Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

China Siap Tolak Sanksi Sekunder AS: Dampak Besar bagi Perang Dagang dan Iran

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

China Siap Tolak Sanksi Sekunder AS: Dampak Besar bagi Perang Dagang dan Iran
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Washington menyiapkan sanksi sekunder bagi negara yang tetap berdagang dengan Iran .
  • China diprediksi menolak tekanan tersebut, mengingat ketergantungan pada minyak dan gas Iran.
  • Penolakan Beijing dapat memperdalam ketegangan Amerika Serikat - China dan memicu eskalasi perang dagang serta risiko gangguan pasokan mineral kritis.

Ringkasan Singkat

  • Washington menyiapkan sanksi sekunder bagi negara yang tetap berdagang dengan Iran.
  • China diprediksi menolak tekanan tersebut, mengingat ketergantungan pada minyak dan gas Iran.
  • Penolakan Beijing dapat memperdalam ketegangan Amerika Serikat-China dan memicu eskalasi perang dagang serta risiko gangguan pasokan mineral kritis.

Menurut Alex Plitsas, analis keamanan nasional CNN, pemerintahan Donald Trump sedang merancang rangkaian sanksi sekunder yang menargetkan negara‑negara yang terus melakukan transaksi ekonomi dengan Iran. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menekan Tehran kembali ke meja perundingan nuklir.

Sejak awal konflik, China telah menegaskan penolakannya terhadap sanksi sekunder yang dijatuhkan secara unilateral oleh Amerika Serikat. Hubungan energi antara Beijing dan Tehran—termasuk impor minyak dan gas—menjadi faktor kunci yang dapat memengaruhi keputusan Beijing. Plitsas mencatat bahwa China pernah menolak mengikuti sanksi serupa pada masa sebelumnya, sehingga kemungkinan penolakan kembali tidak dapat dikesampingkan.

Jika Beijing memang menolak, konsekuensinya dapat meluas ke arena perdagangan global. "Kita dapat melihat peningkatan aksi balas dendam, termasuk pembatasan ekspor mineral‑miner­al kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri teknologi Amerika," kata Plitsas. Langkah semacam itu berpotensi menambah tekanan pada rantai pasokan global dan memperdalam persaingan ekonomi antara dua kekuatan terbesar dunia.

Sementara itu, ekonomi Iran sudah berada di bawah beban berat akibat blokade, sanksi sebelumnya, dan serangan militer yang menargetkan infrastruktur energi. Inflasi melambung, dan pemerintah Tehran tampak berusaha mengalihkan tekanan dengan meningkatkan aktivitas militer di Selat Hormuz, yang baru-baru ini menyaksikan serangan terhadap kapal‑kapal komersial. Plitsas memperingatkan bahwa jika tekanan ekonomi terus meningkat, Iran dapat memperluas aksi ke infrastruktur minyak dan gas di wilayah tersebut.

Analisis Pakar

Penolakan China terhadap sanksi sekunder AS bukan sekadar keputusan politik bilateral; ia mencerminkan dinamika struktural dalam sistem perdagangan internasional yang semakin terfragmentasi. Beijing telah mengembangkan jaringan energi alternatif, termasuk proyek‑proyek infrastruktur energi di Timur Tengah, yang memberi negara itu leverage lebih besar dalam negosiasi sanksi. Dengan menolak sanksi sekunder, China tidak hanya melindungi kepentingan energi jangka pendeknya, tetapi juga mengirim sinyal kuat kepada negara‑negara lain bahwa sistem sanksi unilateral Amerika Serikat dapat dihadapi dengan koalisi alternatif.

Di sisi lain, kebijakan Donald Trump yang menekankan tekanan ekonomi sebagai alat diplomasi menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas sanksi dalam mengubah perilaku negara target. Sejarah menunjukkan bahwa sanksi yang terlalu keras sering memperkuat narasi nasionalis dan memperdalam isolasi, alih‑alih menghasilkan kompromi. Dalam konteks Iran, tekanan yang terus meningkat dapat memperkuat posisi hardliner di dalam IRGC, memperpanjang konflik regional, dan menambah risiko keamanan di Selat Hormuz—jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Jika perang dagang antara China dan Amerika Serikat bereskalasi, dampaknya akan melampaui sektor energi. Kedua negara adalah produsen utama barang elektronik, kendaraan, dan bahan baku kritis seperti tanah jarang. Pembatasan ekspor‑impor di antara mereka dapat mengganggu rantai pasokan teknologi, meningkatkan biaya produksi, dan memicu inflasi global. Negara‑negara ketiga yang berada di antara keduanya—seperti Korea Selatan, Jepang, dan negara‑negara ASEAN—kemungkinan akan dipaksa memilih sisi, menambah ketegangan geopolitik di kawasan Indo‑Pasifik.

Secara keseluruhan, dinamika ini menegaskan perlunya pendekatan multilateral yang lebih inklusif dalam menangani isu sanksi dan keamanan energi. Baik Washington maupun Beijing harus mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari kebijakan yang bersifat konfrontatif, terutama ketika kepentingan strategis mereka saling bersilangan di wilayah yang sama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu sanksi sekunder dan bagaimana cara kerjanya?
    A: Sanksi sekunder adalah pembatasan yang dikenakan oleh satu negara terhadap pihak ketiga yang melakukan bisnis dengan negara yang dikenai sanksi utama, biasanya dengan memotong akses ke sistem keuangan atau pasar utama.
  • Q: Mengapa China menolak sanksi sekunder AS terhadap Iran?
    A: China menolak karena melindungi kepentingan energinya, menegaskan kedaulatan ekonomi, dan menghindari preseden yang dapat mengganggu perdagangan internasionalnya.
  • Q: Apa dampak potensial bagi pasar global jika perang dagang antara China dan AS meningkat?
    A: Dapat menyebabkan gangguan rantai pasokan, kenaikan harga barang teknologi, inflasi, serta ketidakpastian investasi di seluruh dunia.
Meow! Tanya Nesi!
😸