Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Transformasi BUMN Tanpa PHK: Dony Oskaria Jamin Penghematan Rp60 Triliun

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Transformasi BUMN Tanpa PHK: Dony Oskaria Jamin Penghematan Rp60 Triliun
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • COO Dony Oskaria pastikan restrukturisasi BUMN tidak akan memicu PHK.
  • Target penghematan biaya kerugian BUMN diproyeksikan mencapai Rp60 triliun melalui streamlining.
  • Transformasi utama meliputi Bio Farma dan Kimia Farma, dengan restrukturisasi manajemen yang sudah menghasilkan profit.

Jakarta – Dalam wawancara eksklusif di Squawk Box CNBC Indonesia, Dony Oskaria, Chief Operating Officer BPI Danantara Beban Utang sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, menegaskan bahwa proses streamlining BUMN tidak akan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurutnya, agenda reformasi ini difokuskan pada peningkatan kinerja operasional dan pengurangan kerugian yang diproyeksikan dapat menghemat hingga Rp60 triliun.

Oskaria menyoroti dua contoh kasus yang paling menonjol. Pertama, Bio Farma dijadikan holding strategis untuk mengkonsolidasikan unit-unit farmasi BUMN. Kedua, Kimia Farma yang sebelumnya terpuruk akibat investasi pabrik berkapasitas besar namun utilitas rendah, serta jaringan apotek yang mengelola lebih dari 1.000 outlet dengan margin tipis. Melalui restrukturisasi manajemen dan penataan kembali lini bisnis, Kimia Farma kini kembali mencatatkan laba.

Sementara itu, tantangan tetap ada pada Indofarma. Anak usahanya, PT Indofarma Global Medika (IGM), tengah berada dalam proses kepailitan, menandakan bahwa tidak semua entitas BUMN dapat diselamatkan dengan pendekatan seragam. Oskaria mengakui bahwa kasus ini memerlukan solusi khusus, termasuk kemungkinan penjualan aset atau restrukturisasi utang.

Transformasi ini juga mencakup perusahaan non‑farmasi seperti Telkomsel dan PT Pos Indonesia. Kedua entitas diperkirakan akan menjalani efisiensi biaya tanpa mengorbankan tenaga kerja, berkat pendekatan digitalisasi dan optimalisasi jaringan distribusi.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro dan pengamat pasar, saya melihat langkah BPI Danantara sebagai upaya strategis yang selaras dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan kontribusi BUMN terhadap PDB. Penghematan Rp60 triliun bukan sekadar angka estetis; bila dikonversi ke rasio profitabilitas, hal ini dapat menurunkan beban fiskal negara dan membuka ruang bagi investasi publik‑swasta yang lebih produktif Beban Utang.

Namun, keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada pemotongan biaya, melainkan pada kemampuan BUMN beradaptasi dengan ekosistem digital. Contohnya, restrukturisasi Kimia Farma yang berhasil mengembalikan profitabilitas menunjukkan bahwa perombakan manajemen yang berorientasi pada data dan inovasi produk dapat mengubah nasib perusahaan yang sebelumnya terjebak dalam investasi infrastruktur berlebih.

Di sisi lain, kasus Indofarma mengingatkan kita bahwa tidak semua BUMN dapat diselamatkan dengan pendekatan “one‑size‑fits‑all”. Kepailitan IGM menandakan perlunya mekanisme exit yang terstruktur, termasuk penjualan atau spin‑off, untuk menghindari beban moral hazard pada entitas lain. Pemerintah harus menyiapkan kerangka regulasi yang memungkinkan restrukturisasi cepat tanpa mengorbankan kepentingan publik.

Terakhir, janji tidak ada PHK harus dipertanggungjawabkan melalui transparansi laporan tenaga kerja dan realisasi target efisiensi. Jika BUMN berhasil menurunkan biaya operasional tanpa mengurangi tenaga kerja, maka model ini dapat menjadi contoh bagi sektor swasta dalam menghadapi tekanan inflasi dan biaya tenaga kerja yang meningkat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah benar tidak ada PHK dalam proses transformasi BUMN?
    A: Dony Oskaria menegaskan tidak ada pemutusan hubungan kerja; namun realisasi akan dipantau melalui laporan resmi BUMN.
  • Q: Berapa besar penghematan yang diharapkan dari restrukturisasi BUMN?
    A: Pemerintah menargetkan penghematan biaya kerugian hingga Rp60 triliun.
  • Q: Bagaimana nasib Indofarma yang sedang dalam proses kepailitan?
    A: Indofarma diperkirakan akan menjalani restrukturisasi utang atau penjualan aset untuk mengurangi beban keuangan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸