ditekan, dan akses kredit UMKM/rumah tetap sulit.

Apakah OJK akan intervensi?
Kemungkinan besar OJK akan memperketat pengawasan *business plan* bank 2027, memastikan target kredit realistis dan *stress testing* likuiditas lebih ketat, bukan intervensi administrasi mentah.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸