Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

PLN Gandeng PSEL Legok Nangka: 40,8 MW Energi Sampah Siap Jadi Aset Bersih 2029

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Indonesia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

PLN Gandeng PSEL Legok Nangka: 40,8 MW Energi Sampah Siap Jadi Aset Bersih 2029
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PLN tandatangani PJBL 20‑tahun dengan PT Jabar Environmental Solutions untuk menyerap listrik dari PSEL Legok Nangka (40,79 MW).
  • Fasilitas akan mengolah 2.131 ton sampah per hari, menghasilkan sekitar 310 GWh listrik per tahun, diproyeksikan beroperasi 2029.
  • Proyek menjadi bagian strategi nasional waste‑to‑energy dan diharapkan memicu lapangan kerja, mengurangi emisi, serta memperkuat pasokan energi bersih di Jawa Barat.

Jakarta – PLN resmi mendukung agenda pengelolaan sampah berkelanjutan pemerintah dengan menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) bersama PT Jabar Environmental Solutions (PT JES). Kesepakatan ini memberi kepastian pembelian listrik selama 20 tahun dari fasilitas Legok Nangka di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang sedang memasuki fase konstruksi. PLN Siap Serap Listrik Sampah Legok Nangka menjadi referensi penting dalam pengembangan energi hijau.

Dengan kapasitas terpasang 40,79 MW, PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) Legok Nangka diperkirakan dapat mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan sekitar 310 GWh listrik per tahun. Proyek ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 2029, selaras dengan target Pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025‑2029 untuk menuntaskan masalah sampah sebelum akhir dekade.

“Groundbreaking hari ini bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan infrastruktur, tetapi juga simbol komitmen bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan,” ujar Wakil Menteri Yuliot dalam acara peresmian. Ia menekankan bahwa PSEL Legok Nangka diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh wilayah Indonesia, memberikan manfaat ganda: pengurangan volume sampah sekaligus pasokan energi bersih.

Gubernur Dedi Mulyadi menambahkan bahwa proyek ini akan menjadi “alat picu” bagi sistem pengelolaan sampah modern, sekaligus memperkuat pasokan listrik untuk industri dan investasi di Jawa Barat. Menurutnya, sinergi antara pengelolaan sampah dan pembangkit listrik akan meningkatkan kualitas udara, menciptakan lapangan kerja, dan menambah nilai ekonomi daerah.

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menegaskan kesiapan PLN untuk mengeksekusi PJBL selama dua dekade ke depan. “Kami memberikan kepastian pembelian listrik sehingga proyek waste‑to‑energy dapat berkelanjutan,” katanya. Ia menilai bahwa integrasi PSEL ke dalam bauran energi nasional tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga membuka peluang bisnis baru bagi sektor energi terbarukan.

Analisis Pakar

Secara strategis, proyek PSEL Legok Nangka menandai titik balik dalam kebijakan energi Indonesia. Selama ini, kebijakan energi terbarukan masih didominasi oleh sumber matahari dan angin, sementara potensi waste‑to‑energy belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan mengamankan kontrak PJBL 20 tahun, PLN tidak hanya mengurangi risiko pasar bagi investor, tetapi juga menciptakan aliran pendapatan yang stabil untuk PT JES, yang pada gilirannya dapat menarik lebih banyak modal swasta ke sektor ini.

Dari perspektif bisnis, kapasitas 40,79 MW setara dengan pembangkit listrik skala menengah yang dapat menutup sebagian kebutuhan beban puncak di Jawa Barat. Mengingat tarif listrik Indonesia yang masih relatif tinggi, listrik yang dihasilkan dari sampah dapat menjadi kompetitif, terutama bila dipertimbangkan biaya pengelolaan sampah yang selama ini menjadi beban daerah. Dengan demikian, proyek ini berpotensi mengurangi beban fiskal daerah sekaligus meningkatkan margin operasional PLN.

Namun, tantangan utama tetap pada kontinuitas pasokan bahan baku—sampah. Keberhasilan proyek sangat bergantung pada sistem pengumpulan dan pemilahan sampah yang efisien. Pemerintah daerah harus memastikan rantai pasokan yang terintegrasi, mulai dari rumah tangga hingga fasilitas pra‑proses, untuk menghindari fluktuasi produksi energi. Investasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah, seperti fasilitas komposting dan daur ulang, akan menjadi pelengkap penting.

Jika model Legok Nangka terbukti berhasil, skala ekonominya dapat direplikasi di kota‑kota besar lain, menciptakan ekosistem waste‑to‑energy nasional. Ini tidak hanya akan memperkuat bauran energi bersih Indonesia, tetapi juga membuka peluang ekspor teknologi dan layanan manajemen sampah ke negara‑negara berkembang yang menghadapi tantangan serupa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan PSEL Legok Nangka akan mulai menghasilkan listrik?
    A: Fasilitas diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2029.
  • Q: Berapa kapasitas listrik yang akan dihasilkan?
    A: Sekitar 40,79 MW, atau kira‑kira 310 GWh per tahun.
  • Q: Apa manfaat utama proyek ini bagi masyarakat?
    A: Mengurangi volume sampah, menyediakan listrik bersih, menciptakan lapangan kerja, dan menurunkan emisi karbon di wilayah Jawa Barat.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸