Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

AS Siapkan Rp11,8 Triliun untuk Bayar Utang PBB, Tapi Masih Tertinggal Rp65 Triliun!

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

AS Siapkan Rp11,8 Triliun untuk Bayar Utang PBB, Tapi Masih Tertinggal Rp65 Triliun!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Washington alokasikan US$725 juta (≈ Rp11,8 triliun) untuk iuran Perserikatan Bangsa-Bangsa menjelang kunjungan Donald Trump ke Majelis Umum.
  • Jumlah itu hanya sekitar 20% dari total tunggakan AS yang diperkirakan lebih dari US$4 miliar.
  • Jika tidak ada pembayaran lanjutan, AS berisiko kehilangan hak suara di PBB pada Januari 2027 sesuai Piagam PBB.

Washington mengumumkan rencana transfer US$725 juta (sekitar Rp11,8 triliun) ke kas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai bagian dari upaya menutup sebagian tunggakan iuran. Dana ini dijadwalkan cair sebelum Donald Trump menyampaikan pidato di Majelis Umum PBB pada September mendatang. Meski menjadi suntikan napas bagi organisasi yang tengah berjuang mengatasi defisit anggaran, angka tersebut masih jauh di bawah total kewajiban Amerika Serikat yang diperkirakan melebihi US$4 miliar.

Rincian tunggakan AS mencakup US$2,04 miliar untuk anggaran reguler, US$2,2 miliar untuk misi penjaga perdamaian, dan US$44 juta untuk pengadilan internasional. Dengan pembayaran US$725 juta, kontribusi baru hanya menutupi kurang dari satu per lima tagihan yang masih menunggak. Pemerintah Trump, yang secara historis kritis terhadap efektivitas PBB, menahan sekitar US$153,4 juta dengan alasan kebijakan, termasuk US$10,6 juta untuk Dewan Hak Asasi Manusia yang dianggap bias anti‑Israel.

Dalam rangka reformasi UN80, PBB memangkas anggaran 2026 sebesar 9,2% dan memindahkan lebih dari 2.000 posisi ke lokasi dengan biaya operasional lebih rendah. Departemen Luar Negeri AS mengklaim langkah‑langkah ini telah menghasilkan penghematan hampir US$1 miliar, namun masih belum cukup untuk menutup celah pembayaran yang menumpuk.

Jika AS tidak melanjutkan pembayaran, konsekuensi paling serius adalah hilangnya hak suara di Majelis Umum, sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Piagam PBB. Tanpa hak suara, pengaruh politik dan ekonomi Washington dalam keputusan global akan berkurang drastis, sekaligus memberi ruang bagi rival strategis seperti China untuk memperkuat posisi mereka di forum internasional.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro dan pengamat kebijakan internasional, saya menilai langkah AS ini lebih bersifat simbolik daripada substantif. Pembayaran US$725 juta memang dapat menunda krisis likuiditas PBB, namun tidak mengubah struktur pendanaan yang selama ini bergantung pada kontribusi wajib negara-negara maju. Ketergantungan ini menimbulkan risiko moral hazard: ketika anggota utama menunda atau menahan iuran, organisasi terpaksa mengandalkan dana sukarela yang tidak stabil.

Reformasi UN80 memang menunjukkan adanya tekanan internal untuk menurunkan biaya, namun pemotongan anggaran tidak selalu berarti peningkatan efisiensi. Banyak program inti, terutama misi penjaga perdamaian, memerlukan pendanaan jangka panjang yang tidak dapat dipotong secara drastis tanpa mengorbankan kredibilitas operasional PBB. Oleh karena itu, solusi jangka panjang harus melibatkan restrukturisasi model pembiayaan, misalnya dengan memperkenalkan mekanisme kontribusi berbasis GDP yang lebih transparan dan mengikat.

Politik domestik AS juga memainkan peran penting. Administrasi Trump menganggap PBB sebagai beban fiskal, namun kehilangan hak suara akan mengurangi leverage Washington dalam negosiasi multilateral, termasuk isu-isu perdagangan, keamanan, dan perubahan iklim. Dalam konteks persaingan strategis dengan China, menahan pembayaran dapat menjadi senjata tawar, namun risikonya adalah isolasi diplomatik yang dapat merugikan kepentingan ekonomi Amerika di pasar global.

Kesimpulannya, pembayaran parsial ini hanyalah “tanki” sementara. Tanpa komitmen berkelanjutan dan reformasi struktural pada sistem iuran PBB, organisasi berusia 80 tahun tersebut akan terus berada di ambang kegagalan keuangan, yang pada gilirannya dapat mengganggu stabilitas ekonomi global—mulai dari aliran bantuan kemanusiaan hingga operasi pasar modal yang bergantung pada kepastian geopolitik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa AS masih memiliki tunggakan iuran PBB meski sudah menjadi kontributor terbesar?
    A: Karena kebijakan fiskal Trump menahan pembayaran dan menolak kontribusi sukarela, serta menunda pembayaran wajib yang mencapai lebih dari US$4 miliar.
  • Q: Apa konsekuensi jika AS kehilangan hak suara di Majelis Umum PBB?
    A: AS akan kehilangan pengaruh dalam keputusan multilateral, memberi ruang bagi negara lain seperti China untuk mengisi kekosongan diplomatik.
  • Q: Bagaimana reformasi UN80 memengaruhi keuangan PBB?
    A: UN80 memangkas anggaran sekitar 9,2% dan memindahkan ribuan posisi ke lokasi lebih murah, namun pemotongan ini belum cukup menutup defisit iuran yang menumpuk.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸