Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PLTS 78 kW Buka 24 Jam Listrik di Pulau Rengit: Bisnis Nelayan & UMKM Melejit

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

PLTS 78 kW Buka 24 Jam Listrik di Pulau Rengit: Bisnis Nelayan & UMKM Melejit
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Panel surya 78 kW di PulauRengit menggantikan pembangkit diesel, menyediakan listrik 24 jam untuk 44 rumah (≈200 jiwa).
  • Proyek bagian PLTS100GWp Presiden PresidenPrabowoSubianto menurunkan BPP listrik dari Rp16.700/kWh menjadi Rp12.300/kWh dan mengurangi emisi CO₂ ≈ 99,5 ton/tahun.
  • Listrik bersih memicu peluang usaha: nelayan dapat menyimpan hasil laut, pembuat kapal kayu meningkatkan produktivitas, dan UMKM lokal siap ekspansi.

Senja menutup hari di Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, ketika cahaya keemasan memantul pada barisan panel PLTS berkapasitas 78 kilowatt‑peak (kWp) milik PLN. Sebelumnya, pulau kecil ini mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang hanya beroperasi 12 jam per hari. Sekarang, 44 kepala keluarga (sekitar 200 jiwa) menikmati pasokan listrik nonstop, sekaligus menurunkan jejak karbon secara signifikan.

Penggantian PLTD dengan PLTS merupakan bagian integral dari Program PLTS 100 GWp yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026. Program ini mencakup 14 proyek percontohan dengan total kapasitas 5.300 MWp, menargetkan percepatan transisi energi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Manfaatnya terasa langsung di lapangan. Hendra, nelayan rajungan, kini dapat membeli freezer untuk menyimpan hasil tangkapan lebih lama, meningkatkan nilai jual dan mengurangi kerugian pasca‑panen. "Dulu harus cepat‑cepat kembali ke Tanjung Pandan, sekarang listrik 24 jam memungkinkan saya menahan kualitas produk," ujarnya pada 1 September 2026.

Itam Ali, pembuat kapal kayu, menambahkan bahwa ketersediaan listrik sepanjang hari memungkinkan penggunaan peralatan listrik secara optimal, meningkatkan produktivitas dan membuka ruang untuk diversifikasi produk. "Saya bisa mengoperasikan mesin pemotong kayu di siang dan malam tanpa khawatir mati," katanya.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan komitmen perusahaan dalam mempercepat realisasi target energi terbarukan, khususnya di daerah 3T. "Kami akan mengintegrasikan panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, bahkan sel bahan bakar hidrogen dalam ekosistem Green Energy Technopark (GEET)," ujarnya.

General Manager Unit Induk Pembangkitan Dwipantara, Rita Triani, menjelaskan bahwa integrasi multi‑EBT meningkatkan ketersediaan energi harian dari 72 kWh (sistem diesel) menjadi lebih dari 200 kWh, sekaligus menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kWh. Penghematan ini tidak hanya mengurangi beban tarif bagi konsumen, tetapi juga meningkatkan margin operasional PLN di wilayah terpencil.

Analisis Pakar

Secara makro, proyek PLTS di Pulau Rengit menjadi studi kasus konkret bagaimana kebijakan energi terbarukan dapat menghasilkan efek multiplier pada ekonomi lokal. Dengan menurunkan BPP listrik, daya beli rumah tangga meningkat, yang pada gilirannya mendorong permintaan barang konsumsi dan layanan. Bagi sektor perikanan, kemampuan menyimpan hasil tangkapan secara dingin memperpanjang rantai pasok, memungkinkan nelayan menargetkan pasar premium di kota‑kota besar, bukan lagi hanya pasar lokal yang tertekan harga.

Integrasi multi‑EBT (surya + BESS + turbin angin + fuel cell) menandai evolusi model bisnis PLN dari sekadar penyedia listrik menjadi operator platform energi. Model ini membuka peluang bagi investor swasta, terutama di bidang penyimpanan energi dan layanan nilai‑tambah (misalnya, penyewaan freezer, cold‑storage, atau layanan IoT untuk monitoring konsumsi). Dengan tarif listrik yang lebih kompetitif, UMKM di pulau tersebut dapat mengadopsi mesin produksi yang sebelumnya terhalang oleh biaya energi tinggi.

Dari perspektif fiskal, penurunan BPP sebesar 26 % memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggaran ke sektor lain, seperti pendidikan atau infrastruktur transportasi laut. Namun, keberlanjutan proyek tetap bergantung pada pemeliharaan BESS dan ketersediaan suku cadang. Oleh karena itu, penting bagi PLN dan mitra lokal untuk membangun kapasitas teknis melalui program pelatihan dan skema layanan purna jual yang terjangkau.

Ke depan, skala proyek serupa di kepulauan 3T dapat menjadi katalisator bagi pencapaian target swadaya energi nasional. Jika pemerintah dapat mereplikasi model integrasi multi‑EBT dengan biaya modal yang terkontrol, Indonesia berpotensi menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil hingga 30 % dalam dekade berikutnya, sekaligus menambah PDB melalui sektor energi bersih.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa kapasitas listrik yang disediakan PLTS di Pulau Rengit?
    A: PLTS berkapasitas 78 kW‑peak, cukup untuk melayani 44 rumah (≈200 orang) secara 24 jam.
  • Q: Bagaimana proyek ini memengaruhi tarif listrik bagi penduduk?
    A: Biaya Pokok Penyediaan turun dari Rp16.700/kWh menjadi Rp12.300/kWh, sehingga tarif akhir bagi konsumen diperkirakan turun sekitar 20‑25 %.
  • Q: Apa saja komponen teknologi yang digabungkan dalam sistem energi pulau?
    A: Sistem mengintegrasikan panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, dan fuel cell hidrogen dalam kerangka Green Energy Technopark (GEET).

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸