Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ahmad Yani Pimpin API/INAGA 2026‑2029: Peluang Besar untuk Investasi Panas Bumi di Indonesia

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ahmad Yani Pimpin API/INAGA 2026‑2029: Peluang Besar untuk Investasi Panas Bumi di Indonesia
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ahmad Yani terpilih Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API/INAGA) periode 2026‑2029.
  • Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 GW, namun baru 11 % yang dimanfaatkan; target pengembangan 3 GW dalam dekade berikutnya.
  • Yani menekankan kebutuhan sinergi lintas pemangku kepentingan dan perbaikan skema tarif untuk menciptakan iklim investasi yang lebih *bankable*.

Jakarta, 20 Agustus 2026 – Ahmad Yani, Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy (PGE), resmi terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API/INAGA) untuk periode 2026‑2029. Pemilihan ini berlangsung dalam Musyawarah Nasional (Munas) XII API/INAGA yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan.

Dalam sambutannya, Yani menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran asosiasi dalam mengakselerasi panas bumi sebagai tulang punggung kedaulatan energi nasional. Ia menyoroti tiga pilar utama: (1) memperluas ekosistem investasi melalui skema tarif yang kompetitif, (2) menggalakkan insentif fiskal yang tepat sasaran, dan (3) memastikan kesiapan sumber daya manusia serta teknologi mutakhir.

Indonesia menyimpan potensi panas bumi sebesar 24 GW, namun baru sekitar 2,6 GW yang telah beroperasi – hanya 11 % dari total potensi. API/INAGA telah memetakan 3 GW yang dapat dikomersialkan dalam lima tahun ke depan, namun hambatan utama tetap pada *feasibility* dan *bankability* proyek. Yani menekankan perlunya koordinasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang lebih kompetitif.

Momentum terpilihnya Yani bertepatan dengan peringatan 100 tahun sejarah panas bumi Indonesia, sejak sumur pertama dibor di Kamojang, Jawa Barat. Sebagai tokoh dengan lebih dari dua dekade pengalaman di seluruh rantai nilai panas bumi – dari reservoir engineering hingga produksi downstream – Yani diharapkan dapat mengubah narasi dari “potensi belum tergali” menjadi “proyek yang menguntungkan dan berkelanjutan”.

Analisis Pakar

Penunjukan Ahmad Yani sebagai ketua API/INAGA bukan sekadar pergantian kepemimpinan; ini menandai titik kritis bagi industri panas bumi yang selama ini terhambat oleh regulasi tarif yang tidak responsif dan kurangnya dukungan pembiayaan jangka panjang. Dari perspektif makroekonomi, pengembangan 3 GW tambahan dapat menambah kapasitas listrik terbarukan sebesar 15‑20 % dari total kebutuhan energi Indonesia pada 2030, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menurunkan intensitas karbon nasional.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa investor masih menilai risiko teknis dan regulasi sebagai penghalang utama. Skema tarif yang masih mengacu pada model konvensional tidak mencerminkan biaya kapital tinggi pada proyek panas bumi, terutama pada fase eksplorasi dan drilling. Reformasi tarif yang mengadopsi mekanisme *price‑cap* atau *revenue‑sharing* dapat meningkatkan *bankability* dan menarik modal asing, khususnya dari institusi keuangan hijau yang kini menuntut transparansi ESG.

Selanjutnya, sinergi antara Pertamina Geothermal Energy dan lembaga riset akademik harus dipercepat. Inovasi seperti pilot proyek green hydrogen di Ulubelu dan teknologi Flow2Max® menunjukkan potensi diversifikasi produk energi panas bumi ke nilai‑added downstream, yang pada gilirannya dapat membuka aliran pendapatan baru dan meningkatkan margin operasional.

Terakhir, aspek sosial‑lingkungan tidak boleh diabaikan. Keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek akan menjadi kunci untuk mengurangi konflik lahan dan mempercepat perizinan. API/INAGA harus menjadi fasilitator dialog yang efektif, sekaligus mengedukasi publik tentang manfaat ekonomi dan lingkungan dari energi panas bumi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa potensi panas bumi Indonesia yang belum dimanfaatkan?
    A: Sekitar 24 GW, dengan hanya 2,6 GW (≈11 %) yang sudah beroperasi.
  • Q: Apa tantangan utama bagi investasi panas bumi di Indonesia?
    A: Tantangan utama meliputi skema tarif yang kurang kompetitif, risiko teknis tinggi, dan kebutuhan akan insentif fiskal serta dukungan pembiayaan jangka panjang.
  • Q: Bagaimana peran Ahmad Yani dapat mempercepat pengembangan sektor ini?
    A: Dengan pengalaman lintas rantai nilai, Yani dapat mendorong reformasi kebijakan, memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan, dan mengadopsi teknologi inovatif untuk meningkatkan *bankability* proyek.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸