Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ajudan TNI AL di Kontes Waria Thailand Diperiksa: 'Misi Pengawalan' atau 'Pencitraan'?

HukumSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ajudan TNI AL di Kontes Waria Thailand Diperiksa: 'Misi Pengawalan' atau 'Pencitraan'?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Prajurit TNI AL berpangkat ajudan anggota DPD Arya Wedakarna (AWK) diperiksa Lanal Denpasar setelah viral mendampingi AWK di ajang Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand, dengan mengenakan seragam dinas.
  • Danlanal Denpasar Kolonel Ary Mahayasa mengonfirmasi pemeriksaan dan menyebut ada surat resmi permintaan ajudan dari AWK sejak setahun lalu, namun masih mendalami apakah ada pelanggaran prosedur.
  • AWK mengklaim hadir sebagai tokoh pariwisata Bali, bukan pejabat negara, dan mengaku tak paham kontes transgender tersebut, sementara netizen menyoroti kesan 'mewakili institusi' di ajang kontroversial.

Bangkok, Thailand – Sorotan publik terhadap TNI AL kembali mencuat setelah seorang prajuritnya, yang bertugas sebagai ajudan anggota DPD RI Arya Wedakarna (AWK), tampak mendampingi AWK dalam ajang kontes kecantikan transgender Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand. Kehadiran prajurit berseragam Pakaian Dinas Harian (PDH) itu mengundang kecaman warganet, dan kini prajurit tersebut tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar.

Komandan Lanal Denpasar, Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa, membenarkan bahwa personel yang bersangkutan sedang dimintai keterangan. "Berita terkait viral itu kita sedang mendalami. Kita sedang mempelajari, sedang mendalami, terutama di pihak Lanal sendiri," ujar Ary kepada awak media di Mako Lanal Denpasar, Kamis (3/9). Ia menambahkan bahwa prajurit tersebut memang ditugaskan sebagai ajudan AWK sejak setahun lalu dan terdapat surat resmi dari AWK yang meminta penugasan itu. Namun, Ary menegaskan bahwa proses pemeriksaan akan menentukan apakah ada pelanggaran etika atau prosedur militer.

Sementara itu, AWK yang juga dikenal sebagai tokoh adat Bali, memberikan klarifikasi terpisah. Ia menyatakan kehadirannya di acara itu bukan dalam kapasitas sebagai pejabat negara, melainkan sebagai duta pariwisata Bali. "Mengenai pemilihan miss miss macam-macam, saya nggak paham karena mungkin itu rangkaian ya. Jadi saya duduk hadir menerima penghargaan ya sudah pulang, gitu ya," ujarnya. Namun, pernyataan ini justru memperkuat pertanyaan publik: apakah prajurit TNI AL yang bertugas mengawal AWK seharusnya hadir dalam ajang yang secara eksplisit bertema komunitas transgender, yang di Indonesia masih memiliki sensitivitas sosial dan hukum? Apalagi, penggunaan seragam dinas di luar negeri sering diartikan sebagai representasi institusi negara.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah bertahun-tahun meliput institusi pertahanan dan politik, saya menilai kasus ini bukan sekadar persoalan protokol, melainkan cerminan dari tata kelola pengawalan pejabat sipil oleh aparatur militer yang masih ambigu. Pertama, penugasan ajudan TNI AL kepada anggota DPD—yang bukan merupakan pejabat setingkat menteri atau kepala negara—seharusnya memiliki aturan baku yang jelas. Jika surat permintaan AWK diakui ada, maka seberapa jauh batas kewenangan ajudan dalam mendampingi kegiatan yang berpotensi kontroversial? Apakah ada mekanisme pengkajian risiko dan citra sebelum personel diterbangkan ke luar negeri dengan seragam dinas?

Kedua, pernyataan AWK yang mengaku "tidak paham" kontes transgender justru menunjukkan kelalaian dalam memetakan acara yang akan dihadiri. Sebagai anggota DPD yang juga tokoh publik, ia seharusnya memiliki tim yang mengkaji setiap agenda internasional, apalagi jika melibatkan aparat TNI. Ketidaktahuan ini bukan alasan, melainkan bukti minimnya koordinasi antara ajudan dan prinsipal. Di sisi lain, TNI AL juga tidak bisa lepas tangan—surat izin penugasan setahun lalu tidak otomatis meng-cover semua kegiatan, terutama yang bersentuhan dengan isu gender dan agama yang sangat sensitif di Indonesia.

Ketiga, penggunaan seragam PDH di ajang kontes waria menimbulkan pertanyaan tentang citra institusi. TNI AL adalah garda terdepan kedaulatan laut, bukan pengiring penghulu acara hiburan. Bahkan jika ajudan tersebut hanya menjalankan tugas pengawalan fisik, kehadirannya dalam balutan seragam dinas di lokasi yang dipenuhi simbol-simbol LGBT+ memberi kesan 'pengesahan' dari pihak militer—sebuah kesan yang sangat berbahaya di tengah maraknya penolakan terhadap LGBT di tanah air. Saya menduga ada kealpaan serius baik dari ajudan maupun atasannya di jajaran Lanal Denpasar dalam memberikan briefing sebelum penugasan.

Keempat, respons Lanal yang hanya mengatakan "akan ditindaklanjuti jika terbukti bersalah" terkesan normatif. Publik membutuhkan transparansi: apakah ada aturan tertulis yang melarang prajurit berdinas di acara sejenis? Apakah ajudan tersebut mendapatkan izin khusus dari atasannya untuk mengenakan seragam di luar kegiatan resmi kenegaraan? Tanpa klarifikasi yang tegas, kasus ini akan menjadi preseden buruk bagi disiplin prajurit. Saya mendesak pihak TNI AL untuk membuka hasil pemeriksaan secara terbatas kepada publik dan merevisi aturan penugasan ajudan untuk pejabat non-eselon, agar kejadian serupa tidak terulang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah prajurit TNI AL tersebut sudah dijatuhi sanksi?
    A: Belum. Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan di Lanal Denpasar. Danlanal Ary Mahayasa menyatakan sanksi akan diberikan jika terbukti melanggar aturan.
  • Q: Apa hubungan Arya Wedakarna dengan TNI AL sehingga mendapat ajudan?
    A: Arya Wedakarna adalah anggota DPD RI. Ia meminta penugasan prajurit TNI AL sebagai ajudan pribadi sejak setahun lalu dengan surat resmi, dan disetujui oleh TNI AL. Namun, ruang lingkup tugas ajudan masih diperdebatkan.
  • Q: Apakah kontes Miss Equality World 2026 merupakan acara resmi pemerintah Thailand?
    A: Tidak. Ini adalah kontes kecantikan transgender yang bersifat internasional namun non-pemerintah. AWK mengaku hadir atas undangan sebagai tokoh pariwisata, bukan mewakili Indonesia.
Meow! Tanya Nesi!
😸