Charly ST12 Siap Panggung, Ribuan Gen Z Diharap Melek Keuangan di Lampung

Ringkasan Singkat
- Charly Setia Band (eks ST12) akan menjadi bintang hiburan di Financial Festival 2026 di Lampung, 5-6 September.
- Acara kolaborasi LPS dan CNBC Indonesia ini menargetkan peningkatan literasi keuangan bagi Generasi Z dan masyarakat luas.
- Masih ada lebih dari 15 juta penduduk usia produktif tanpa rekening bank, mendorong urgensi festival edukasi ini.
Jakarta – Satu lagi nama besar yang siap meramaikan panggung Financial Festival 2026. Charly Setia Band, yang dulu dikenal sebagai vokalis ST12, dipastikan akan menghibur para peserta di Kota Lampung pada 5–6 September mendatang. Mantan personel band pop melayu itu dijadwalkan membawakan deretan lagu hits andalannya, khusus untuk menyegarkan pikiran para Generasi Z yang seharian mengikuti sesi edukasi keuangan.
Festival ini merupakan inisiatif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang bekerja sama dengan CNBC Indonesia. Acara ini mempertemukan para pemangku kepentingan sektor keuangan—mulai dari pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, akademisi, hingga masyarakat umum—dalam satu wadah untuk berdiskusi, berbagi perspektif, dan mendorong percepatan literasi keuangan nasional. Kehadiran Charly bukan sekadar hiburan, melainkan strategi menarik minit generasi muda agar antusias memahami produk dan layanan perbankan.
LPS, sebagai anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan, memiliki amanat konstitusional untuk meningkatkan inklusi keuangan. Data terbaru menunjukkan bahwa masih ada lebih dari 15 juta penduduk usia produktif yang belum memiliki rekening simpanan di bank. Angka ini menjadi pekerjaan rumah besar yang menggerakkan LPS untuk terus menjangkau daerah-daerah, salah satunya melalui festival yang dikemas apik dengan pendekatan pop culture. Pendaftaran dibuka secara gratis dan diharapkan mampu menarik ribuan peserta dari berbagai kalangan.
Analisis Pakar
Kehadiran musisi populer seperti Charly Setia Band dalam acara edukasi keuangan bukanlah sekadar gimmick. Ini adalah cermin dari realitas bahwa literasi keuangan di Indonesia masih bergulat dengan tantangan persepsi: masyarakat menganggap topik ini kaku, membosankan, dan jauh dari keseharian. Padahal, pemahaman tentang tabungan, investasi, dan perlindungan deposito adalah fondasi ketahanan ekonomi rumah tangga. LPS dan CNBC Indonesia patut diapresiasi karena berani memecah kebekuan itu dengan menghadirkan elemen hiburan yang relevan dengan segmen usia produktif—terutama Gen Z yang tumbuh di era digital dan sangat dipengaruhi oleh budaya pop.
Namun, saya menyoroti bahwa efek jangka pendek dari strategi ini belum tentu sebanding dengan biaya dan upaya yang dikeluarkan. Apakah setelah mendengar lagu “Karena Cinta” atau “Skuter” mereka benar-benar akan langsung membuka rekening atau mengecek produk simpanan LPS? Jawabannya tidak otomatis. Agar dampaknya berkelanjutan, festival ini harus dilengkapi dengan mekanisme tindak lanjut yang konkret, misalnya kemudahan pembukaan rekening secara on-the-spot, simulasi investasi langsung, atau konsultasi keuangan one-on-one yang tidak hanya berhenti di panggung.
Dalam konteks makro, target 15 juta penduduk tanpa rekening adalah masalah serius yang mencerminkan ketimpangan akses dan kepercayaan terhadap sektor perbankan. Banyak yang masih ragu karena literasi yang rendah, namun tidak sedikit yang terhalang oleh jarak, biaya administrasi, dan minimum saldo. Di sinilah peran regulator seperti LPS harus bergerak lebih agresif—tidak hanya menggandeng musisi, tetapi juga mendorong perbankan untuk menyederhanakan produk dan memberikan insentif nyata bagi pemula. Edukasi tanpa produk yang inklusif hanyalah setengah jalan.
Sebagai jurnalis finansial, saya menilai festival ini adalah langkah positif, tetapi jangan berhenti di acara seremonial. Evaluasi pascafestival mengenai jumlah peserta yang benar-benar membuka rekening atau meningkatkan pengetahuannya harus diukur secara transparan. Jika tidak, tahun depan kita akan kembali mendengar angka 15 juta yang sama, hanya dengan muka pemusik yang berbeda. Saya berharap LPS dan KSSK menjadikan festival ini sebagai pilot project yang bisa direplikasi dengan ukuran keberhasilan yang terukur, bukan sekadar euforia panggung.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu Financial Festival 2026 dan siapa penyelenggaranya?
A: Financial Festival 2026 adalah acara edukasi dan literasi keuangan yang digelar oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bekerja sama dengan CNBC Indonesia. Acara berlangsung di Kota Lampung pada 5–6 September 2026 dan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor keuangan serta hiburan untuk masyarakat.
Q: Mengapa Charly Setia Band dipilih untuk festival ini?
A: Charly Setia Band (eks ST12) dipilih karena memiliki daya tarik besar di kalangan Generasi Z dan masyarakat luas. Kehadirannya bertujuan untuk membuat acara edukasi keuangan lebih segar, menarik, dan menjangkau audiens muda yang selama ini mungkin enggan mengikuti kegiatan perbankan konvensional.
Q: Bagaimana cara mendaftar dan apakah ada biaya partisipasi?
A: Pendaftaran Financial Festival 2026 dibuka secara gratis melalui kanal resmi LPS dan CNBC Indonesia. Peserta hanya perlu mengisi formulir pendaftaran daring dan memilih sesi yang diinginkan. Kuota terbatas, sehingga disarankan untuk segera mendaftar sebelum tanggal pelaksanaan.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Pemerintah Petik Pajak Rp2,18 T dari Kripto, Fintech Tembus Rp5,4 T

Harga Minyak Turun ke US$111,84 di Tengah Harapan Damai Iran-AS

Pasokan Alumina dan Aluminium RI Diproyeksi Melimpah, Ini Pendorongnya
