Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PGE Gencarkan Target 1 GW Geotermal 2028: Langkah Besar atau Hanya Janji?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

PGE Gencarkan Target 1 GW Geotermal 2028: Langkah Besar atau Hanya Janji?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan kapasitas 1 GW produksi panas bumi pada akhir 2028.
  • Penugasan PSPE Cubadak Panti dijadikan terobosan untuk mempercepat pengembangan lapangan baru.
  • Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 GW, sementara PGE saat ini hanya mengoperasikan 727 MW.

Direktur Utama Ahmad Yani menegaskan bahwa percepatan ekspansi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bukan sekadar ambisi, melainkan respons terhadap kebutuhan energi bersih yang mendesak. Dalam wawancara eksklusif di Squawk Box CNBC Indonesia pada Kamis, 20 Agustus 2026, Yani mengungkapkan bahwa penugasan PSPE Cubadak Panti akan menjadi katalisator utama untuk menambah kapasitas produksi.

Indonesia, sebagai negara dengan cadangan panas bumi terbesar ke‑dua di dunia, diperkirakan memiliki potensi 24 GW. Namun, realisasi hingga kini masih jauh di bawah potensi, dengan PGE mengoperasikan 727 MW saja. Target 1 GW pada 2028 berarti peningkatan hampir 38% dalam tiga setengah tahun ke depan, yang menuntut investasi besar‑besar, penyelesaian regulasi, serta sinergi antara pemerintah dan swasta.

Jika berhasil, pencapaian ini tidak hanya akan memperkuat posisi energi terbarukan Indonesia, tetapi juga membuka peluang investasi baru, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan menurunkan emisi karbon nasional. Namun, tantangan teknis, pembiayaan, serta risiko geopolitik tetap menjadi faktor penghambat yang harus diatasi secara sistematis.

Analisis Pakar

Secara makroekonomi, ambisi PGE untuk mencapai 1 GW dalam kurun waktu lima tahun merupakan sinyal positif bagi pasar energi terbarukan Indonesia. Pertumbuhan kapasitas ini dapat meningkatkan base load listrik yang stabil, mengurangi volatilitas harga listrik, dan memberikan dukungan kuat bagi industri manufaktur yang sangat sensitif terhadap fluktuasi tarif energi. Dari perspektif investasi, proyek geotermal menawarkan IRR yang kompetitif, biasanya berada di kisaran 12‑15%, lebih tinggi dibandingkan proyek tenaga surya atau angin yang masih bergantung pada subsidi.

Namun, realisasi target tersebut tidak otomatis. Proses eksplorasi dan pengembangan lapangan geotermal memerlukan waktu yang panjang, mulai dari studi kelayakan, perizinan lingkungan, hingga pembangunan infrastruktur jaringan. Keterlambatan dalam permits atau konflik lahan dapat menambah biaya modal (CAPEX) secara signifikan. Oleh karena itu, peran PSPE Cubadak Panti sebagai “pioneer” harus diikuti dengan mekanisme percepatan izin dan jaminan kepastian investasi.

Di sisi kebijakan, pemerintah perlu memperkuat kerangka regulasi yang memfasilitasi pembiayaan proyek jangka panjang, termasuk skema green bonds dan jaminan tarif (feed‑in‑tariff) yang stabil. Koordinasi antara Kementerian Energi dan Pertamina sebagai pemilik mayoritas PGE harus lebih sinergis, terutama dalam hal alokasi lahan dan integrasi jaringan transmisi. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, target 1 GW berisiko menjadi “target ambisius” yang tidak terealisasi.

Terakhir, implikasi geopolitik tidak boleh diabaikan. Dengan meningkatnya tekanan internasional untuk dekarbonisasi, Indonesia memiliki peluang untuk menarik dana iklim dari lembaga multilateral. Namun, hal ini menuntut transparansi dalam pelaporan dan kepatuhan pada standar ESG. PGE harus menyiapkan mekanisme pelaporan yang kredibel untuk memastikan aliran dana tetap berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa kapasitas panas bumi yang sudah dimiliki PGE saat ini?
    A: PGE mengoperasikan sekitar 727 MW.
  • Q: Apa saja tantangan utama dalam mencapai target 1 GW pada 2028?
    A: Tantangan meliputi proses perizinan yang panjang, kebutuhan investasi besar, risiko lahan, serta kebutuhan kebijakan tarif yang stabil.
  • Q: Bagaimana proyek geotermal dapat memengaruhi harga listrik di Indonesia?
    A: Dengan menambah kapasitas base‑load yang stabil, proyek geotermal dapat menurunkan volatilitas harga listrik dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sehingga berpotensi menurunkan tarif listrik jangka panjang.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸