Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menakar Ambisi Prabowo: Target Ekonomi 6% di RAPBN 2027 Dinilai Terlalu Muluk, Ini Analisisnya!

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Menakar Ambisi Prabowo: Target Ekonomi 6% di RAPBN 2027 Dinilai Terlalu Muluk, Ini Analisisnya!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Target Terlalu Tinggi: CORE Indonesia menilai target pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% dalam RAPBN 2027 terlalu optimistis dan kurang realistis secara historis.
  • Minim Sentimen Positif: Tidak ada pendorong kuat baik dari sisi domestik maupun eksternal yang mampu mengerek pertumbuhan hingga menembus angka 6% tahun depan.
  • Tantangan Global: Ketidakpastian geopolitik global yang terjadi sejak awal 2026 terus membayangi dan menekan stabilitas ekonomi nasional.

Rencana besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menggenjot perekonomian nasional langsung mendapat sorotan tajam dari para ekonom. Dalam Nota Keuangan RAPBN 2027, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi di angka fantastis, yakni berada di rentang 5,8 persen hingga 6,5 persen. Angka ini melonjak signifikan dibanding target APBN 2026 yang dipatok sebesar 5,4 persen.

Namun, optimisme tinggi ini langsung diredam oleh lembaga think-tank ekonomi terkemuka, CORE Indonesia. Direktur Riset Bidang Makroekonomi CORE Indonesia, Akbar Susamto, secara blak-blakan menyebut target tersebut "sangat optimistis"—bahasa halus untuk menyebutnya kurang realistis. Menurut Akbar, rekam jejak historis menunjukkan bahwa Indonesia hampir tidak pernah menyentuh angka pertumbuhan di atas 5,5 persen dalam satu dekade terakhir.

Lebih lanjut, Akbar menekankan bahwa tidak ada fondasi atau sentimen kuat, baik dari dalam negeri maupun global, yang bisa menjustifikasi lompatan target tersebut. Sejak awal tahun 2026, lanskap ekonomi global terus dihantam ketidakpastian akibat ketegangan geopolitik yang tak kunjung mereda. Faktor eksternal yang tidak menentu ini, ditambah dengan daya beli domestik yang belum sepenuhnya pulih, dinilai akan menjadi batu sandungan besar bagi ambisi ekonomi pemerintah.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat target pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% dalam RAPBN 2027 ini lebih kental dengan nuansa politis ketimbang kalkulasi teknokratis yang matang. Mematok target tinggi memang bagus untuk membangun sentimen positif di pasar, namun jika angka tersebut terlalu jauh dari realitas struktural ekonomi kita, pemerintah justru berisiko kehilangan kredibilitas di mata investor global.

Kita harus jujur melihat kapasitas produksi nasional kita. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi potensial (potential growth rate) Indonesia tertahan di kisaran 5%. Untuk melompat ke angka 6%, kita tidak bisa hanya mengandalkan formula biasa atau sekadar belanja APBN yang ekspansif. Dibutuhkan transformasi struktural yang masif, terutama re-industrialisasi untuk membangkitkan sektor manufaktur yang selama ini mengalami deindustrialisasi dini.

Dari sisi domestik, mesin utama pertumbuhan kita—yaitu konsumsi rumah tangga—sedang mengalami tekanan berat. Kelas menengah kita menyusut, dan daya beli tergerus oleh inflasi serta kebijakan fiskal yang kontraktif seperti kenaikan PPN. Di sisi lain, berharap pada investasi asing langsung (FDI) untuk menutup celah tersebut juga sangat menantang di tengah era suku bunga global yang fluktuatif dan ketidakpastian geopolitik yang terus membayangi sejak awal 2026.

Jika pemerintah memaksakan target pertumbuhan yang terlalu tinggi tanpa reformasi struktural yang nyata, risikonya adalah pelebaran defisit anggaran yang berbahaya. Penerimaan pajak berpotensi meleset dari target, dan pemerintah terpaksa harus menambah utang baru dengan biaya (yield) yang mahal. Oleh karena itu, fokus pemerintah seharusnya bukan pada seberapa tinggi angka pertumbuhan di atas kertas, melainkan pada kualitas pertumbuhan itu sendiri: apakah mampu menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas dan meningkatkan pendapatan riil masyarakat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa target pertumbuhan ekonomi RAPBN 2027 dinilai terlalu optimistis?
A: Karena secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat jarang menembus angka 5,5%. Selain itu, belum ada mesin pertumbuhan baru atau reformasi struktural yang cukup kuat untuk mendorong angka tersebut ke level 6% di tengah ketidakpastian global saat ini.

Q: Apa saja faktor eksternal yang menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia?
A: Faktor eksternal utama meliputi ketidakpastian geopolitik global yang memicu fluktuasi harga komoditas, gangguan rantai pasok global, serta kebijakan moneter ketat dari bank sentral negara-negara maju.

Q: Apa dampak bagi APBN jika target pertumbuhan ekonomi ini meleset?
A: Jika target pertumbuhan meleset, penerimaan negara dari sektor pajak dan PNBP kemungkinan besar tidak akan mencapai target. Hal ini dapat memperlebar defisit anggaran dan memaksa pemerintah untuk menambah utang baru guna menutup pembiayaan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸