Destry Damayanti Resmi Pimpin Bank Indonesia 2026-2031: Apa Artinya bagi Stabilitas Makro?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Destry Damayanti dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026‑2031, menggantikan Perry Warjiyo.
- Perry Warjiyo menitipkan pesan penting tentang memperkuat stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tengah gejolak global.
- Deputi Gubernur Senior akan diisi Aida S. Budiman, sementara Solikin M. Juhro menjadi Deputi Gubernur, menandai pergantian struktural di Dewan Gubernur.
Jakarta, 1 September 2026 – Setelah rapat paripurna DPR mengesahkan nama Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk periode 2026‑2031, mantan Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan ucapan selamat sekaligus pesan strategis kepada jajaran Dewan Gubernur yang baru.
Dalam pernyataan yang disampaikan secara pribadi kepada wartawan, Perry menekankan pentingnya memperkuat mandat bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter dan keuangan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. “Saya berharap Dewan Gubernur yang baru mampu memperkuat mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, di tengah gejolak global yang masih berlanjut,” ujarnya.
Perry juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan selama delapan tahun kepemimpinannya (2018‑2026) dan mendoakan agar BI terus melaksanakan mandatnya untuk kemajuan perekonomian nasional.
Pengunduran diri Perry pada 25 Juli 2026 membuka jalan bagi Destry, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, untuk mengambil alih kepemimpinan. Aida S. Budiman akan menggantikan posisi Deputi Gubernur Senior, sementara Solikin M. Juhro, mantan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial, akan menjadi Deputi Gubernur. Ketiganya dijadwalkan dilantik di Mahkamah Agung pada 2 September 2026.
Analisis Pakar
Peralihan kepemimpinan di Bank Indonesia ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan titik kritis bagi kebijakan moneter Indonesia di tengah ketidakpastian eksternal—mulai dari kebijakan suku bunga The Fed, tekanan inflasi global, hingga dinamika nilai tukar. Destry Damayanti memiliki rekam jejak kuat dalam kebijakan makroprudensial, yang menjadi aset penting untuk menahan guncangan eksternal dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Langkah pertama yang perlu diambil adalah peninjauan kembali kebijakan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate). Dengan inflasi yang masih berada di atas target jangka menengah, BI harus menyeimbangkan antara menahan laju inflasi dan tidak mengekang pertumbuhan ekonomi yang masih dalam fase pemulihan pasca‑pandemi. Pendekatan “data‑driven” yang diusung Perry akan terus relevan, namun Destry dapat menambahkan dimensi kebijakan makroprudensial yang lebih agresif, misalnya memperketat rasio likuiditas bank untuk mengurangi risiko kredit macet.
Selanjutnya, koordinasi dengan otoritas fiskal menjadi kunci. Pemerintah tengah meluncurkan paket stimulus infrastruktur yang memerlukan pembiayaan jangka panjang. BI harus memastikan bahwa aliran likuiditas tidak menimbulkan tekanan inflasi, sambil menyediakan kondisi pembiayaan yang kondusif bagi sektor riil. Di sinilah peran macro‑prudent tools seperti counter‑cyclical capital buffer (CCCB) dapat dioptimalkan.
Terakhir, dalam konteks geopolitik yang semakin volatile, kebijakan nilai tukar harus tetap fleksibel. Intervensi pasar yang terukur, dipadukan dengan komunikasi yang transparan, akan membantu mengurangi volatilitas Rupiah tanpa menimbulkan ekspektasi pasar yang berlebihan. Jika Destry mampu menegakkan kredibilitas kebijakan ini, Indonesia dapat mempertahankan kepercayaan investor asing, yang pada gilirannya akan menurunkan biaya pinjaman luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia?
A: Dilantik pada 2 September 2026 di Mahkamah Agung. - Q: Apa saja tantangan utama yang akan dihadapi Bank Indonesia di masa depan?
A: Menjaga stabilitas harga, mengelola volatilitas nilai tukar, dan memperkuat sistem keuangan di tengah tekanan global. - Q: Siapa yang akan menggantikan posisi Deputi Gubernur Senior?
A: Aida S. Budiman akan menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, sementara Solikin M. Juhro menjadi Deputi Gubernur.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Pemerintah Petik Pajak Rp2,18 T dari Kripto, Fintech Tembus Rp5,4 T

Harga Minyak Turun ke US$111,84 di Tengah Harapan Damai Iran-AS

Pasokan Alumina dan Aluminium RI Diproyeksi Melimpah, Ini Pendorongnya
