Ambisi 145 Ribu Penonton di Mandalika 2026: Optimisme Buta atau Strategi Terukur?

MotoGP
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ambisi 145 Ribu Penonton di Mandalika 2026: Optimisme Buta atau Strategi Terukur?
BAGIKAN:

LOMBOK – Penyelenggara MotoGP Indonesia kembali memasang target tinggi untuk gelaran musim 2026. Dengan mengandalkan tren positif penjualan tiket yang mulai merangkak naik sejak pertengahan Juni, manajemen Sirkuit Mandalika kini membidik angka fantastis: 145 ribu penonton untuk memadati tribun.

Optimisme ini muncul di tengah upaya pemerintah dan pihak swasta untuk terus meningkatkan daya tarik sirkuit internasional di Nusa Tenggara Barat tersebut. Peningkatan volume penjualan tiket dianggap sebagai indikator utama bahwa minat masyarakat terhadap balapan kelas dunia masih sangat tinggi, meskipun tantangan logistik dan aksesibilitas masih menjadi isu klasik yang membayangi. Hal ini sejalan dengan bagaimana sport tourism di Mandalika memberikan dampak ekonomi bagi wilayah NTB.

Namun, target angka yang masif ini tentu membawa konsekuensi besar. Bukan sekadar soal mengisi kursi kosong, namun bagaimana manajemen mampu mengelola arus massa dalam jumlah besar tanpa mengorbankan standar keamanan dan kenyamanan penonton yang menjadi sorotan internasional.

Catatan Redaksi: Bedah Kritis Budi Santoso

Sebagai jurnalis investigasi yang telah lama mengamati dinamika proyek strategis nasional, saya melihat angka 145 ribu penonton ini bukan sekadar target statistik, melainkan sebuah 'perjudian' reputasi. Kita harus bertanya secara kritis: Apakah peningkatan penjualan tiket saat ini benar-benar mencerminkan kepuasan penonton, atau sekadar efek FOMO (Fear of Missing Out) dari masyarakat yang penasaran dengan kemegahan Mandalika?

Ada satu lubang besar yang sering diabaikan oleh penyelenggara: Infrastruktur Pendukung. Menjual tiket adalah hal mudah, namun mengelola 145 ribu manusia di sebuah pulau dengan keterbatasan transportasi publik yang terintegrasi adalah tantangan yang berbeda. Jika manajemen hanya fokus pada angka penjualan tanpa membenahi manajemen arus lalu lintas, kualitas sanitasi di area tribun, dan aksesibilitas menuju lokasi, maka angka 145 ribu ini justru bisa menjadi bumerang yang menciptakan kekacauan massal (chaos) yang akan mempermalukan Indonesia di mata dunia.

Lebih jauh lagi, saya mencurigai adanya kecenderungan penyelenggara untuk mengejar 'angka di atas kertas' demi memuaskan para pemangku kepentingan politik dan investor. Kita perlu melihat apakah target ini realistis secara ekonomi atau hanya sekadar kosmetik untuk menutupi biaya operasional yang membengkak. Jangan sampai kita terjebak dalam euforia angka, sementara kualitas penyelenggaraan justru menurun karena terlalu memaksakan kapasitas maksimal.

Prediksi saya, jika tidak ada terobosan radikal dalam sistem transportasi pengumpan (shuttle) dan manajemen kerumunan yang berbasis teknologi AI, target 145 ribu penonton ini hanya akan menjadi beban bagi ekosistem lokal Lombok. Penyelenggara harus berhenti bicara soal 'tren penjualan' dan mulai bicara soal 'pengalaman penonton'. Tanpa itu, MotoGP Mandalika hanya akan menjadi sirkuit megah yang kehilangan jiwanya, terjebak dalam siklus komersialisasi tanpa peningkatan kualitas yang substansial.