Indonesia Incar Pasar Digital Irlandia Bernilai 300 Miliar Euro, Ini Peluang dan Tantangannya
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Pemerintah Indonesia membidik pasar digital Irlandia yang nilainya mencapai 300 miliar euro sebagai pintu masuk ke pasar global.
- Deputi Kemenko Perekonomian Edi Prio Pambudi menilai potensi investasi langsung dari Irlandia ke Indonesia sangat terbuka, meski saat ini belum terlihat besar.
- Kerja sama bilateral ini diharapkan mempercepat ekspansi produk digital Indonesia tanpa harus membangun ekosistem global dari nol.
Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Indonesia terus mengintensifkan kerja sama bilateral dengan Irlandia, dengan fokus utama merambah pasar digital negara Eropa tersebut yang nilainya mencapai 300 miliar euro. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk mempercepat penetrasi produk digital Tanah Air ke rantai pasok global, tanpa harus memulai dari titik nol dalam membangun ekosistem internasional.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengungkapkan bahwa Irlandia merupakan salah satu eksportir jasa digital terbesar dunia, bahkan menembus pasar Amerika Serikat dengan volume ekspor digital yang fantastis. “Mereka sudah mengekspor digital mencapai 300 miliar euro,” ujar Edi di kantornya, Jumat (4/9/2026). Angka ini, menurutnya, menjadi celah emas bagi Indonesia untuk menempelkan produk-produk unggulan digital ke dalam ekosistem yang sudah mapan.
Edi menekankan bahwa membangun pasar global secara mandiri membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, memanfaatkan jembatan Irlandia ke pasar internasional dinilai lebih efisien. “Kalau nanti kita membuat suatu komponen yang penting, kita bisa melalui pasar global Irlandia,” tegasnya. Meskipun demikian, ia mengingatkan agar tidak terpaku pada ukuran investasi langsung (direct investment) yang saat ini masih kecil, melainkan melihat potensi jangka panjang yang jauh lebih besar. “Jadi jangan dilihat dari sizenya sekarang, lihat potensinya yang lebih besar,” ungkapnya.
Komitmen kedua negara untuk saling membuka akses investasi disebut sudah menguat, dan pemerintah optimistis aliran modal digital dari Irlandia akan meningkat seiring dengan perbaikan iklim investasi dan infrastruktur digital di Indonesia. Namun, tantangan seperti regulasi, kesiapan sumber daya manusia, dan perlindungan data tetap menjadi catatan penting agar kerja sama ini tidak hanya sekadar wacana.
Analisis Pakar
Peluang yang ditawarkan Irlandia memang menggiurkan, tetapi kita perlu membedahnya dengan kritis. Irlandia bukan sekadar negara kecil; ia adalah pusat data dan hub teknologi bagi raksasa global seperti Google, Apple, dan Meta karena kebijakan pajak korporasi yang agresif. Nilai ekspor digital 300 miliar euro tersebut sebagian besar adalah aliran pendapatan dari perusahaan multinasional yang berkantor di sana, bukan murni produk asli Irlandia. Maka, pertanyaan besarnya adalah: apakah Indonesia mampu menawarkan nilai tambah yang cukup untuk masuk ke dalam rantai nilai tersebut, atau justru kita akan menjadi pasar penyerap bagi layanan digital mereka?
Dari sisi investasi langsung, kita tidak boleh berharap terlalu tinggi dalam waktu dekat. Irlandia cenderung menanamkan modal di negara dengan infrastruktur digital matang dan kepastian hukum yang tinggi. Indonesia masih bergulat dengan birokrasi yang berbelit, ketidakpastian regulasi, dan kesenjangan talenta digital. Jika pemerintah serius, maka kebijakan insentif fiskal, percepatan sertifikasi kompetensi, serta harmonisasi standar data dengan Uni Eropa harus menjadi prioritas. Tanpa itu, potensi hanya akan tetap menjadi angan-angan.
Yang lebih strategis adalah bagaimana kita memanfaatkan akses pasar Irlandia untuk menembus Eropa secara lebih luas. Perjanjian perdagangan digital bilateral bisa menjadi batu loncatan, tetapi harus diimbangi dengan peningkatan daya saing produk digital dalam negeri—mulai dari fintech, e-commerce, hingga solusi agritech. Sayangnya, narasi yang disampaikan masih terlalu makro dan minim detail teknis tentang sektor digital mana yang akan diprioritaskan. Pemerintah perlu menyusun peta jalan yang terukur, bukan sekadar pernyataan optimistis.
Kesimpulan saya: peluang itu nyata, tetapi eksekusi adalah segalanya. Indonesia tidak boleh terjebak dalam euforia angka tanpa menyiapkan fondasi. Kerja sama dengan Irlandia harus diikuti dengan reformasi struktural di dalam negeri, terutama dalam hal perlindungan data, keamanan siber, dan kemudahan berusaha. Jika itu terwujud, maka 300 miliar euro bukanlah target yang mustahil, melainkan sebuah tonggak yang bisa mengubah posisi Indonesia di peta digital global.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu pasar digital Irlandia dan mengapa nilainya mencapai 300 miliar euro?
A: Pasar digital Irlandia merujuk pada ekspor jasa dan produk berbasis teknologi dari perusahaan multinasional yang berpusat di Irlandia, termasuk layanan cloud, perangkat lunak, dan data center. Nilai tersebut mencerminkan total ekspor jasa digital negara tersebut ke seluruh dunia, terutama ke AS dan Eropa. - Q: Bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan pasar digital Irlandia?
A: Indonesia dapat menjadi mitra penyedia komponen digital, seperti aplikasi, solusi AI, atau outsourcing pengembangan perangkat lunak, serta menarik investasi langsung dari perusahaan Irlandia untuk membangun pusat data atau R&D di Indonesia, sekaligus menggunakan Irlandia sebagai pintu masuk ke pasar Eropa. - Q: Apa tantangan utama kerja sama digital Indonesia-Irlandia?
A: Tantangan utamanya adalah perbedaan regulasi, terutama soal perlindungan data dan pajak digital, kesiapan infrastruktur internet Indonesia, serta kekurangan talenta digital bersertifikasi internasional yang mampu bersaing di rantai pasok global.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Sinar Mas dan Salim Group Buka Suara: Boss Sawit Diklarifikasi di Singapura terkait Karhutla

Pendapatan Telkom Tembus Rp113,5 Triliun, Transformasi TLKM 30 Dorong Pertumbuhan Digital

Ancaman Capital Outflow: Rupiah Berpotensi Rontok ke Rp18.350 di Akhir 2026
