Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Prabowo Terbang ke Palembang: Dampak Penanganan Karhutla Terhadap Investasi dan Ekonomi Sumatera Selatan

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Prabowo Terbang ke Palembang: Dampak Penanganan Karhutla Terhadap Investasi dan Ekonomi Sumatera Selatan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Presiden Prabowo Subianto melanjutkan inspeksi kebakaran hutan dari Riau ke Palembang.
  • Di posko karhutla, ia bertemu TNI, Polri, BIN, dan pejabat daerah untuk sinkronisasi penanganan.
  • Koordinasi melibatkan BPBD Sumatra Selatan serta provinsi Jambi dan Lampung via video conference, menandakan skala regional.

Setelah meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Presiden Prabowo Subianto mendarat di Palembang, Sumatra Selatan, pada Senin pagi. Ia langsung menuju Posko Penanganan Karhutla dengan mengendarai mobil Maung MV 4x4 berwarna hijau, simbolisasi kesiapan militer dalam menghadapi bencana.

Rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mempertemukan Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN, serta pejabat daerah. "Saat ini kita berada di Posko karhutla di Sumatra Selatan, Palembang," ujar Teddy membuka pertemuan. Di akhir rapat, gubernur, kapolda, dan pangdam dari provinsi Jambi serta Lampung bergabung melalui video conference, menegaskan bahwa kebakaran ini bukan sekadar isu lokal, melainkan tantangan lintas provinsi.

Selanjutnya, Kepala BPBD Sumatra Selatan diminta menyampaikan laporan terperinci mengenai skala kebakaran, alokasi sumber daya, dan progres pemadaman. Sebelumnya, di Posko AJU, Riau, Prabowo juga mendengarkan paparan Kepala BPBD Riau M. Edy Afrizal, Kapolda Riau Irjen. Pol. Herry Heryawan, dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Riau Agus Hadi W.

Analisis Pakar

Penanganan karhutla bukan sekadar urusan lingkungan; ia berpotensi mengguncang perekonomian regional. Sektor agrikultur, terutama perkebunan kelapa sawit dan karet, menjadi korban utama. Asap tebal menurunkan kualitas udara, menurunkan produktivitas tenaga kerja, serta meningkatkan biaya kesehatan. Bagi investor, ketidakpastian operasional di wilayah rawan kebakaran meningkatkan risiko investasi, khususnya pada proyek infrastruktur dan energi terbarukan yang mengandalkan lahan luas.

Keberadaan TNI, Polri, dan BIN dalam posko menandakan pendekatan yang lebih militaristik, namun hal ini harus diimbangi dengan pendanaan yang memadai. Pemerintah pusat perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk pencegahan, bukan hanya pemadaman. Investasi dalam teknologi pemantauan satelit, sistem peringatan dini, dan rehabilitasi lahan pasca kebakaran akan menurunkan biaya jangka panjang dan meningkatkan kepercayaan investor.

Dari perspektif makroekonomi, kebakaran hutan dapat memicu inflasi pangan jika hasil panen menurun, serta menurunkan pendapatan daerah yang sangat bergantung pada pajak sektor agrikultur dan pariwisata. Oleh karena itu, koordinasi lintas provinsi—seperti yang terlihat dengan partisipasi Jambi dan Lampung—harus diubah menjadi kerangka kerja permanen, misalnya Badan Penanggulangan Karhutla Nasional yang memiliki otoritas fiskal.

Terakhir, transparansi data menjadi kunci. Publikasi laporan real‑time melalui portal resmi akan memungkinkan pelaku bisnis menyesuaikan rantai pasokannya, sekaligus memberi tekanan pada pemerintah untuk mempercepat aksi. Tanpa akuntabilitas, kebijakan yang diambil hanya akan menjadi simbolik, bukan solusi substantif.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja dampak ekonomi langsung dari karhutla di Sumatra Selatan?
    A: Penurunan produksi pertanian, peningkatan biaya kesehatan, gangguan pada sektor pariwisata, serta risiko investasi yang lebih tinggi.
  • Q: Siapa saja yang terlibat dalam posko penanganan karhutla di Palembang?
    A: Presiden, Sekretaris Kabinet, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN, Kepala BPBD Sumatra Selatan, serta pejabat daerah dan perwakilan provinsi Jambi dan Lampung.
  • Q: Bagaimana pemerintah dapat meningkatkan efektivitas penanggulangan karhutla?
    A: Dengan alokasi anggaran khusus untuk pencegahan, penggunaan teknologi pemantauan, pembentukan badan nasional berwenang, dan transparansi data yang dapat diakses publik.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸