Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Destry Damayanti Resmi Ganti Gubernur BI: Fokus Utama Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Destry Damayanti Resmi Ganti Gubernur BI: Fokus Utama Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026‑2031.
  • Ia menegaskan stabilitas makroekonomi—inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan—akan menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.
  • Kebijakan yang diharapkan tidak akan mengubah arah fundamental BI, melainkan memperkuat fondasi untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.

Jakarta, CNBC Indonesia – Destry Damayanti telah disetujui oleh DPR sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2026‑2031. Pelantikan resmi akan dilangsungkan di Mahkamah Agung pada 2 September 2026.

Dalam sambutan singkatnya setelah rapat paripurna DPR pada 1 September, Destry menegaskan bahwa stabilitas ekonomi menjadi agenda utama mengingat “ketidakpastian global masih sangat tinggi”. Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter ke depan akan difokuskan pada pengendalian inflasi, menjaga nilai tukar rupiah, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan riil.

Destry menegaskan bahwa stance kebijakan BI tidak akan mengalami perubahan radikal. “Stance tetap sama: stabilitas tetap menjadi kunci, terutama ketika ketidakpastian global masih tinggi,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan kontinuitas kebijakan yang telah dijalankan oleh pendahulunya, sekaligus memberi sinyal kepada pasar bahwa tidak akan ada shock kebijakan mendadak.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat penunjukan Destry Damayanti sebagai langkah politik yang sekaligus menegaskan konsistensi kebijakan moneter Indonesia. Pada periode sebelumnya, BI berhasil menurunkan inflasi ke level target 2‑4% dan menstabilkan nilai tukar rupiah meski menghadapi tekanan eksternal seperti pengetatan kebijakan moneter AS dan fluktuasi harga komoditas. Keberhasilan tersebut menciptakan kredibilitas yang harus dipertahankan.

Fokus pada stabilitas bukan berarti BI akan mengabaikan kebutuhan stimulus bagi sektor riil. Namun, dalam konteks “ketidakpastian global”—yang mencakup perang dagang, kebijakan suku bunga Fed yang agresif, dan volatilitas pasar energi—kebijakan yang terlalu ekspansif dapat memicu inflasi yang kembali meleset dari target. Oleh karena itu, Destry perlu menyeimbangkan antara menjaga likuiditas domestik dan menahan aliran modal keluar yang dapat menekan rupiah.

Selanjutnya, kebijakan nilai tukar menjadi sinyal penting bagi investor asing. Jika BI tetap berpegang pada kebijakan “intervensi terbatas” sambil menjaga spread suku bunga yang kompetitif, Indonesia dapat mempertahankan aliran investasi langsung (FDI) dan portofolio. Namun, tekanan depresiasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan, sehingga penting bagi BI untuk memiliki cadangan devisa yang memadai dan mekanisme pasar valuta asing yang transparan.

Terakhir, stabilitas makroekonomi akan membuka ruang bagi reformasi struktural—seperti peningkatan produktivitas tenaga kerja, digitalisasi UMKM, dan pengembangan infrastruktur hijau. Tanpa fondasi stabil, upaya reformasi tersebut akan terhambat oleh volatilitas kebijakan. Dengan demikian, mandat Destry bukan sekadar menjaga angka inflasi, melainkan menciptakan ekosistem yang memungkinkan pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan tepatnya Destry Damayanti akan dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia?
    A: Pelantikan dijadwalkan pada 2 September 2026 di Mahkamah Agung.
  • Q: Apa prioritas utama kebijakan moneter BI di masa depan?
    A: Menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya inflasi, nilai tukar rupiah, dan iklim investasi.
  • Q: Apakah akan ada perubahan signifikan dalam stance kebijakan BI?
    A: Tidak. BI akan melanjutkan pendekatan yang sudah ada, dengan penekanan lebih pada stabilitas di tengah ketidakpastian global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸