Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

InJourney Guncang Industri Pariwisata: Strategi Terintegrasi Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

InJourney Guncang Industri Pariwisata: Strategi Terintegrasi Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Direktur Utama Maya Watono menegaskan pariwisata sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
  • InJourney akan membangun ekosistem terintegrasi mulai dari bandara, layanan aviasi, hingga hotel dan retail untuk menciptakan perjalanan tanpa hambatan.
  • Investasi asing, termasuk dari UAE, diproyeksikan mengalir besar karena sektor ini menjanjikan devisa dan penyerapan tenaga kerja massal.

Jakarta, 27 Agustus 2026 – Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Indonesia, Maya Watono, Direktur Utama InJourney, menegaskan bahwa pariwisata akan menjadi engine of future economic growth bagi Indonesia. Menurutnya, sektor ini tidak hanya menghasilkan devisa signifikan, tetapi juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, mulai dari hotel hingga transportasi darat dan udara.

Watono mencontohkan UAE yang menyadari keterbatasan minyak dan gas, lalu beralih mengalihkan dana ke industri pariwisata. “Kami di Indonesia juga mulai melirik investasi serupa karena kami menyadari potensi luar biasa yang dimiliki sektor ini,” ujarnya dalam program Danantara BUMN Progress Update.

Visi InJourney ke depan adalah menciptakan ekosistem pariwisata‑aviasi terintegrasi yang menghubungkan hulu‑hilir: bandara, layanan penerbangan, pengembangan destinasi, warisan budaya, ritel, dan akomodasi hotel. “Indonesia memiliki keindahan alam dan budaya yang melimpah, namun tantangan geografisnya – 28 ribu pulau dan 50 juta penduduk – menuntut konektivitas yang seamless antara udara, laut, dan darat,” jelas Maya.

Watono menekankan pentingnya menggabungkan kelancaran perjalanan dengan sustainability. InJourney akan mengelola aset negara dan BUMN di enam sektor utama untuk memberikan pengalaman perjalanan yang terkoordinasi, selaras dengan motto perusahaan, “Living Legacy”. “Kami ingin meninggalkan warisan yang dapat dinikmati generasi mendatang, bukan sekadar proyek jangka pendek. Membangun destinasi membutuhkan waktu, investasi, dan konsistensi,” pungkasnya.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua dimensi kritis dalam deklarasi ini. Pertama, potensi multiplier effect pariwisata yang dapat menggerakkan sektor‑sektor pendukung seperti konstruksi, logistik, dan teknologi digital. Jika InJourney berhasil mengintegrasikan rantai nilai secara efektif, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB dapat melonjak dari 4‑5% saat ini menjadi 7‑8% dalam dekade berikutnya, sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia.

Kedua, tantangan konektivitas inter‑modal di negara kepulauan. infrastruktur bandara dan pelabuhan memang penting, namun tanpa koordinasi regulasi, standar layanan, dan platform data terpadu, upaya integrasi akan terfragmentasi. Pemerintah perlu memperkuat kerangka kerja public‑private partnership (PPP) yang transparan, serta mengadopsi teknologi seperti blockchain untuk pelacakan bagasi dan tiket terintegrasi.

Selanjutnya, aspek sustainability tidak boleh menjadi slogan belaka. Pengembangan destinasi harus mematuhi standar ESG (Environmental, Social, Governance) yang kini menjadi prasyarat utama bagi investor institusional global. InJourney sebaiknya mengimplementasikan audit karbon, program pelestarian budaya, serta pemberdayaan komunitas lokal untuk menghindari konflik sosial‑ekonomi yang sering muncul pada proyek pariwisata massal.

Terakhir, diversifikasi sumber devisa melalui pariwisata dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas tradisional. Namun, volatilitas permintaan global—seperti yang terlihat pada pandemi COVID‑19—menuntut strategi risk‑management yang matang, termasuk asuransi pendapatan dan skema pendanaan fleksibel. Jika InJourney mampu menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan mitigasi risiko, Indonesia berpeluang menjadi hub pariwisata regional yang berkelanjutan dan menguntungkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana InJourney akan memastikan konektivitas antar pulau yang efektif?
    A: Dengan mengintegrasikan layanan bandara, pelabuhan, dan transportasi darat melalui platform digital terpadu serta menjalin kemitraan PPP untuk pembangunan infrastruktur inter‑modal.
  • Q: Apa saja sektor yang akan dikelola InJourney dalam ekosistem pariwisata?
    A: Enam sektor utama meliputi bandara, layanan aviai, pengembangan destinasi, warisan budaya, ritel, dan akomodasi hotel.
  • Q: Mengapa investasi asing, khususnya dari UAE, penting bagi pariwisata Indonesia?
    A: UAE mencari diversifikasi ekonomi dari minyak, sehingga dana mereka dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, pemasaran destinasi, dan standar layanan yang meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸