Volkswagen Gagal Terbang: Proyek Mobil Terbang di China Runtuh Setelah 5 Tahun!

- Ringkasan Singkat Proyek Volkswagen eVTOL di Beijing dimulai 2019, namun dibatalkan Juni 2024 karena persaingan lokal yang lebih gesit.
- Desain eksperimental “Pantala”, “Flying Tiger”, dan “Sky Garden” gagal memenuhi target aerodinamika, jangkauan, dan kebisingan, bahkan menimbulkan sengketa hukum tentang rahasia dagang.
- Kegagalan ini memperparah penurunan penjualan VW di China, dari 4,2 juta unit (2019) menjadi 2,7 juta unit (2025), menurunkan posisi ke peringkat tiga di belakang BYD dan Geely .
Ringkasan Singkat
- Proyek Volkswagen eVTOL di Beijing dimulai 2019, namun dibatalkan Juni 2024 karena persaingan lokal yang lebih gesit.
- Desain eksperimental “Pantala”, “Flying Tiger”, dan “Sky Garden” gagal memenuhi target aerodinamika, jangkauan, dan kebisingan, bahkan menimbulkan sengketa hukum tentang rahasia dagang.
- Kegagalan ini memperparah penurunan penjualan VW di China, dari 4,2 juta unit (2019) menjadi 2,7 juta unit (2025), menurunkan posisi ke peringkat tiga di belakang BYD dan Geely.
Volkswagen (VW) meluncurkan ambisi mobil terbang berdaya baterai di China pada 2019 lewat tim startup internal di Beijing. Ide utamanya: sebuah drone mewah empat‑penumpang yang dapat meluncur antara kota‑kota megapolis seperti Beijing‑Tianjin dengan tingkat kebisingan setengah dari helikopter tradisional. Pada video promosi 2022, pemimpin proyek Zhou Jin menegaskan, “Segmen ini memiliki potensi menjadi pasar utama bagi Volkswagen Group.”
Namun, eVTOL bukan sekadar mimpi futuristik; drone menjadi contoh nyata tantangan teknologi yang dihadapi. Pada dekade 2010‑an, raksasa otomotif global berbondong‑bondon masuk ke arena ini. Porsche Consulting memperkirakan nilai pasar eVTOL mencapai US$32 miliar pada 2035. Toyota menanam modal di Joby Aviation, Porsche menggandeng Boeing, dan Audi berkolaborasi dengan Airbus. Semua itu belum menghasilkan produk komersial, sehingga VW mengalihkan fokus ke pasar yang masih dikuasainya: China.
China, bagaimanapun, telah menjadikan “ekonomi ketinggian rendah” – meliputi drone, taksi udara, dan layanan penerbangan <1 000 m – sebagai prioritas nasional. Gelombang startup lokal pun melaju cepat. VW sempat menilai EHang (startup eVTOL pertama China yang terdaftar di bursa) namun menolak karena standar rekayasa tidak sejalan. Produsen drone Sichuan Tengden juga mundur karena keterbatasan kapasitas angkut.
Pada 2021, VW menggandeng Pantuo Aviation (Shanghai) untuk mengembangkan prototipe “Pantala”. Desain empat sayap berputar menyerupai pesawat Star Wars ini ternyata memiliki rasio lift‑drag yang buruk, jangkauan berdasar baterai jauh di bawah target 300 km, serta kebisingan yang melampaui batas regulasi. Evaluasi internal menyebutnya “risiko tak terkendali” dan mengkategorikannya sebagai kesalahan strategis. Perselisihan hukum tentang dugaan pencurian rahasia dagang pun muncul, namun VW menegaskan klaim tersebut “tidak berdasar”.
Setelah kegagalan dengan Pantuo, VW beralih ke Sunward Technology (Hunan) pada 2022, menghasilkan dua prototipe: “Flying Tiger” (konsep vertikal‑take‑off) dan “Sky Garden”. Prototipe “Sky Garden” sempat didemonstrasikan kepada Perdana Menteri China, Li Qiang, pada Maret 2023, dan diuji di wilayah terpencil Mongolia Dalam. Pada Oktober 2023, VW menandatangani kesepakatan dengan Wanfeng Auto Holding Group untuk persiapan peluncuran pasar.
Pada Maret 2024, komite manajemen puncak VW meninjau kembali rencana komersialisasi. Tim legal, kepatuhan, dan strategi mengingatkan bahwa profitabilitas eVTOL masih berjauh dari titik impas, terutama dengan persaingan ketat dari pemain lokal seperti Xpeng dan Geely. Meskipun lampu hijau diberikan, keputusan akhir diserahkan kepada kepala VW China, Ralf Brandstaetter. Ia memutuskan untuk memfokuskan kembali pada bisnis inti otomotif, membubarkan tim eVTOL pada Juni 2024 dan mengirimkan pesan singkat lewat WeChat kepada mitra Wanfeng.
Kegagalan ini terjadi bersamaan dengan penurunan penjualan VW di China: dari puncak 4,2 juta unit (2019) turun menjadi 2,7 juta unit (2025), menurunkan posisi ke peringkat tiga di belakang BYD dan Geely. Tekanan pada laba, tarif AS, dan restrukturisasi pabrik Jerman memaksa VW memangkas model dan mengurangi hingga 100 ribu pekerjaan.
Analisis Pakar
Sebagai seorang reviewer otomotif yang telah menelusuri evolusi mobilitas selama dua dekade, saya melihat kegagalan VW di arena eVTOL sebagai contoh klasik “mis‑fit” antara budaya korporasi Barat dan ekosistem inovasi China. VW membawa pendekatan engineering yang terstandarisasi, menuntut proses validasi berlapis, dan mengandalkan simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) yang memakan waktu. Sementara startup China beroperasi dengan lean‑startup mindset, menguji prototipe di lapangan dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Teknisnya, desain “Pantala” mengabaikan prinsip dasar rotor‑craft aerodynamics. Empat sayap berputar menimbulkan interferensi aliran yang meningkatkan drag secara eksponensial, mengurangi efisiensi thrust‑to‑weight. Baterai lithium‑ion yang dipilih memiliki densitas energi sekitar 250 Wh/kg – jauh di bawah standar industri drone militer (≈300 Wh/kg). Akibatnya, jangkauan yang dijanjikan 300 km menjadi hanya 120‑150 km dalam uji real‑world, menurunkan nilai jual bagi konsumen kaya yang mengharapkan mobilitas lintas‑kota tanpa henti.
Di sisi lain, kompetitor lokal seperti Xpeng dan Geely telah mengintegrasikan distributed electric propulsion (DEP) dan composite airframe yang menurunkan berat struktural hingga 30 %. Mereka juga memanfaatkan kebijakan subsidi pemerintah China yang memberikan insentif hingga ¥200.000 per unit eVTOL. Tanpa dukungan semacam itu, VW terpaksa menanggung biaya R&D yang tinggi, sementara margin operasional tetap tipis.
Strategi VW yang beralih fokus ke pasar China setelah kegagalan di Barat ternyata menjadi bumerang. Alih‑alih mengakselerasi kolaborasi dengan pemain lokal, VW terjebak dalam birokrasi internal yang lambat, mengakibatkan “risk‑taking” yang terlalu konservatif. Kesimpulannya, untuk kembali bersaing di pasar eVTOL, VW harus mengadopsi model kemitraan yang lebih terbuka, mempercayakan desain aerodinamika kepada tim lokal, dan mengintegrasikan teknologi baterai generasi berikutnya (solid‑state) yang masih dalam tahap prototipe.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa proyek mobil terbang Volkswagen di China gagal?
A: Kombinasi desain aerodinamika yang buruk, jangkauan baterai tidak mencukupi, persaingan lokal yang lebih cepat, serta sengketa hukum membuat proyek tidak layak secara komersial. - Q: Apa perbedaan utama antara eVTOL Volkswagen dan produk pesaing China seperti Xpeng?
A: Xpeng menggunakan propulsion terdistribusi, material komposit ringan, dan memanfaatkan subsidi pemerintah, sementara Volkswagen mengandalkan desain tradisional dengan empat rotor besar dan baterai konvensional. - Q: Apakah Volkswagen akan kembali ke pasar eVTOL di masa depan?
A: Saat ini VW memfokuskan kembali pada bisnis inti otomotif, namun kemungkinan besar akan kembali lewat kemitraan strategis atau lisensi teknologi bila ekosistem China lebih matang.
BERITA TERKAIT (Otomotif)

Debut Apollo EVO di Amerika: Hypercar $3.3 Juta dengan Mesin V12 800 HP dan Eksekusi Keras

Lelang Honda Vario 150 Pelat Merah di Jakarta: Harga Limit Rp 2,86 Juta, Kondisi Rusak Berat

BYD Klaim 5.000 Pekerja Lokal di Pabrik Subang, Targetkan 20.000 Penyerapan Naker Saat Kapasitas Maksimal
