BYD Resmikan Pabrik Rp11,6 Triliun di Subang: Siap Produksi 150.000 Unit/Tahun, Gebrak Pasar EV ASEAN!
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

- Ringkasan Singkat Pabrik BYD di Subang resmi beroperasi, investasi Rp11,6 triliun, kapasitas 150.000 unit/tahun.
- Melibatkan 5.000 pekerja lokal, berpotensi naik hingga 20.000 pekerja saat kapasitas penuh.
- Model pertama yang diproduksi adalah BYD M6 DM dengan TKDN >40%, menandai komitmen lokal.
Ringkasan Singkat
- Pabrik BYD di Subang resmi beroperasi, investasi Rp11,6 triliun, kapasitas 150.000 unit/tahun.
- Melibatkan 5.000 pekerja lokal, berpotensi naik hingga 20.000 pekerja saat kapasitas penuh.
- Model pertama yang diproduksi adalah BYD M6 DM dengan TKDN >40%, menandai komitmen lokal.
Subang, Jawa Barat – Setelah penantian panjang, BYD akhirnya meresmikan pabrik perakitan mobil listriknya di Subang Smartpolitan Industrial Park pada Kamis (3/9). Fasilitas seluas 126 hektar ini dibangun dengan gelontoran dana Rp11,6 triliun, menjadikannya pabrik kendaraan listrik terbesar di Indonesia saat ini. Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd., menyebut pabrik ini mengintegrasikan proses stamping, welding, painting, dan assembly dalam satu lokasi—sebuah lompatan besar untuk rantai pasok otomotif nasional.
Dalam sambutannya, Liu menegaskan komitmen BYD sebagai merek pertama yang menghentikan produksi kendaraan konvensional berbahan bakar fosil sejak 2022. Hingga Agustus 2026, BYD telah menjual 17,8 juta unit kendaraan secara global, dengan 4,6 juta di antaranya terjadi sepanjang 2025. “Perjalanan ini sudah 35 tahun,” ucapnya, merujuk pada dedikasi BYD di industri baterai dan EV. Kehadiran pabrik ini bukan hanya simbolis, tetapi juga strategis untuk memenuhi insentif dari pemerintah sekaligus mengerek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40% untuk model perdana BYD M6 DM.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang turut hadir dan memuji keputusan BYD memilih Jawa Barat, dengan pertumbuhan ekonomi 5,73% year-on-year. Ia menyebut peresmian ini sebagai momentum penting di tengah lonjakan penjualan mobil listrik domestik. “Kami berharap investasi BYD tidak berhenti di pabrik, tapi meluas ke ekosistem kendaraan listrik,” ujar Agus, menekankan harapan terbentuknya klaster industri baterai, charging station, dan riset lokal.
Analisis Pakar
Oleh Doni Surya – Reviewer Otomotif
BYD tidak main-main. Investasi Rp11,6 triliun untuk lahan 126 hektar dengan kapasitas 150.000 unit per tahun adalah pernyataan perang terhadap merek Jepang dan Korea yang selama ini mendominasi ASEAN. Yang menarik, BYD memilih Subang—bukan Karawang atau Bekasi yang sudah padat—menandakan visi jangka panjang untuk ekspansi dan logistik yang terintegrasi dengan pelabuhan Patimban. Proses produksi yang mencakup stamping hingga painting berarti BYD membawa teknologi canggih, termasuk press die berteknologi tinggi dan cat elektrostatik yang ramah lingkungan, yang selama ini hanya dimiliki pabrikan kelas atas.
Namun, tantangan terbesar bukanlah mesin, melainkan rantai pasok lokal. TKDN >40% untuk M6 DM adalah awal yang baik, tetapi untuk mencapai target 60% pada tahun depan, BYD harus memaksa pemasok lokal meningkatkan kualitas komponen seperti motor listrik, inverter, dan sistem manajemen baterai. Jangan kaget jika kita melihat joint venture dengan perusahaan lokal seperti Astra atau GMF untuk memproduksi baterai prismatik di sini. Kapasitas 150.000 unit juga masih setengah dari pabrik Hyundai di Cikarang—tapi BYD punya keunggulan: vertikal integrasi baterai yang membuat biaya produksi lebih rendah 20-30% dibanding kompetitor.
Saya juga menyoroti pernyataan Liu tentang 35 tahun perjalanan—itu bukan basa-basi. BYD memulai sebagai produsen baterai, dan keahlian itu adalah senjata rahasia. Dengan tren penjualan EV di Indonesia yang naik 300% dalam dua tahun terakhir, pabrik ini akan menjadi katalis untuk harga mobil listrik yang lebih terjangkau. Namun, pemerintah harus memastikan infrastruktur pengisian daya dan insentif pajak tidak ketinggalan. Jika semua berjalan mulus, Subang bisa menjadi Detroit-nya Asia Tenggara, dan BYD akan menjadi raja baru otomotif hijau.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan BYD mulai produksi massal di Subang?
A: Peresmian dilakukan 3 September 2026, produksi massal diperkirakan mulai kuartal IV 2026, dengan BYD M6 sebagai model perdana. - Q: Berapa harga BYD M6 yang diproduksi di Indonesia?
A: Belum diumumkan resmi, namun dengan TKDN >40%, harga diperkirakan lebih kompetitif, sekitar Rp400-500 jutaan, di bawah model impor. - Q: Apa saja yang diproduksi di pabrik Subang?
A: Pabrik ini melakukan stamping (pencetakan bodi), welding (pengelasan), painting (pengecatan), dan assembly (perakitan) untuk berbagai model BYD, diawali dengan M6 DM (plug-in hybrid).
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Debut Apollo EVO di Amerika: Hypercar $3.3 Juta dengan Mesin V12 800 HP dan Eksekusi Keras

Lelang Honda Vario 150 Pelat Merah di Jakarta: Harga Limit Rp 2,86 Juta, Kondisi Rusak Berat

BYD Klaim 5.000 Pekerja Lokal di Pabrik Subang, Targetkan 20.000 Penyerapan Naker Saat Kapasitas Maksimal
