Bisnis RI Kena 'Stress Test' Bencana: Erupsi hingga Karhutla Ancam Ketahanan Operasional
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ancaman erupsi gunung berapi, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan keselamatan warga, tapi kini menjadi ujian nyata bagi daya tahan dunia usaha di Indonesia. Peringatan ini disampaikan oleh ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, dalam program Squawk Box, Rabu (09/09/2026), yang menggarisbawahi bahwa bencana alam dan risiko iklim telah menjadi stress test bagi sektor korporasi di tengah posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik.
Pertemuan tiga lempeng tektonik besar—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling rawan bencana vulkanik dan seismik. Ditambah dengan fenomena kemarau panjang yang memicu karhutla, risiko lingkungan ini berdampak langsung pada rantai pasok, aset fisik, hingga tenaga kerja. Menurut Salma Laiqa, dari sisi Environmental, Social, and Governance (ESG), bencana menguji seberapa tangguh perusahaan dalam melindungi aset dan melanjutkan operasi saat krisis.
Dampak ESG: Dari Aset hingga Tata Kelola
Analisis Salma Laiqa menyoroti tiga dimensi kunci. Pertama, lingkungan: kerusakan infrastruktur dan gangguan produksi akibat letusan atau kebakaran dapat melumpuhkan sektor pertambangan, perkebunan, dan pariwisata. Kedua, sosial: pekerja dan masyarakat sekitar terdampak langsung, yang berujung pada penurunan produktivitas dan beban sistem kesehatan. Ketiga, tata kelola: kemampuan manajemen dalam merespons darurat, menjaga transparansi, dan memastikan keberlanjutan usaha menjadi cermin ketahanan jangka panjang.
Sebagai pakar ekonomi makro, saya menilai bahwa daya tahan bisnis Indonesia menghadapi ujian berat. Perusahaan-perusahaan yang telah mengintegrasikan manajemen risiko berbasis iklim dalam strategi mereka cenderung lebih siap. Namun, masih banyak pelaku usaha yang menganggap bencana sebagai kejadian langka, bukan variabel rutin dalam perencanaan. Padahal, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan frekuensi kejadian ekstrem meningkat, dan biaya pemulihan yang ditanggung swasta bisa mencapai triliunan rupiah.
Antisipasi dan Peluang di Balik Risiko
Lantas, apa yang harus dilakukan? Pertama, perusahaan perlu melakukan pemetaan kerentanan aset dan menyusun rencana kontingensi yang teruji. Kedua, diversifikasi lokasi operasi dan rantai pasok dapat mengurangi ketergantungan pada satu wilayah rawan. Ketiga, kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas lokal dalam program mitigasi, seperti rehabilitasi lahan dan sistem peringatan dini, tidak hanya melindungi bisnis tetapi juga memperkuat lisensi sosial.
Dari sudut pandang investasi, krisis ini justru membuka peluang bagi sektor asuransi, teknologi kebencanaan, dan energi terbarukan. Investor global kini semakin menuntut kepatuhan ESG yang kuat, dan perusahaan yang mampu melewati 'stress test' ini akan mendapat penilaian premium di pasar modal. Saya optimis, dengan kesadaran kolektif dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mengubah tantangan geografis menjadi kekuatan kompetitif.
Simak telaah mendalam bersama Salma Laiqa dalam Squawk Box CNBC Indonesia untuk wawasan lebih lanjut tentang strategi bisnis menghadapi ancaman iklim dan vulkanik. Jangan lewatkan juga analisis kami terkait resiliensi korporasi di tengah dinamika alam.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dimaksud dengan 'stress test' bisnis akibat bencana?
Stress test adalah simulasi untuk mengukur sejauh mana perusahaan mampu bertahan dan memulihkan operasi saat terjadi gangguan ekstrem, seperti erupsi atau karhutla, yang menguji ketahanan aset, tenaga kerja, dan tata kelola.
Bagaimana cara perusahaan mengantisipasi risiko karhutla?
Perusahaan dapat melakukan pengelolaan lahan berbasis mitigasi, membuat zona penyangga, berinvestasi pada sistem deteksi dini, serta menyusun protokol evakuasi dan pemulihan yang terintegrasi dengan pemerintah daerah.
Apakah isu ESG hanya relevan bagi perusahaan besar?
Tidak. Usaha kecil dan menengah juga rentan, karena bencana dapat memutus rantai pasok dan akses pasar. Penerapan prinsip ESG secara proporsional justru membantu UMKM membangun kepercayaan dan keberlanjutan jangka panjang.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904,29, Bayang-Bayang Pemilu AS dan Pelemahan Minyak Tekan Pasar

PGN Perkuat Komitmen Pengembangan Energi Rendah Karbon dengan Infrastruktur dan Inisiatif Dekarbonisasi

IHSG Anjlok 3,52%, Analis Mirae Asset Soroti Kombinasi Rebalancing dan Sikap Risk-Off Investor
