Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Swasta Didorong Bangun Sekat Kanal: Solusi Ampuh Redam Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Swasta Didorong Bangun Sekat Kanal: Solusi Ampuh Redam Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengajak perusahaan swasta di Kalimantan Barat membangun sekat kanal untuk memadamkan dan mencegah kebakaran gambut.
  • Lebih dari 30.000 hektar lahan terbakar sejak Januari 2026, menimbulkan kabut asap yang mengganggu ekonomi regional.
  • Kerjasama publik‑privat diperkirakan dapat menurunkan biaya pemadaman hingga 40% dan membuka peluang investasi infrastruktur irigasi.

Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam kunjungan ke Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa penanggulangan karhutla tidak dapat diselesaikan dengan satu kebijakan tunggal. Ia mengundang perwakilan perusahaan tambang, perkebunan, dan energi yang memiliki konsesi di sekitar zona api untuk berpartisipasi dalam pembangunan sekat kanal yang dapat mengarahkan aliran air ke lapisan gambut yang terbakar.

“Kita tidak bisa menyelesaikan masalah karhutla hanya dengan satu upaya. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Sekat kanal adalah solusi paling efektif untuk menyalurkan air ke titik api yang masih aktif,” kata Diaz, sambil meninjau area yang masih berasap.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat mencapai lebih dari 30.000 hektar antara Januari dan Juli 2026. Kebakaran gambut yang merembet ke lapisan bawah tanah menuntut pasokan air yang konsisten—sesuatu yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan penyiraman manual oleh tim Masyarakat Peduli Api.

Selain menggalang dukungan finansial, pemerintah KLH/BPLH menyerahkan 5 unit peralatan pemadam kebakaran, 10 kotak masker, serta satu paket sumur bor dari PT Antam Tbk kepada warga terdampak di Desa Batu Ampar. Bantuan ini diharapkan menstabilkan kondisi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas respon darurat lokal.

Jika perusahaan swasta menyalurkan dana atau sumber daya untuk pembangunan sekat kanal, mereka tidak hanya mengurangi beban fiskal negara, tetapi juga membuka peluang bisnis baru di bidang infrastruktur irigasi, pengelolaan air, dan teknologi mitigasi kebakaran. Investasi semacam ini dapat dikategorikan sebagai “green infrastructure” yang berpotensi menarik dana ESG (Environmental, Social, Governance) dari investor global.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam inisiatif ini: pertama, mitigasi risiko ekonomi regional yang selama ini terancam oleh kebakaran gambut; kedua, penciptaan nilai tambah melalui investasi infrastruktur hijau. Kebakaran lahan tidak hanya menurunkan produktivitas pertanian dan perkebunan, tetapi juga menurunkan kualitas udara, yang pada gilirannya menurunkan produktivitas tenaga kerja dan menambah beban kesehatan publik. Dengan mengalihkan sebagian beban penanggulangan ke sektor swasta, pemerintah dapat mengoptimalkan alokasi anggaran untuk program jangka panjang seperti rehabilitasi ekosistem gambut.

Secara finansial, pembangunan sekat kanal memerlukan modal awal yang signifikan, namun ROI (Return on Investment) dapat terwujud dalam bentuk penghematan biaya pemadaman yang biasanya mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Lebih jauh, proyek ini membuka pintu bagi skema pembiayaan berbasis hasil (performance‑based financing) di mana investor hanya dibayar bila target penurunan luas kebakaran tercapai.

Dari perspektif pasar modal, perusahaan yang terlibat dalam proyek ini dapat meningkatkan profil ESG mereka, yang kini menjadi faktor penilaian penting bagi institusi keuangan global. Hal ini dapat menurunkan cost of capital mereka, memperluas akses ke obligasi hijau, dan meningkatkan daya tarik saham di mata investor yang sensitif terhadap isu iklim.

Namun, keberhasilan skema ini sangat bergantung pada regulasi yang jelas, mekanisme monitoring yang transparan, dan koordinasi lintas‑sektor yang kuat. Pemerintah harus menyediakan kerangka hukum yang menjamin kepastian investasi, termasuk hak atas tanah, prosedur perizinan, dan mekanisme kompensasi bila terjadi kegagalan. Tanpa landasan hukum yang solid, risiko politik dapat menghalangi partisipasi swasta.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu sekat kanal dan bagaimana cara kerjanya dalam memadamkan kebakaran gambut?
    A: Sekat kanal adalah struktur penghalang tanah yang menyalurkan air ke area gambut yang terbakar, memastikan aliran air tetap terfokus pada lapisan bawah yang sulit dijangkau.
  • Q: Siapa saja yang dapat berpartisipasi dalam proyek ini?
    A: Perusahaan tambang, perkebunan, energi, serta lembaga keuangan yang tertarik pada investasi ESG dapat bergabung sebagai mitra publik‑privat.
  • Q: Bagaimana dampak ekonomi jangka panjang dari penanggulangan kebakaran gambut?
    A: Mengurangi kerugian produksi, menurunkan biaya kesehatan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan membuka peluang investasi infrastruktur hijau yang dapat menarik dana internasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸