Ayah-ayah Jakarta Timur Turun Jalan untuk Dukung GAMAS: Lebih dari Sekadar Antar Anak ke Sekolah

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Ayah-ayah Jakarta Timur Turun Jalan untuk Dukung GAMAS: Lebih dari Sekadar Antar Anak ke Sekolah
BAGIKAN:

Jakarta Timur – Pada Senin, 14 Juli 2025, ribuan ayah di kawasan Matraman, Rawamangun, dan Jatinegara berbondong‑bondong mengantar anak‑anak mereka ke gerbang sekolah. Aksi ini bukan sekadar ritual pagi; melainkan bagian dari Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) yang digalakkan pemerintah sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak.

Rio Manik, 33 tahun, warga Pisangan Baru, Matraman, memulai perjalanan sejak pukul 06.00 WIB. “Saya kerja, tapi saya sempatkan waktu mengantar anak sekolah, apalagi ini momen pertama dia menginjakkan kaki di level baru, masuk SMP,” ujarnya sambil menunggu motor melaju di antara kepadatan lalu lintas. Perjalanan 20 menit ke SMP Tarakanita, Rawamangun, ia manfaatkan untuk mengobrol, menanyakan persiapan, dan menyalakan semangat sang anak.

Tak hanya Rio, Dion (36) juga mengaku menjadi ayah pertama yang mengantar anaknya ke SMP Tarakanita. “Biasanya mamanya yang mengantar, tapi hari pertama saya ikut. Kita sebagai ayah harus bisa menyempatkan waktu, jadi anak kita juga semangat mau berangkat sekolah,” kata Dion, menegaskan pentingnya kehadiran ayah di momen krusial tersebut.

Fenomena ini terjadi di tengah kemacetan yang melanda Jalan Pemuda Rawamangun dan Jalan Basuki Rahmat. Laporan kepolisian lalu lintas mencatat kepadatan lebih dari satu kilometer dengan kecepatan rata‑rata lima kilometer per jam, didominasi kendaraan roda dua dan empat yang mengantar anak‑anak ke sekolah. Sementara arus dari arah Pramuka menuju Pulogadung relatif lebih lancar, tekanan pada infrastruktur transportasi tetap terasa.

GAMAS sendiri berlandaskan Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Mendukbangga/BKKBN) Nomor 7 Tahun 2025. Gerakan ini bertepatan dengan hari pertama tahun ajaran 2025/2026, sebagaimana diatur dalam Kalender Pendidikan Provinsi DKI Jakarta (SK Kepala Dinas Pendidikan No. 89 Tahun 2025). Pemerintah berharap kehadiran ayah di sekolah dapat meningkatkan rasa percaya diri anak, memperkuat ikatan keluarga, serta menurunkan angka putus sekolah.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa GAMAS, meski berniat mulia, mengungkapkan beberapa tantangan struktural yang belum terselesaikan. Pertama, kebijakan ini menyoroti ketimpangan peran gender dalam tanggung jawab pendidikan anak. Di banyak rumah tangga, beban mengantar anak masih jatuh pada ibu, sementara ayah hanya terlibat pada momen-momen simbolik. GAMAS berpotensi menjadi “kebijakan simbolik” yang tidak diikuti dengan dukungan kebijakan yang lebih luas, seperti fleksibilitas jam kerja atau fasilitas transportasi khusus bagi orang tua yang ingin berpartisipasi aktif.

Kedua, kemacetan yang melanda jalur utama di Jakarta Timur mengindikasikan kurangnya koordinasi antara kebijakan pendidikan dan infrastruktur transportasi. Jika pemerintah mengharapkan partisipasi ayah secara massal, maka harus ada investasi nyata dalam memperbaiki akses jalan, menyediakan jalur sepeda, atau mengoptimalkan transportasi umum pada jam‑jam kritis. Tanpa itu, aksi GAMAS berisiko menjadi beban tambahan bagi orang tua yang harus menghabiskan waktu dan biaya ekstra.

Ketiga, keberlanjutan gerakan ini memerlukan evaluasi dampak jangka panjang. Apakah kehadiran ayah pada hari pertama benar‑benar meningkatkan prestasi akademik atau mengurangi angka putus sekolah? Data empiris masih minim, dan tanpa riset yang mendalam, kebijakan ini dapat berakhir sebagai kampanye media semata. Pemerintah perlu menyusun indikator yang jelas, melakukan survei longitudinal, serta melibatkan lembaga akademik untuk menilai efektivitasnya.

Akhirnya, saya mengajak semua pemangku kepentingan – dari kementerian, Dinas Pendidikan, hingga sektor swasta – untuk melihat GAMAS bukan hanya sebagai aksi harian, melainkan sebagai peluang untuk merombak paradigma peran orang tua dalam pendidikan. Hanya dengan kebijakan yang terintegrasi, dukungan infrastruktur, dan bukti empiris yang kuat, kita dapat memastikan bahwa kehadiran ayah di gerbang sekolah bukan sekadar foto Instagram, melainkan katalisator perubahan nyata bagi generasi mendatang.