Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Blockchain Bukan Sekadar Kripto: Bappenas Tunjuk Jalan Petani Naik Kelas

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Blockchain Bukan Sekadar Kripto: Bappenas Tunjuk Jalan Petani Naik Kelas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Rachmat Pambudy, Menteri Bappenas, menegaskan blockchain dapat mengangkat produktivitas petani Indonesia.
  • Teknologi ini diproyeksikan menjadi pilar utama transformasi digital dalam Indonesia Digital Blockchain Week 2026.
  • Target kontribusi ekonomi digital ke PDB mencapai 12‑13 % pada 2029, dengan blockchain sebagai katalisator transparansi dan traceability di sektor pertanian.

Dalam sambutannya pada Indonesia Digital Blockchain Week 2026, Rachmat Pambudy menegaskan bahwa blockchain bukan sekadar infrastruktur kripto, melainkan alat strategis untuk mengubah rantai nilai pertanian. Menurutnya, teknologi berbasis data ini dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, traceability, integritas, dan kepercayaan antara petani, pedagang, dan konsumen internasional.

Contoh konkret yang diangkat adalah petani kopi di Jawa Barat yang berhasil mengintegrasikan sistem traceability berbasis blockchain. Platform tersebut memungkinkan pembeli di Eropa dan Amerika berinteraksi langsung dengan petani, memverifikasi asal-usul biji kopi, serta menegosiasikan harga secara real‑time. Model ini tidak hanya menambah nilai jual, tetapi juga membuka akses pasar yang sebelumnya terhalang oleh perantara.

Dalam kerangka RPJMN 2025‑2029, transformasi digital dibangun atas tiga pilar: masyarakat digital, infrastruktur digital, dan pemerintahan digital, dengan contoh Proyek PLTS 100 GW yang sedang dikembangkan. Bappenas menargetkan kontribusi ekonomi digital mencapai 12‑13 % dari PDB pada 2029, sejalan dengan kekuatan ekonomi RI yang terus tumbuh, dengan blockchain sebagai salah satu motor penggerak utama.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, adopsi blockchain di sektor pertanian dapat menjadi multiplier effect yang signifikan. Dengan menurunkan biaya verifikasi dan memperpendek rantai pasok, petani dapat mengalihkan sumber daya ke peningkatan produktivitas dan diversifikasi tanaman. Hal ini selaras dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah pertanian dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.

Namun, tantangan utama terletak pada kesiapan infrastruktur digital di daerah pedesaan. Tanpa jaringan internet yang stabil dan akses ke perangkat keras yang terjangkau, implementasi blockchain akan terhambat. Pemerintah perlu menggabungkan program pembangunan infrastruktur broadband dengan skema subsidi perangkat IoT yang dapat mengumpulkan data secara real‑time.

Selanjutnya, aspek regulasi dan standar interoperabilitas menjadi kunci. Tanpa kerangka hukum yang jelas, risiko fragmentasi data dan penyalahgunaan informasi dapat mengikis kepercayaan stakeholder. Bappenas bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika harus merumuskan regulasi yang mendukung inovasi sekaligus melindungi hak petani.

Terakhir, potensi ekonomi digital sebesar 12‑13 % PDB pada 2029 bukan sekadar angka aspiratif. Jika blockchain berhasil diintegrasikan ke rantai nilai pertanian, sektor ini dapat menyumbang setidaknya setengah dari target tersebut, mengingat kontribusi pertanian terhadap PDB masih berada di kisaran 13‑14 %. Oleh karena itu, investasi pada ekosistem blockchain pertanian harus diprioritaskan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan inklusif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu blockchain dan mengapa penting untuk petani?
    A: Blockchain adalah teknologi pencatatan transaksi terdesentralisasi yang menjamin transparansi dan keamanan data. Bagi petani, ini berarti dapat melacak produk dari ladang hingga konsumen, meningkatkan kepercayaan dan nilai jual.
  • Q: Bagaimana pemerintah mendukung adopsi blockchain di sektor pertanian?
    A: Melalui RPJMN 2025‑2029, pemerintah menyiapkan tiga pilar transformasi digital, menyediakan dana riset‑inovasi, serta mendorong regulasi yang memfasilitasi integrasi data lintas sektor.
  • Q: Kapan kontribusi ekonomi digital diproyeksikan mencapai 12‑13 % PDB?
    A: Target tersebut ditetapkan untuk tahun 2029, dengan blockchain sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan nilai tambah di bidang pertanian, manufaktur, dan layanan digital.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸