Satu Tahun Eksperimen, Menkeu Purbaya Klaim Ekonomi RI Siap Tembus 6% pada 2027
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa setelah genap satu tahun menjabat, ia kini memahami seluruh akar masalah ekonomi Indonesia dan telah merumuskan solusi konkret. Dalam pernyataannya di kompleks DPR, Selasa (8/9/2026), Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi nasional akan mencapai 6% pada 2027, didorong oleh hasil eksperimen kebijakan yang telah dijalankan selama setahun terakhir.
"Karena kita sudah ngerti sekarang. Kan kemarin setahun semacam eksperimen, mana yang bisa, mana yang enggak, mana yang ganggu, mana yang enggak. Sekarang sudah kita beresin semua," ujar Purbaya di hadapan awak media. Keyakinan itu ia sampaikan setelah melaporkan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sebesar 5,39% dan kuartal I-2026 yang sempat melesat ke 5,61% (yoy), sebelum sedikit melandai ke 5,29% pada kuartal II-2026.
Eksperimen Kebijakan dan Target Kuartal IV-2026
Purbaya menegaskan bahwa berbagai skenario fiskal telah diuji sepanjang 2025–2026 untuk menemukan formula percepatan. Ia menargetkan pada kuartal IV-2026, laju pertumbuhan mendekati 6%, dan pada 2027 angka itu bisa diraih dengan konsisten. "Target tahun ini kita dorong di kuartal IV mendekati, lebih cepat ke arah 6%. Tahun depan mudah-mudahan target 6% bisa tercapai. Bahkan bisa lebih," tegasnya.
Menurutnya, kesesuaian antara program Presiden Prabowo Subianto dengan kebutuhan riil ekonomi menjadi kunci. "Program Pak Presiden Prabowo amat real, dan pokoknya akan signifikan ke ekonominya," imbuh Purbaya. Ia merujuk pada insentif investasi, percepatan infrastruktur, dan reformasi birokrasi yang mulai terlihat dampaknya terhadap kebijakan fiskal dan daya beli masyarakat.
Analisis: Optimisme yang Perlu Diuji
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai pernyataan Purbaya membawa angin segar sekaligus tantangan. Eksperimen kebijakan memang penting, namun realisasi pertumbuhan 6% di tengah ketidakpastian global—seperti volatilitas harga komoditas dan suku bunga acuan—membutuhkan konsistensi eksekusi. Yang menarik, fokus pada program nyata Presiden Prabowo, seperti hilirisasi dan digitalisasi UMKM, bisa menjadi katalis jika didukung insentif investasi yang tepat sasaran.
Namun, kita tidak boleh abai pada faktor eksternal. Neraca perdagangan dan stabilitas rupiah tetap menjadi penentu. Jika pemerintah mampu menjaga inflasi dan mendorong ekspor non-migas, target 6% bukanlah mimpi. Yang perlu diwaspadai adalah jebakan policy trial-and-error yang justru mengganggu kepastian berusaha. Sejauh ini, sinyal dari Kemenkeu menunjukkan arah yang jelas, tapi pasar menunggu bukti konkret di lapangan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dimaksud 'eksperimen kebijakan' oleh Menkeu Purbaya?
Eksperimen tersebut merujuk pada uji coba berbagai instrumen fiskal, mulai dari relaksasi pajak, subsidi tepat sasaran, hingga percepatan belanja pemerintah, yang dievaluasi selama setahun untuk menentukan formula paling efektif mendorong pertumbuhan.
Mengapa target 6% baru dicanangkan pada 2027, bukan 2026?
Purbaya melihat perlunya waktu untuk mematangkan implementasi program, dengan kuartal IV-2026 sebagai titik pemanasan. Dia yakin efek berganda dari kebijakan baru akan terasa penuh pada tahun depan, seiring dengan siklus investasi dan konsumsi domestik.
Bagaimana peran program Presiden Prabowo dalam proyeksi ini?
Program prioritas seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara, hilirisasi industri, dan ketahanan pangan dinilai memiliki pengganda tinggi terhadap program Prabowo yang langsung menyentuh sektor riil, sehingga diyakini mampu menopang akselerasi pertumbuhan di atas 6%.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Sinar Mas dan Salim Group Buka Suara: Boss Sawit Diklarifikasi di Singapura terkait Karhutla

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital

Ancaman Capital Outflow: Rupiah Berpotensi Rontok ke Rp18.350 di Akhir 2026
