Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pagu Kemenhub Rp32,9 T: Menakar Ambisi Zero ODOL 2027 di Tengah Keterbatasan Anggaran

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pagu Kemenhub Rp32,9 T: Menakar Ambisi Zero ODOL 2027 di Tengah Keterbatasan Anggaran
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kementerian Perhubungan mendapatkan pagu anggaran sebesar Rp32,93 triliun untuk tahun 2027, masih di bawah usulan kebutuhan riil kementerian.
  • Sektor keselamatan transportasi menjadi prioritas utama dengan alokasi terbesar mencapai Rp10,99 triliun (33,38% dari total anggaran).
  • Fokus utama mencakup implementasi penuh kebijakan Zero ODOL pada 2027, konektivitas wilayah perintis, serta penguatan infrastruktur laut dan udara.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi mengantongi pagu anggaran sebesar Rp32,93 triliun untuk tahun anggaran 2027. Kendati angka ini dinilai belum memenuhi seluruh usulan kebutuhan kerja yang diajukan, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa fokus utama kementerian tidak akan bergeser dari aspek keselamatan dan konektivitas nasional.

Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Menhub memaparkan bahwa porsi terbesar dari anggaran tersebut—yakni sebesar Rp10,99 triliun atau setara 33,38%—dialokasikan khusus untuk mendukung program keselamatan di berbagai moda transportasi. Langkah ini diambil guna memastikan standar operasional transportasi publik dan logistik di Indonesia semakin andal.

Secara rinci, distribusi anggaran ini tersebar ke berbagai unit eselon 1. Ditjen Perhubungan Laut mendapatkan porsi terbesar kedua setelah keselamatan, yakni senilai Rp9,82 triliun, disusul oleh Ditjen Perkeretaapian sebesar Rp8,19 triliun, Ditjen Perhubungan Udara sebesar Rp6,12 triliun, dan Ditjen Perhubungan Darat sebesar Rp5,15 triliun. Sisa anggaran didistribusikan untuk pengembangan SDM (BPSDM) sebesar Rp2,44 triliun, Sekretariat Jenderal, serta unit kerja lainnya.

Salah satu sorotan utama dalam rencana kerja 2027 adalah komitmen penuh untuk merealisasikan kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Over Load) di sektor darat. Selain penertiban truk obesitas, Kemenhub juga tetap mempertahankan subsidi untuk angkutan perintis darat, laut, dan udara guna menjaga konektivitas di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Di sektor laut, anggaran akan difokuskan pada program Tol Laut serta peningkatan fasilitas pelabuhan dan navigasi pelayaran.

Analisis Pakar

Melihat postur anggaran Kemenhub tahun 2027 yang "hanya" sebesar Rp32,93 triliun, kita kembali dihadapkan pada realitas klasik APBN kita: kesenjangan yang lebar antara ambisi pembangunan nasional dan ruang fiskal yang tersedia. Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat keputusan Menhub mengalokasikan sepertiga anggaran (33,38%) untuk sektor keselamatan sebagai langkah defensif yang logis, namun sekaligus mencerminkan kecemasan mendalam. Keselamatan adalah fondasi utama dari kepercayaan publik dan efisiensi ekonomi. Tanpa jaminan keselamatan yang kokoh, biaya ekonomi makro akibat kecelakaan dan kerusakan infrastruktur justru akan membengkak jauh melampaui nilai efisiensi anggaran yang coba dicapai.

Namun, mari kita bedah target ambisius implementasi penuh Zero ODOL pada tahun 2027. Kebijakan ini sudah berulang kali ditunda selama bertahun-tahun karena resistensi kuat dari industri logistik yang khawatir akan lonjakan biaya angkut. Dengan alokasi Ditjen Perhubungan Darat yang hanya Rp5,15 triliun, pengawasan di lapangan akan menjadi tantangan yang sangat berat. Tanpa digitalisasi sistem pengawasan (seperti jembatan timbang pintar terintegrasi) dan penegakan hukum yang bebas pungli, target Zero ODOL 2027 berisiko kembali menjadi macan kertas. Pemerintah harus paham bahwa menekan ODOL tanpa memberikan insentif transisi bagi pelaku usaha logistik justru dapat memicu inflasi barang pokok di tingkat konsumen.

Di sisi lain, alokasi Rp9,82 triliun untuk Ditjen Perhubungan Laut menunjukkan bahwa poros maritim dan program Tol Laut masih menjadi tulang punggung konektivitas kita. Namun, efektivitas Tol Laut selama ini sering dikritik karena masalah muatan balik yang kosong dari wilayah timur Indonesia. Anggaran konektivitas ini tidak boleh hanya habis untuk menyubsidi operator kapal, melainkan harus diintegrasikan dengan penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah tujuan. Jika tidak, subsidi ini hanya akan menjadi beban fiskal yang tidak produktif dalam jangka panjang.

Secara keseluruhan, Kemenhub di bawah kepemimpinan Dudy Purwagandhi dituntut untuk melakukan frugal innovation atau inovasi hemat biaya. Keterbatasan anggaran ini harus disiasati dengan mendorong skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek-proyek infrastruktur non-keselamatan. Sektor swasta harus diberi ruang lebih besar untuk mendanai pembangunan fisik pelabuhan atau bandara, sehingga APBN yang terbatas dapat difokuskan sepenuhnya pada fungsi regulasi, pengawasan, dan jaminan keselamatan publik yang tidak bisa didelegasikan kepada swasta.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa anggaran keselamatan Kemenhub 2027 menjadi yang terbesar?
A: Anggaran keselamatan dialokasikan sebesar Rp10,99 triliun (33,38%) karena keselamatan merupakan prioritas utama untuk menekan angka kecelakaan, meningkatkan standar pelayanan semua moda transportasi, dan membangun kepercayaan publik terhadap transportasi nasional.

Q: Apa itu kebijakan Zero ODOL yang ditargetkan berjalan pada 2027?
A: Zero ODOL (Over Dimension Over Load) adalah kebijakan yang melarang truk bermuatan dan berdimensi lebih mengaspal di jalan raya. Tujuannya adalah mengurangi kerusakan jalan, menekan angka kecelakaan lalu lintas, dan menurunkan biaya perawatan infrastruktur jalan nasional.

Q: Bagaimana pembagian anggaran Kemenhub 2027 untuk tiap sektor transportasi?
A: Anggaran didistribusikan ke beberapa sektor utama: Ditjen Perhubungan Laut menerima Rp9,82 triliun, Ditjen Perkeretaapian Rp8,19 triliun, Ditjen Perhubungan Udara Rp6,12 triliun, dan Ditjen Perhubungan Darat sebesar Rp5,15 triliun.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸