Baic T1 Siap Dirakit di Tanah Air: Harga Turun di Bawah Rp350 Juta!
Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

- Ringkasan Singkat Model listrik pertama Baic, T1, akan mulai dirakit di Indonesia pada Desember 2026 – Januari 2027.
- Target TKDN 40 % pada fase awal, naik menjadi 60 % setelah investasi baterai Rp65 miliar.
- Harga jual diproyeksikan turun di bawah Rp350 juta berkat pembebasan luxury tax dan insentif pemerintah.
Ringkasan Singkat
- Model listrik pertama Baic, T1, akan mulai dirakit di Indonesia pada Desember 2026 – Januari 2027.
- Target TKDN 40 % pada fase awal, naik menjadi 60 % setelah investasi baterai Rp65 miliar.
- Harga jual diproyeksikan turun di bawah Rp350 juta berkat pembebasan luxury tax dan insentif pemerintah.
JIO Distribusi Indonesia (yang mengusung merek Baic) mengumumkan bahwa T1 akan diproduksi secara lokal di pabrik mitra Handal Indonesia Motor (HIM) yang berlokasi di Lembang, Jawa Barat. Sebelum pabrik siap, Baic mengimpor 120 unit T1 dari China, dengan kemungkinan penambahan hingga 220 unit sebelum produksi dalam negeri dimulai.
Menurut Dhany Yahya, COO JIO Distribusi Indonesia, “Kami bertahap. Saat ini sudah ada 120 unit, nanti kami lihat kebutuhan, dan bila diperlukan kami akan impor lagi sampai produksi dimulai.” Ia menambahkan bahwa total unit yang dapat dikapalkan ke Indonesia hingga bulan depan mencapai sekitar 220 unit.
Perakitan lokal akan mengikuti pola yang sudah dipakai Baic untuk model‑model sebelumnya, dengan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 % pada fase awal. Setelah investasi baru senilai Rp65 miliar untuk fasilitas perakitan baterai, TKDN diharapkan melonjak menjadi 60 %.
Lonjakan TKDN ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri, tetapi juga membuka peluang pembebasan luxury tax. “Harga tentu akan turun karena kami berharap dengan TKDN tinggi kami bisa qualify untuk bebas luxury tax,” ujar Dhany.
Harga resmi T1 yang diumumkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 adalah Rp373 juta untuk 1.000 konsumen pertama, lebih murah Rp20 juta dibandingkan banderol retail Rp393 juta. Dhany menegaskan harapannya harga akhir dapat berada di bawah Rp350 juta setelah produksi lokal berjalan.
Respons pasar selama GIIAS cukup menggembirakan: lebih dari 200 pengunjung melakukan test‑drive, dan dari 407 surat pemesanan (SPK) yang masuk, 139 merupakan pesanan untuk T1. Pengiriman pertama sudah dimulai, dengan 16 unit T1 yang telah didistribusikan ke dealer secara wholesale.
Analisis Pakar
Secara teknis, peralihan produksi T1 ke dalam negeri menandai langkah strategis bagi Baik dalam mengukir posisi di pasar EV Asia Tenggara. TKDN 40 % pada fase awal masih terbilang konservatif, namun cukup untuk menstimulasi rantai pasok lokal—mulai dari rangka aluminium, sistem kelistrikan, hingga modul kontrol baterai. Investasi Rp65 miliar untuk pabrik baterai bukan sekadar menambah nilai tambah, melainkan mengurangi ketergantungan pada impor sel lithium‑ion yang masih mahal dan rawan fluktuasi nilai tukar.
Jika Baic berhasil mencapai TKDN 60 % setelah fase kedua, mereka akan berada di ambang threshold pembebasan luxury tax, yang secara langsung menurunkan OTR (On‑The‑Road) price. Ini penting karena harga menjadi faktor penentu adopsi EV di Indonesia, di mana konsumen masih sensitif terhadap selisih harga dibandingkan ICE (Internal Combustion Engine). Penurunan ke bawah Rp350 juta akan menempatkan T1 bersaing dengan model lokal seperti Wuling Air EV dan Hyundai Ioniq 5 dalam segmen entry‑mid.
Namun, tantangan utama tetap pada infrastruktur pengisian daya dan jaringan layanan purna jual. Baic harus memastikan bahwa baterai yang diproduksi di HIM memiliki standar keamanan dan siklus hidup yang setara dengan unit impor. Pengujian termal, manajemen BMS (Battery Management System), serta kompatibilitas dengan jaringan fast‑charging nasional menjadi kriteria krusial. Tanpa jaminan ini, konsumen akan tetap ragu meski harga lebih terjangkau.
Terakhir, kebijakan pemerintah akan menjadi katalisator atau penghambat. Jika insentif fiskal (PPN 0 %, subsidi baterai) dan regulasi tarif impor tetap mendukung, Baic T1 dapat menjadi pionir EV mass‑market Indonesia. Sebaliknya, penurunan insentif atau penetapan standar yang terlalu ketat dapat menggerus margin dan menunda target produksi. Saya menilai Baic berada pada posisi yang tepat, namun eksekusi teknis dan kebijakan harus selaras untuk mewujudkan visi mobil listrik terjangkau di tanah air.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan tepatnya produksi lokal Baic T1 akan dimulai?
A: Perkiraan pelaksanaan perakitan di Indonesia adalah antara Desember 2026 dan Januari 2027. - Q: Berapa persentase TKDN yang ditargetkan untuk T1?
A: Pada fase awal target TKDN 40 %, akan naik menjadi 60 % setelah investasi baterai selesai. - Q: Apakah harga T1 akan turun setelah diproduksi di dalam negeri?
A: Ya, diproyeksikan harga jual akan berada di bawah Rp350 juta berkat pembebasan luxury tax dan potensi insentif pemerintah.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Debut Apollo EVO di Amerika: Hypercar $3.3 Juta dengan Mesin V12 800 HP dan Eksekusi Keras

Lelang Honda Vario 150 Pelat Merah di Jakarta: Harga Limit Rp 2,86 Juta, Kondisi Rusak Berat

BYD Klaim 5.000 Pekerja Lokal di Pabrik Subang, Targetkan 20.000 Penyerapan Naker Saat Kapasitas Maksimal
