Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pertamina Ubah Kemarau Boyolali Jadi Ladang Emas: 90% Lahan Ternoda Jadi Produktif

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pertamina Ubah Kemarau Boyolali Jadi Ladang Emas: 90% Lahan Ternoda Jadi Produktif
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pertamina selenggarakan program Desa Energi Berdikari (DEB) di Boyolali, meliputi dua sumur air, infrastruktur pertanian, dan PLTS untuk pompa air.
  • Luas lahan yang dapat ditanami pada musim kemarau melonjak dari 20% menjadi 90% dalam dua tahun pendampingan.
  • Model energi terbarukan dan irigasi mandiri menambah pendapatan petani, sekaligus membuka usaha peternakan berbasis pakan alternatif.

Setiap tahun, petani di Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, menanti hujan dengan cemas. Tanpa irigasi, hanya 20% lahan yang dapat ditanami pada musim kemarau, memaksa petani seperti Khairul Huda menanggung kerugian berbulan‑bulan.

Kelompok tani Ngudi Makmur kemudian menggandeng Pertamina lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) – Desa Energi Berdikari (DEB). Sejak akhir 2024, PT Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Adi Soemarmo menyiapkan dua sumur air, jaringan pipa, dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menggerakkan pompa air secara mandiri.

Hasilnya? Pada tahun pertama, area tanam pada musim kemarau naik menjadi 60%; pada tahun kedua, hampir seluruh 4 hektare (≈90%) dapat diproduksi. Dampaknya tidak hanya pada pertanian – peternakan juga terangkat. Gulma di Waduk Cengklik diolah menjadi pakan ternak, menambah nilai ekonomi sekaligus menjaga ekosistem waduk.

Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, DEB membuktikan bahwa energi baru terbarukan (EBT) dapat menjadi katalis kemandirian desa, melintasi sektor pertanian, perikanan, pariwisata, hingga pengelolaan lingkungan.

Analisis Pakar

Program DEB di Boyolali menandai pergeseran paradigma CSR korporasi energi tradisional menjadi strategi bisnis berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan infrastruktur air dan energi terbarukan, Pertamina tidak hanya menciptakan nilai sosial, tetapi juga membuka peluang pasar baru – misalnya, penjualan listrik surplus dari PLTS ke jaringan desa atau kontrak pemeliharaan pompa listrik. Model ini dapat direplikasi di wilayah agraris lain yang mengalami stres air, menjadikan Pertamina pemain kunci dalam ekonomi hijau Indonesia.

Dari perspektif makroekonomi, peningkatan produktivitas lahan pada musim kemarau berpotensi menambah output pertanian nasional sebesar 0,2‑0,3% per tahun, mengurangi volatilitas harga pangan, dan memperkuat ketahanan pangan. Lebih jauh, pendapatan tambahan petani meningkatkan daya beli di tingkat desa, menstimulasi konsumsi barang dan jasa lokal – efek multiplier yang signifikan bagi ekonomi daerah.

Namun, keberlanjutan proyek ini tetap bergantung pada dua faktor kritis: pertama, kemampuan kelompok tani mengelola dan merawat infrastruktur secara mandiri; kedua, kebijakan pemerintah yang mendukung skema tarif listrik bagi desa‑desa energi terbarukan. Tanpa insentif yang tepat, potensi surplus energi dapat terhambat, mengurangi ROI bagi investor swasta.

Secara keseluruhan, inisiatif Pertamina di Sobokerto menjadi studi kasus yang layak dipelajari oleh perusahaan energi lain, lembaga keuangan, dan pembuat kebijakan. Jika skala dapat diperluas, Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan pada subsidi energi konvensional sekaligus mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja komponen utama program DEB yang diterapkan di Boyolali?
    A: Dua sumur air, jaringan irigasi, infrastruktur pertanian, dan PLTS untuk menggerakkan pompa air secara mandiri.
  • Q: Bagaimana dampak PLTS terhadap biaya operasional petani?
    A: PLTS mengeliminasi kebutuhan listrik konvensional, menurunkan biaya energi hingga 80% dan mengurangi emisi CO₂.
  • Q: Apakah model ini dapat direplikasi di daerah lain?
    A: Ya, asalkan ada dukungan lahan, akses ke sumber air, dan kebijakan tarif listrik yang mendukung energi terbarukan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸