Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz, Trump Klaim Kendali Penuh – Dampaknya pada Pasar Energi Global

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz, Trump Klaim Kendali Penuh – Dampaknya pada Pasar Energi Global
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pejabat senior Basij Iran menyatakan Selat Hormuz kini berada di bawah kontrol Republik Islam.
  • Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim Washington memiliki kendali penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut.
  • Perselisihan ini menambah ketidakpastian pasokan minyak dunia, memicu volatilitas harga dan menimbulkan risiko bagi perusahaan energi serta investor.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah Hossein Taeb, kepala baru pasukan paramiliter Basij, menegaskan pada Kamis (13/8/2026) bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kontrol Iran. Pernyataan ini muncul satu hari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Washington memiliki "kendali penuh" atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Taeb menuduh Washington berupaya mengganggu popularitas Republik Islam di kawasan dengan memulai "perang baru" di Selat Hormuz, namun menegaskan bahwa upaya tersebut gagal meski AS menganggap Iran tidak memiliki angkatan udara maupun angkatan laut yang kuat. "Hari ini Anda dapat melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam," ujarnya, menambahkan bahwa keamanan kawasan tetap terjaga.

Di sisi lain, pejabat militer senior Iran, Rasoul Sanaei‑Rad, menegaskan bahwa pembukaan kembali selat tidak dapat dilakukan secara sepihak oleh AS. Ia memperingatkan bahwa Iran siap memberikan respons lebih keras jika konflik kembali memuncak, menambahkan, "Dalam kemungkinan perang di masa depan, kami akan berdiri lebih teguh dan bertindak lebih ofensif."

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dan gas alam cair dunia—sekitar satu per lima pasokan global. Sejak serangan gabungan AS‑Israel pada 28 Februari 2026, Iran menutup selat, memicu blokade laut AS dan menimbulkan ketegangan yang berujung pada gencatan senjata sementara pada Juni lalu. Namun perjanjian itu runtuh setelah Iran menuduh pelanggaran oleh kapal-kapal asing, memicu serangan balasan AS ke provinsi selatan Iran.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua dimensi utama dalam perseteruan ini: geopolitik dan pasar energi. Dari sudut pandang geopolitik, klaim kontrol atas Selat Hormuz bukan sekadar simbolik; ia mencerminkan upaya kedua negara untuk menguasai jalur logistik energi yang paling vital. Jika Iran berhasil mempertahankan kontrol de‑facto, Washington akan kehilangan leverage penting dalam negosiasi keamanan regional, sekaligus meningkatkan biaya operasional perusahaan pelayaran dan asuransi.

Dari perspektif pasar, setiap gangguan di Hormuz secara otomatis menambah premi risiko pada kontrak minyak mentah Brent dan WTI. Investor harus menyiapkan strategi hedging yang lebih agresif, terutama bagi perusahaan energi yang memiliki eksposur tinggi terhadap minyak Timur Tengah. Selain itu, volatilitas ini dapat mempercepat pergeseran alokasi portofolio ke energi terbarukan, karena investor mencari aset yang kurang rentan terhadap geopolitik.

Namun, ada juga peluang. Perusahaan logistik dan asuransi yang memiliki jaringan di wilayah Teluk dapat memanfaatkan lonjakan premi pengiriman. Sementara itu, negara‑negara produsen alternatif—seperti Rusia, Brasil, dan Amerika Serikat—dapat meningkatkan penawaran mereka untuk mengisi kekosongan pasokan, yang pada gilirannya dapat menstabilkan harga dalam jangka menengah.

Secara keseluruhan, dinamika ini menegaskan pentingnya diversifikasi rantai pasok energi dan kesiapan perusahaan untuk menanggapi fluktuasi geopolitik secara cepat. Kebijakan pemerintah Indonesia yang menambah cadangan strategis minyak dan memperkuat hubungan dengan produsen non‑Timur Tengah menjadi semakin relevan dalam konteks ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa implikasi penutupan Selat Hormuz bagi harga minyak dunia?
    A: Penutupan atau gangguan di selat dapat menambah premi risiko, mendorong kenaikan harga minyak mentah global hingga 5‑10% dalam jangka pendek.
  • Q: Bagaimana perusahaan asuransi menilai risiko pelayaran di wilayah ini?
    A: Mereka biasanya menaikkan tarif premi secara signifikan dan menuntut klausul perlindungan tambahan untuk kapal yang melintasi zona konflik.
  • Q: Apakah Indonesia terpengaruh langsung oleh perselisihan ini?
    A: Secara tidak langsung, karena Indonesia mengimpor sebagian besar minyak mentah; fluktuasi harga dapat memengaruhi subsidi BBM dan neraca perdagangan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸