Harga Telur Anjlok di Bawah Acuan: Ancaman 'Supply Shock' Mengintai Ketahanan Pangan Nasional
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Harga telur ayam ras di tingkat peternak anjlok 12,31% (Rp23.237/kg) dibandingkan Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500/kg.
- Bapanas memperingatkan bahwa harga yang terlalu rendah dapat mematikan produksi peternak dan memicu kelangkaan pasokan di masa depan.
- Pemerintah mengintervensi melalui percepatan penyaluran jagung SPHP untuk menekan biaya pakan sebagai bantalan ekonomi peternak.
Keseimbangan pasar pangan kini tengah diuji. Bapanas memberikan sinyal waspada terkait anjloknya harga telur ayam ras di tingkat produsen yang kini berada jauh di bawah standar Harga Acuan Pembelian (HAP). Saat ini, peternak hanya menerima Rp23.237 per kilogram, sementara angka ideal yang ditetapkan pemerintah adalah Rp26.500 per kilogram.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Hermawan, menegaskan bahwa strategi pengendalian inflasi tidak boleh hanya berfokus pada harga murah bagi konsumen. Jika harga di tingkat peternak terus tertekan, kemampuan produksi akan lumpuh, yang pada akhirnya justru akan menciptakan efek bumerang berupa lonjakan harga akibat kelangkaan stok.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung. Hingga 3 Agustus 2026, sebanyak 104.411 ton jagung telah disalurkan kepada lebih dari 5.500 peternak. Mengingat jagung adalah komponen biaya terbesar dalam pakan, stabilitas harga komoditas ini menjadi kunci agar peternak tidak gulung tikar di tengah harga jual telur yang sedang terpuruk.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, fenomena ini adalah contoh klasik dari 'price volatility' yang berbahaya. Kita seringkali terjebak dalam pola pikir bahwa harga pangan yang rendah adalah kemenangan bagi konsumen. Namun, sebagai ekonom, saya melihat ini sebagai risiko sistemik. Ketika harga jual jatuh di bawah biaya produksi (cost of production), peternak akan melakukan efisiensi ekstrem atau bahkan melakukan pemusnahan populasi ayam (culling) untuk meminimalkan kerugian. Inilah yang memicu supply shock di periode berikutnya.
Intervensi Bapanas melalui SPHP jagung adalah langkah taktis yang tepat, namun bersifat kuratif, bukan preventif. Masalah mendasar dalam industri perunggasan kita adalah ketergantungan tinggi pada bahan baku pakan impor dan rantai distribusi yang terlalu panjang. Jika pemerintah hanya memberikan subsidi jagung tanpa membenahi struktur pasar dan memutus rantai tengkulak yang seringkali mengambil margin terbesar, maka peternak akan selalu berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga.
Saya melihat ada kontradiksi dalam kebijakan pengendalian inflasi kita. Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga daya beli masyarakat dengan harga murah, namun di sisi lain, mereka harus menjaga keberlangsungan produksi. Jika HAP tidak ditegakkan dengan mekanisme pasar yang sehat, maka HAP hanya akan menjadi angka di atas kertas tanpa kekuatan eksekusi. Kita membutuhkan mekanisme buffer stock yang lebih agresif atau skema asuransi harga untuk melindungi produsen kecil dari volatilitas pasar.
Kesimpulannya, stabilitas pangan bukan sekadar tentang angka inflasi bulanan yang rendah, melainkan tentang ekosistem produksi yang sehat. Jika peternak lokal tumbang, kita akan semakin bergantung pada impor, yang justru akan membuat inflasi pangan kita jauh lebih tidak terkendali di masa depan karena sangat dipengaruhi oleh harga global dan nilai tukar rupiah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa harga telur yang murah justru dianggap berbahaya oleh Bapanas?
A: Karena jika harga terlalu rendah di tingkat peternak, mereka akan rugi dan mengurangi produksi. Hal ini dapat menyebabkan kelangkaan pasokan telur di masa depan yang justru akan memicu lonjakan harga yang lebih tinggi.
Q: Apa itu HAP dalam konteks harga telur?
A: HAP adalah Harga Acuan Pembelian, yaitu standar harga minimum yang ditetapkan pemerintah agar peternak tetap mendapatkan keuntungan yang wajar dan usaha mereka tetap berkelanjutan.
Q: Bagaimana peran jagung SPHP dalam membantu peternak?
A: Jagung adalah komponen utama pakan ternak. Dengan menyediakan jagung melalui program SPHP dengan harga terjangkau, pemerintah membantu menurunkan biaya produksi peternak sehingga mereka tetap bisa bertahan meski harga jual telur sedang turun.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

IHSG Anjlok 3,78% ke 4.904,29, Bayang-Bayang Pemilu AS dan Pelemahan Minyak Tekan Pasar

PGN Perkuat Komitmen Pengembangan Energi Rendah Karbon dengan Infrastruktur dan Inisiatif Dekarbonisasi

IHSG Anjlok 3,52%, Analis Mirae Asset Soroti Kombinasi Rebalancing dan Sikap Risk-Off Investor
