Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Rupiah Sempat Tembus Rp18.000, Ini Alasan BI Akhirnya Rem Kenaikan Suku Bunga di 5,75%

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rupiah Sempat Tembus Rp18.000, Ini Alasan BI Akhirnya Rem Kenaikan Suku Bunga di 5,75%
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada Agustus 2026 setelah serangkaian kenaikan agresif sebelumnya.
  • Langkah ini diambil sebagai strategi preemptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi di target 2,5% Β± 1%.
  • BI juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50% guna menjaga likuiditas pasar keuangan tetap kondusif.

Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk mengambil napas sejenak dari tren pengetatan moneter yang agresif. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026, bank sentral memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan ini mengakhiri tren kenaikan beruntun yang sempat mencemaskan pelaku pasar dalam beberapa bulan terakhir.

Tidak hanya suku bunga acuan, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility tetap di angka 4,75 persen dan Lending Facility pada level 6,50 persen.

Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan arah kebijakan moneter yang pro-stabilitas. "Keputusan mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen ini tetap konsisten untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global," ujarnya dalam konferensi pers pada Rabu (19/8).

Langkah ini juga diproyeksikan sebagai tindakan preemptive dan forward-looking untuk memastikan inflasi domestik pada periode 2026-2027 tetap terkendali dalam sasaran pemerintah, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen. Selain itu, BI berkomitmen untuk memperluas insentif likuiditas guna menarik aliran modal asing masuk kembali ke pasar keuangan domestik.

Sebagai catatan, sebelum jeda ini, BI telah bersikap sangat agresif demi menyelamatkan mata uang garuda. Pada Mei 2026, BI mengerek suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen. Tak lama berselang, pada 9 Juni 2026, BI melakukan intervensi darurat dengan menaikkan bunga sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen akibat nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi hebat hingga menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kenaikan terakhir terjadi pada RDG pertengahan Juni sebesar 25 bps ke level 5,75 persen yang bertahan hingga hari ini.

Analisis Pakar

Keputusan BI menahan suku bunga di level 5,75% adalah langkah taktis yang sangat dinanti oleh sektor riil, namun sekaligus menyimpan pesan kewaspadaan yang mendalam. Sebagai ekonom, saya melihat BI sedang mencoba melakukan balancing actβ€”menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga stabilitas moneter dan mencegah ekonomi domestik mengalami hard landing. Setelah dihantam depresiasi Rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS pada Juni lalu, kenaikan suku bunga agresif kumulatif sebesar 100 bps dalam waktu singkat memang efektif meredam kepanikan pasar modal. Namun, obat dosis tinggi ini tidak bisa terus-menerus diberikan tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menahan suku bunga saat ini memberikan ruang bernapas bagi perbankan untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga kredit mereka. Jika BI terus mengerek suku bunga, biaya modal (cost of fund) bagi korporasi akan melonjak tajam, yang pada gilirannya akan memicu stagnasi ekspansi bisnis dan melemahkan daya beli masyarakat yang saat ini sudah cukup tertekan. Di sisi lain, kita harus realistis bahwa ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda. Kebijakan moneter ketat dari bank sentral negara-negara maju masih membayangi, sehingga jeda kenaikan ini harus dimanfaatkan BI untuk memperkuat instrumen non-suku bunga.

Pernyataan Destry Damayanti mengenai perluasan insentif likuiditas makroprudensial dan penarikan modal asing adalah kunci krusial berikutnya. BI tidak bisa lagi hanya mengandalkan senjata konvensional seperti BI Rate untuk menjaga Rupiah. Kita membutuhkan aliran modal asing yang berkualitas dan bersifat jangka panjang (Foreign Direct Investment), bukan sekadar hot money di pasar portofolio yang bisa keluar kapan saja saat sentimen global memburuk. Kebijakan insentif bagi sektor-sektor prioritas dan hilirisasi harus diakselerasi agar fundamental ekonomi kita semakin kokoh dari dalam.

Ke depan, tantangan inflasi 2026-2027 di kisaran 2,5% Β± 1% akan sangat bergantung pada stabilitas harga pangan domestik (volatile foods) dan kebijakan subsidi energi pemerintah. BI telah melakukan tugasnya dari sisi moneter; kini bola panas ada di tangan pemerintah untuk menjaga pasokan riil dan memastikan kebijakan fiskal tetap sinkron dengan kebijakan moneter ketat ini. Jika koordinasi ini gagal, jangan kaget jika BI terpaksa harus kembali menarik pelatuk kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI Rate di level 5,75% pada Agustus 2026?
A: BI menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global, sekaligus sebagai langkah preemptive untuk mengendalikan inflasi 2026-2027 di kisaran target 2,5% Β± 1% tanpa menekan pertumbuhan ekonomi domestik secara berlebihan.

Q: Apa dampak penahanan suku bunga ini bagi masyarakat dan pelaku usaha?
A: Keputusan ini memberikan kepastian bagi pelaku usaha karena mencegah kenaikan biaya pinjaman (suku bunga kredit) perbankan yang lebih tinggi, sehingga menjaga momentum ekspansi bisnis dan daya beli masyarakat tetap stabil.

Q: Mengapa Rupiah sempat melemah hingga di atas Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026?
A: Pelemahan tersebut dipicu oleh tingginya ketidakpastian global dan tekanan arus modal keluar (capital outflow), yang kemudian direspons cepat oleh BI melalui kenaikan suku bunga darurat sebesar 25 bps pada 9 Juni 2026 untuk menstabilkan nilai tukar.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸