Misi 'Bedah Karakter' Bernardo Tavares: Strategi Psikologis di Balik Latihan Perdana Persebaya
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

SURABAYA – Memasuki musim kompetisi 2026/2027, Persebaya Surabaya tidak ingin sekadar mengandalkan skema taktis di atas kertas. Pelatih anyar asal Portugal, Bernardo Tavares, memulai langkah awalnya dengan pendekatan yang tidak biasa: melakukan audit karakter terhadap seluruh penggawa Bajol Ijo dalam sesi latihan perdana, Sabtu.
Bagi Tavares, kualitas teknis pemain hanyalah satu sisi dari mata uang. Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap perilaku pemain—baik saat berkeringat di lapangan maupun saat berinteraksi di ruang ganti—adalah kunci utama dalam membangun fondasi tim yang solid.
"Target saya adalah menganalisis kondisi pemain dan melihat karakteristik yang mereka miliki. Melihat pertandingan, latihan, dan perilaku mereka di ruang ganti adalah hal yang berbeda," tegas Tavares. Baginya, sepak bola adalah permainan kolektif yang menuntut sinkronisasi antara sikap, karakter, dan dinamika antarpemain.
Tak hanya fokus pada internal, Tavares juga memberikan peringatan keras kepada skuadnya agar tidak terjebak dalam euforia hasil positif musim lalu. Ia menekankan pentingnya kerendahan hati dan fokus penuh, mengingat setiap laga di musim mendatang akan membawa tantangan yang berbeda.
Sesi latihan perdana ini juga menjadi panggung debut bagi dua amunisi baru asal Brasil. Walber Mota, bek dengan rekam jejak mentereng di Botafogo dan Vasco da Gama serta pengalaman di AFC Champions League Two bersama Nam Dinh FC, diharapkan mampu memperkokoh lini pertahanan.
Sementara itu, Gledson Paixao, gelandang pekerja keras eks PSM Makassar, turut bergabung. Fleksibilitas Gledson yang mampu beroperasi sebagai bek tengah memberikan opsi strategis bagi Tavares dalam menjaga keseimbangan permainan sepanjang musim.
Analisis Redaksi: Pertaruhan Psikologis Tavares di Kota Pahlawan
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati dinamika sepak bola Indonesia, saya melihat langkah Bernardo Tavares ini bukan sekadar formalitas latihan perdana. Keputusannya untuk memprioritaskan 'analisis karakter' di atas sekadar fisik dan taktik menunjukkan bahwa Tavares adalah pelatih yang sadar akan kompleksitas sosiologis di ruang ganti Persebaya. Kita semua tahu, Persebaya bukan sekadar klub; ini adalah institusi dengan tekanan suporter yang masif. Pemain dengan skill bintang namun mentalitas rapuh seringkali 'tumbang' di bawah tekanan atmosfer Gelora Bung Tomo.
Fokus Tavares pada perilaku di ruang ganti mengindikasikan bahwa ia ingin membedah hierarki sosial di dalam tim. Ia sedang mencari siapa yang benar-benar pemimpin, siapa yang hanya sekadar pengikut, dan siapa yang berpotensi menjadi 'bom waktu' dalam harmoni tim. Dalam sepak bola modern, chemistry yang dibangun dari pemahaman karakter jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi taktis yang kaku. Jika Tavares gagal memetakan ego para pemainnya, maka strategi secanggih apa pun akan runtuh saat tim menghadapi tekanan di menit-menit kritis pertandingan.
Kehadiran Walber Mota dan Gledson Paixao juga menarik untuk dikuliti. Rekrutmen pemain Brasil bukan hal baru di Liga 1, namun profil Walber yang memiliki pengalaman di level Asia (AFC) menunjukkan ambisi Persebaya untuk naik kelas. Namun, tantangan terbesarnya adalah adaptasi. Banyak pemain Brasil gagal di Indonesia bukan karena teknis, melainkan karena gegar budaya dan ketidakmampuan beradaptasi dengan gaya permainan lokal yang cenderung fisik dan cepat. Di sinilah peran 'bedah karakter' Tavares diuji: apakah ia mampu mengintegrasikan ego pemain asing ini ke dalam ekosistem lokal tanpa menciptakan gesekan?
Prediksi saya, musim 2026/2027 akan menjadi ujian bagi konsistensi Persebaya. Jika Tavares berhasil membangun fondasi mental yang kokoh sebagaimana yang ia canangkan di latihan perdana ini, Bajol Ijo memiliki peluang besar untuk mendominasi. Namun, jika pendekatan psikologis ini hanya menjadi retorika awal musim, maka Persebaya hanya akan menjadi tim yang 'menjanjikan' namun nihil trofi. Kunci keberhasilan Tavares bukan terletak pada seberapa hebat ia melatih taktik, melainkan seberapa tajam ia mampu membaca manusia di belakang jersey hijau tersebut.
BERITA TERKAIT

Sinyal 'Warning' KPK untuk Kejagung: Akankah Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Menguap?

Ambisi 145 Ribu Penonton di Mandalika 2026: Optimisme Buta atau Strategi Terukur?
