Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Tembus Puluhan Juta Views: Strategi 'Earworm' Shopee 9.9 Ubah Konten Viral Jadi Mesin Konversi Ritel

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Tembus Puluhan Juta Views: Strategi 'Earworm' Shopee 9.9 Ubah Konten Viral Jadi Mesin Konversi Ritel
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kolaborasi Shopee bersama Naykilla dan Tenxi lewat lagu 'Kasih Aba-Aba 2.0' sukses besar dengan meraup lebih dari 41 juta total tayangan di berbagai platform digital.
  • Lagu kampanye ini memicu gelombang User-Generated Content (UGC) massal, di mana ribuan warganet menggunakan audionya untuk berbagai konten kreatif.
  • Fenomena ini mencerminkan pergeseran taktik pemasaran modern, di mana keterlibatan aktif konsumen menjadi kunci utama keberhasilan kampanye ritel menjelang festival belanja 9.9.

Dalam lanskap bisnis digital yang kian kompetitif, menarik perhatian konsumen bukan lagi sekadar memajang produk, melainkan menciptakan interaksi. Langkah inilah yang berhasil dieksekusi oleh raksasa e-commerce Shopee melalui kampanye digital terbaru mereka. Kolaborasi apik bersama kreator lokal Naykilla dan Tenxi lewat lagu 'Kasih Aba-Aba 2.0' sukses bertransformasi dari sekadar jingle iklan menjadi fenomena budaya pop di media sosial.

Data menunjukkan bahwa penetrasi kampanye ini sangat masif di berbagai platform digital utama. Di TikTok, video iklan Shopee 9.9 ini telah menembus angka fantastis dengan lebih dari 18 juta tayangan. Dominasi ini berlanjut di Instagram dengan raihan 13 juta tayangan, serta YouTube yang mencatatkan lebih dari 10 juta penayangan. Angka-angka ini bukan sekadar metrik kosong, melainkan indikator kuat dari tingginya eksposur merek (brand exposure) di mata publik.

Kekuatan utama dari kampanye ini terletak pada konsep User-Generated Content (UGC). Audio 'Kasih Aba-Aba 2.0' kini telah diadopsi ke dalam ribuan video kreasi mandiri oleh warganet. Mulai dari tantangan transisi busana (Jedag Jedug Challenge), format karaoke interaktif ala Tenxi, hingga video aktivitas harian seperti Get Ready With Me (GRWM) dan video bongkar paket (unboxing). Fleksibilitas audio ini memungkinkan audiens mengekspresikan karakter pribadi mereka tanpa merasa terbebani oleh format iklan yang kaku.

"Nggak harus bikin konten yang ribet, justru keseruannya ada saat kamu bisa membawa versi dan karakter sendiri ke dalam tren ini," tulis keterangan resmi Shopee, Rabu (2/9). Dengan memberikan kebebasan kreatif kepada konsumen, Shopee berhasil meruntuhkan sekat antara korporasi dan pelanggan, menciptakan ekosistem promosi organik yang digerakkan oleh masyarakat sendiri.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat fenomena viralitas 'Kasih Aba-Aba 2.0' ini dari kacamata yang lebih luas: efisiensi biaya akuisisi pelanggan (Customer Acquisition Cost/CAC) dan pergeseran perilaku konsumen di era digital. Di tengah ketatnya persaingan industri e-commerce di Asia Tenggara, strategi pemasaran konvensional satu arah (top-down) sudah mulai kehilangan taringnya. Konsumen modern, khususnya Gen Z dan Milenial, memiliki resistensi yang tinggi terhadap iklan langsung. Mereka lebih memilih interaksi yang autentik dan partisipatif.

Dengan memanfaatkan taktik earworm marketing—menciptakan lagu yang adiktif dan mudah diingat—Shopee berhasil menurunkan hambatan psikologis konsumen terhadap iklan. Ketika konsumen secara sukarela menggunakan audio tersebut untuk konten pribadi mereka, mereka secara tidak sadar bertindak sebagai agen pemasar (brand advocates) gratis bagi Shopee. Secara makro, ini adalah strategi yang sangat cerdas untuk menekan CAC sekaligus meningkatkan Customer Lifetime Value (CLV) melalui keterikatan emosional (emotional engagement) yang dibangun sejak dini sebelum festival belanja 9.9 dimulai.

Selain itu, kita harus melihat ini sebagai bagian dari pertumbuhan pesat ekonomi kreatif di Indonesia. Kampanye interaktif seperti ini memberikan panggung bagi kreator mikro dan nano untuk ikut naik daun. Ada efek pengganda ekonomi (multiplier effect) di sini; ketika sebuah tren viral, permintaan terhadap produk-produk pendukung konten—seperti ring light, kosmetik untuk GRWM, hingga pakaian untuk transisi—juga ikut terkerek naik. Ini membuktikan bahwa kampanye e-commerce tidak lagi berdiri di ruang hampa, melainkan menjadi katalisator bagi ekosistem bisnis digital yang lebih luas.

Namun, tantangan terbesar bagi Shopee pasca-viralitas ini adalah konversi. Pertanyaan krusialnya: mampukah puluhan juta views dan ribuan video UGC ini dikonversi menjadi transaksi riil (Gross Merchandise Value/GMV) pada puncak festival belanja 9.9 nanti? Di sinilah integrasi sistem antara media sosial dan aplikasi belanja (social commerce integration) akan diuji. Jika Shopee mampu menyelaraskan euforia di media sosial dengan kemudahan transaksi dan promosi yang menggiurkan di aplikasinya, maka kampanye ini akan tercatat sebagai salah satu studi kasus pemasaran digital paling sukses tahun ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu lagu 'Kasih Aba-Aba 2.0' yang sedang viral?
A: 'Kasih Aba-Aba 2.0' adalah lagu tema (jingle) resmi untuk kampanye belanja Shopee 9.9 yang dibawakan secara kolaboratif oleh musisi lokal Naykilla dan Tenxi.

Q: Mengapa lagu kampanye Shopee 9.9 ini bisa digunakan oleh ribuan warganet?
A: Lagu ini dirancang dengan irama dinamis dan lirik yang mudah diingat (earworm), serta didukung oleh tantangan kreatif seperti Jedag Jedug Challenge dan Karaoke Challenge yang memicu partisipasi aktif pengguna media sosial.

Q: Berapa total tayangan yang diraih oleh video kampanye ini?
A: Hingga saat ini, video kampanye tersebut telah meraup lebih dari 18 juta tayangan di TikTok, 13 juta tayangan di Instagram, dan lebih dari 10 juta tayangan di YouTube.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸